Melihat Budaya Sumba di Kampung Adat Tarung

Melihat Budaya Sumba di Kampung Adat Tarung

Melihat budaya asli Sumba di Kampung adat Tarung. (Dok. Jaka Thariq)

 

SHNet, Jakarta- Ingin melihat budaya asli Sumba, wisatawan patut kunjungi Kampung Adat Tarung di Sumba. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota.

Kampung ini bukan sekadar kampung biasa, melainkan juga berfungsi sebagai institusi sosial dan keagamaan (Marapu). Inilah salah satu potret terbaik menyentuh langsung agama Marapu di Sumba, bersama tradisinya yang tidak banyak berubah sejak masa lampau.

Ada 400 keluarga yang mendiami kampug adat Tarung. Di sini, wisatawan bisa menyaksikan rumah-rumah adat Sumba yang jumlahnya sekitar 102 rumah.

Rumah yang terdapat di Kampung Adat Tarung juga hanya berukuran sekitar 15 x 15 meter dan dihuni 3-4 keluarga untuk satu rumah. Keunikan ini menjadikan Kampung Adat Tarung layak dijadikan tempat untuk wisata budaya.

Rumah adat Sumba atau uma (rumah) merupakan bentuk bangunan adat dengan arsitektur vernacular pencakar langit. Strukturnya segi empat di atas panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu dengan kerangka utama tiang turus (kambaniru ludungu) sebanyak empat batang. Selain itu, juga ada 36 batang tiang (kambaniru) berupa struktur portal dengan sambungan pen memakai kayu mosa, kayu delomera, atau kayu masela.

Ada terdapat 3 bagian utama uma, yaitu bagian atap rumah (toko uma), ruang hunian (bei uma) dan bawah rumah (kali kabunga). Bagian atap rumah berbentuk kerucut seperti menara. Biasa bagian ini digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka. Terkadang juga di sana digunakan untuk menyimpan hasil panen.

Kampung Adat Tarung hanya dihuni oleh 400 keluarga yang terdiri dari 3 hingga 4 empat keluarha untuk setiap uma. Selain tempat tinggal, uma di Kampung Adat Tarung juga memiliki berbagai fungsi dan menyimpan benda-benda peninggalan nenek moyang.

Ruang hunian (bei uma) merupakan bagian yang tidak menyentuh tanah. Pada ruang bagian dalam dibedakan atas ruang akses untuk pria dan wanita. Ruang hunian berlantai bambu dan digunakan untuk tempat bermusyawah yang berupa beranda luas (bangga). Dan bagian terakhir adalah bawah rumah (kali kabunga). Bagian ini menjadi kandang ternak, seperti kambing, babi, atau bahkan kuda dan juga kerbau.

Selain bagian dari struktur bangunan uma sebagai tempat tinggal, ada juga bangunan adat dengan peruntukan khusus. Bangunan rumah tinggi bertingkat tempat untuk memelihara ternak kuda dan babinya di kolong rumah (uma jangga). Bangunan rumah keramat sebagai pemujaan Marapu atau roh leluhur yang tidak dipergunakan sebagai tempat tinggal (uma ndewa). Serta ada juga rumah besar tempat bermusyawarah adat (uma bukolu).

Di Kampung Adat Tarung ini juga terdapat beberapa rumah adat utama. Isi rumah adat di desa Tarung dan fungsinya masing-masing, mulai dari yaitu Uma Rato sebagai Ina Ama dan juga sebagai penunggu kedatangan Uma Tuba. Uma Mawinne (untuk menentukan bulan suci), Uma Wara (menyimpan tombak), Uma Dara (penyimpanan kuda adat), Uma Marapu (ritual Podu) dan lainnya. Setiap rumah adat atau panggung ini menyimpan berbagai macam benda serta memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing. (Stevani Elisabeth)