Ndagldak……Ndore Kaona……Nekawe Entre Visum Untuk Memasuki Beberapa Daerah “Zaman Batu”

Perbendaharaan Baru Salam Asli Dari Indonesia

Ndagldak……Ndore Kaona……Nekawe Entre Visum Untuk Memasuki Beberapa Daerah “Zaman Batu”

(Oleh : Aristides katoppo)

Sinar Harapan – Beruntun-runtun mereka tampil, berlarian cepat, dari belakang semak-semak dikelokan jejakan sempit itu. Setiap orang memegang tumbak atau busur dan anak panah ditangan. Wajah muka masing-masing seluruhnya dibubuhi warna putih-putih dan hitam berkilauanyang mengkilap dicahaya matahari.

Beberapa saat hatiku berdebar-debar kejut, terperanjat, berjumpa dengan prajurit-prajurit suku Dani itu yang sedang mengenakan “seragam” perangnya itu. Salam sahabat kuisyaratkan dengan tangan.

“Ndagldak”, ujar pemimpin rombongan itu yang berjalan terdepan. “Ndagldak” sahutku membelikkan lidah dengan susah berusaha membunyikan suara yang tepat. Efek ucapan kata itu bukan main besar manfaatnya.

Sekejap itu juga suasana tegang yang meliputi persuaan mendadak itu, lenyap. Rasanya senjata mereka tidak digenggam begitu erat lagi.

Penghuni dataran tinggi itu menghampiri dengan perlahan-lahan. Kemudian, satu demi satu mereka lewat merangkul saya dengan tangan yang tidak ada senjata. Semuanya berbadan tegap-tegap atletis “betapa untung kita mempunyai bibit Asian Games yang demikian”, pikirku.

Setiap orang mengulangi ucapan “ndagldak” itu, kemudian mereka berlalu mempercepat langkah. “Pergi perangkah mereka ?” Entah.

Tatkala meninggalkan pos pekabaran Injil “Christian and Missionary Alliance” di Pyramid, daerah sebelah utara dataran tinggi Lembah Besar Balim, dipegunungan tengah Irian Barat, ucapan salam itu telah dipesankan kepadaku sebelum saya pergi meninjau kampung-kampung sekitar itu. “Ndagldak” itu dalam dialek setempat bukanlah suatu bunyi berkekuatan gaib artinya hanyalah “Kawan”, Kata itulah dipakai oleh orang-orang kampung sekitar Pyramid sebagai salam selamat menandakan tidak ada niat permusuhan.

Di Lembah Balim ini, ucapan sedemikian itu penting artinya sebab perang antar kampung masih merajarela hingga sekarang. Dari abad ke abad penduduk dataran tinggi ini tidak mengenal hidup yang lain.

Sengketa-sengketa mereka hingga sekarang sebagaimana lazim sejak dahulu masih tetap diselesaikan dengan panah. Dalam perang-perangan mereka jiwa manusia tidak ada harganya semua musuh yang malang terjebak, dibunuh, kakek tua, anak bayi ataupun wanita tanpa kecuali.

Setelah persuaan yang begitu dramatis mengkonfrontasikan manusia bersahaja itu, sambil berjalan terus seorang diri menuju kekampung, secara tak sadar saya tepekur merenungkan tata hidup masyarakat yang masih hidup pada tingkat adab, budaya zaman batu yang sesungguhnya.

Betapa salah persangkaan orang banyak di jakarta tentang kehidupan suku-suku primitif di daerah pedalaman itu.

Mereka memang masih hidup dalam keadaan serba telanjang, satu-satunya “pakaian” penutup aurat bagi kaum lelaki hanyalah sepotong kulit ubikayu berbentuk silindris, Wanita mengenakan cawat dari rumput atau tali yang dibuat dari kulit pohon-pohonan.

Namun demikian, watak mereka itu tidak buas atau garang kecuali mungkin dalam perang. Suku-suku primitif itu jika berselisih masih bunuh membunuh, tetapi dalam hidup sehari-hari mereka bila didekati sebagai kawan ternyata orang yang peramah tabiatnya.

Suku-suku itu terkebelakang tapi tidak liar seperti sering dibayang-bayangkan dalam film atau karangan-karangan sensasionil. Adat pemenggalan kepala dan kanibalisme seperti kabarnya kadangkala masih dipraktekan oleh beberapa suku Asmat, didaerah perawaan Agats, samasekali tidak kutemukan dikalangan suku-suku pegunungan yang hidup di lembah-lembah di pegunungan tengah yang dinaungi puncak-puncak salju.

Suku-suku pedalaman pegunungan tengah bercocok tanam dan makan batata dan keladi. Mereka pelihara ternak Babi. Dilembah Jalimo malah herannya tembakau juga ditanam.

Dalam lingkungan kampung mereka sendiri hidup rukun berkeluarga, mereka sudah kenal institut perkawinan.

Pengalamanku selama berkunjung didaerah dataran tinggi sekitar Balim ialah seorang pendatang disana tidak usah takut asal saja tahu perkataan salam setempat itu. Tapi dari satu tempat kelain tempat dialek bahasa berbeda-beda. Misalnya, disekitar Karupaka (Swart Valley), yang letaknya hanya kurang lebih 15 menit terbang dengan pesawat Czesna dari Pyramid (dua tiga hari jalan kaki menempuh terrein yang berbukit-bukit curam), ucapan salam bukan “ndagldak” melainkan “ndore” yang artinya juga sahabat. Di Bokondini, juga didataran tinggi pegunungan salju itu, salamnya ialah “Nekawe”, dilembah Maki sebelah utara Balim “Kaona”, disekitar Wamena di lembah Raja Balim “Najak” dan disekitar perlembahan Jalimo “Nare”. Dialek masing-masing berbeda dari tempat ke lain tempat.

Semua kata-kata itu artinya kawan atau sahabat, cukup sebagai entre visum untuk memasuki berbagai daerah itu dengan aman. Cuma, satu hal yang perlu diperhatikan pula oleh setiap pengunjung baru, yakni, batas-batas perang antara kampung-kampung yang sedang bermusuhan.

Beberapa kali ketika sedang berjalan kaki dari kampung kekampung, penunjuk jalan saya tidak bersedia turut melintasi suatu sungai atau menempuh daerah tertentu karena agaknya itu wilayah suku juga bermusuhan. Biasanya jika hal semacam itu terjadi perjalanan terpaksa diteruskan seorang diri hingga dicapai kampung “musuh”, dimana seorang guide yang baru dapat diperoleh. Itupun hanya sampai “batas perang” dengan kampung yang berikut, dan seterusnya. Resikonya hanyalah bahwa pengunjung itu disangka kawan sekutu dari kampung semula.