Pemerintah Perlu Membentuk Badan Riset Nasional

Pemerintah Perlu Membentuk Badan Riset Nasional

Menristekdikti Mohamad Nasir foto bersama dengan peraih penghargaan Sinta Award 2019, di JCC, Kamis (12/9). (Dok.Kemeristekdikti)

 

SHNet, Jakarta- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, saat ini banyak riset yang dihasilkan, namun tidak memiliki nilai tambah.

Selain itu, banyak kementerian dan lembaga yang melakukan riset dan sering tumpang tindih. Oleh sebab itu, pemerintah perlu membentuk Badan Riset Nasional.

“Badan Riset Nasional ini tugasnya mengkoordinasikan hasil-hasil riset agar tidak tumpang tindih dan lebih fokus. Hasil riset pun bisa memiliki nilai tambah,” ujarnya di sela-sela acara Sinta Award 2019, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (12/9).

Badan Riset Nasional akan melakukan koordinasi terkait riset pengembangan di beberapa lembaga dan kementerian di Indonesia. Selain itu, kementerian akan juga membuat Dewan Riset Nasional sebagai satu bagian dari Badan Riset Nasional.

“Semua yang ada di Kementerian, LPMK, Lembaga Litbang, dan Perguruan Tinggi lainnya akan dikoordinasikan dalam satu komando yaitu Badan Riset nasional. Mudah-mudahan sesuai dengan UU Sisnas Iptek. Badan Riset ini segera dibentuk Presiden,” kata Nasir.

Nasir mengatakan, sinergitas antara badan Riset dan LPMK yang sudah ada seperti LIPI, BPPT, Batan, dan lain sebagainya. Hal ini akan dilakukan agar tidak terciptaya pengulangan dan tumpang tindih riset.

Di Badan Riset Nasional nantinya ada zona seperti zona kesehatan dan obat-obatan, transportasi dan sebagainya.

Menristekdikti terus mendorong agar riset bisa dijadikan inovasi. “Saya minta Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan untuk memetakan mana riset dasar dan mana riset pengembangan. Selama ini banyak riset yang dilakukan hanya sampai riset dasar saja dan itu tidak cukup,” ungkapnya.

Riset-riset pengembangan juga perlu didorong untuk menjadi inovasi yang dapat digunakan oleh industri.

Sementara itu, publikasi ilmiah Indonesia bergerak secara eksponensial dari beberapa tahun terakhir, hingga mencapai puncaknya di pertengahan tahun 2019, Indonesia berhasil mencapai puncak jumlah publikasi tertinggi di ASEAN dalam hal publikasi ilmiah untuk tahun 2019. Ini semua membuktikan bahwa Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) serius dalam memperbaiki iklim riset Indonesia.

Menurut Nasir, salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia yakni belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan jumlah dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan. Ia menyebutkan bahwa kurang dikenalnya penelitian anak negeri di tingkat global (Internasional), antara lain diakibatkan rendahnya publikasi global para peneliti tersebut.

Menristekdikti berharap agar SINTA dapat memotivasi para peneliti untuk lebih giat menghasilkan publikasi dan perlahan dapat menghilangkan ketergantungan penggunaan sistem pengindeks publikasi dari luar negeri.

“Sistem ini masih jauh dari sempurna karena memang baru dimulai. Namun tidak akan berhenti untuk disempurnakan. Dengan SINTA diharapkan daya saing jurnal dan publikasi ilmiah dapat meningkat tajam di tahun-tahun ke depan. Publikasi ilmiah saat ini memegang peranan sangat penting sebagai bukti pertanggungjawaban ilmiah hasil penelitian sehingga dapat dikenal luas secara global,” kata Nasir.

‘World Class University (WCU)’ menempatkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator dalam melakukan pemeringkatan perguruan tinggi di seluruh dunia. Sampai tanggal 9 September 2019, publikasi ilmiah Indonesia di tingkat ASEAN untuk tahun 2018 yang telah diterbitkan jurnal Scopus sebanyak 34.007, menduduki posisi pertama diikuti oleh Malaysia sebanyak 33.286, namun publikasi untuk tahun 2019 Indonesia sementara menjadi kedua di angka 19.916 dikalahkan oleh Malaysia di angka 20.993, masih ada waktu untuk segera terus berkompetisi di Asean dan secara Global. Sementara jurnal kita terus mengalami peningkatan baik yang terakreditasi nasional maupun bereputasi Internasional.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati menjelaskan bahwa dalam kurun satu tahun SINTA telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dari sisi kuantitas dan kualitas.

“Sampai 9 September 2019 telah terdaftar lebih dari 177.000 dosen dan peneliti, 4.776 lembaga, 2.720 jurnal, 26.588 buku dan 2.543 kekayaan intelektual yang sudah masuk terindeks di Sinta berdasarkan hasil verifikasi, akreditasi dan evaluasi. Integrasi data sebelumnya dengan Google Scholar dan Scopus, ditingkatkan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk buku, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk paten dan hak cipta, serta Web of Science,” jelasnya. (Stevani Elisabeth)