Pariwisata Lebih Cepat Datangkan Devisa

Pariwisata Lebih Cepat Datangkan Devisa

SHNet, Jakarta — Sektor pariwisata lebih cepat mendatangkan devisa dibandingkan dengan sektor industri lainnya.

“ Sektor pariwisata yang bisa memperbaiki sektor pendapatan devisa kita, dan bisa menutupi defisit transaksi berjalan Indonesia, karena pariwisata lebih cepat mendatangkan devisa dibanding industri lain,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Hamid Ponco Wibowo, pada acara diskusi akselerasi bisnis inbound tour operator di Indonesia, di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (10/9).

Ia menjelaskan, triwulan II tahun 2019, defisit transaksi berjalan Rp 8,4 triliun sedangkan neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II tahun 2019 juga mengalami defisit Rp 2,0 triliun.

Dikatakan, pada tahun 2019 ini diperkirakan devisa yang diperoleh dari jumlah wisatawan mancanegara ( wisman) akan mencapai 17,6 miliar dokar AS dari 20 juta kunjungan wisman. Junlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 15,8 juta wisman.

Hamid menginginkan, agar menarik wisman ke Indonesia lebih banyak lagi agar ada peningkatan devisa Indonesia.
Sebenarnya, tambah Hamid, efek pariwisata itu sangat menyebar ke berbagai sektor ekonomi seperti, perdagangan, kerajinan, transportasi, restoran, hotel dan jasa.

“Bila pariwisata makin melebar dan meningkat, maka sektor ekonomi terkait pasti meningkat,” perasnya.
Jadi tambahnya, bila pariwisata dikelola dengan baik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2019 tercatat sebesar 5,05 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan triwulan I tahun 2019 sebesar 5,07 persen.
Sementara pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta juga mengalami perlambatan, yakni dari 6,25 persen pada triwulan I 2019 menjadi 5,71 persen pada triwulan II 2019. Perlambatan ekonomi ibu kota bersumber dari melambatnya kegiatan investasi dan ekspor.

Dipaparkan, pariwisata Indonesia bersaing dengan Jepang, China, Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Khusus pariwisata Jakarta merupakan salah satu destinasi yang paling siap untuk menyumbang devisa didukung atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang memadai.

Kepulauan Seribu dan Kawasan Kota Tua telah menjadi prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai destinasi wisata unggulan di kota Jakarta, selain destinasi lainnya yang sudah terkelola baik seperti kawasan Monas, kawasan Ancol, Taman Mini Indonesia Indah dan kawasan Gelora Bung Karno. Destinasi ke Jakarta didukung oleh masuknya hampir semua maskapai penerbangan asing ke Jakarta. Beragam event dari berbagai skala diselenggarakan setiap bulan di Jakarta.

Sementara itu, Ketua DPD ASITA DKI Jakarta, Hasiyanna S. Ashadi menjelaskan ASITA berkomitmen untuk mendukung peningkatan sektor pariwisata.

Saat ini anggota ASITA DKI Jakarta mencapai sekitar 1.400 perusahaan yang terdiri dari biro perjalanan pariwisata (BPW) dan agen perjalanan wisata (APW), namun 800 perusahaan aktif. Bahkan hanya sekitar 28 perusahaan diantaranya yang aktif dan fokus bergerak di bisnis inbound tour atau mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Bahkan di Bali, 85 persen adalah pemain bisnis inbound tour. Karena di sana paling banyak masuk wisatawan mancanegara.

Menurutnya, operator tur memiliki peran multifungsi, yakni mencakup tourist information center, advisor, travel planner atau travel designer, operasional yang menangani wisatawan selama berada di destinasi, dan customer service.

Untuk itu operator tur membutuhkan talenta-talenta pemikir dan perancang, eksekutor di lapangan, front liners pemasaran dan penjualan, dan layanan pelanggan.

Selain itu, di era digitalisasi pelaku industri pariwisata menghadapi tantangan teknologi untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Internet of things (IoT) menciptakan gelombang disrupsi dan telah mengubah cara bepergian danbagaimana bisnis pariwisata dilakukan. Cara membangun Moments of Truthdengan klien, wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara, sudah berubah.

Kemudahan, kecepatan, dan bebas hambatan menjadi bagian dari pelayanan yang tidak terpisahkan selain hospitality dan sentuhan personal (human touch). Namun demikian, hospitality dan sentuhan personal membuat industri pariwisata menjadi unik dan menarik. (Stevani Elisabeth)