Keris Indonesia “Dukung” Ekonomi Rakyat

Keris Indonesia “Dukung” Ekonomi Rakyat

Sesjen Senapati Nusantara, Hasto Kristiyanto, membuka Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan bertajuk Penelitian Dampak Ekonomi dan Budaya: Pengakuan Keris Indonesia dalam Daftar ICH UNESCO, di Jakarta, Rabu (4/9). [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Setelah organisasi dari badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan keris sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) pada tahun 2008, benda pusaka asal Indonesia ini telah mendukung aktivitas perekonomian rakyat. Dukungan tersebut terlihat pada peningkatan jumlah produsen keris Indonesia di masyarakat.

Pernyataan ini mengemuka dalam Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan bertajuk Penelitian Dampak Ekonomi dan Budaya: Pengakuan Keris Indonesia dalam Daftar Intangible Cultural Heritage Badan PBB Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, The United Nations on Educational, Scientific, and Cultural Organizations (UNESCO), di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Rabu (4/9).

“Selain itu, terdapat modifikasi metode promosi yang memberikan dampak positif terhadap jangkauan pasar keris Indonesia,” demikian pernyataan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitno.

Ia memaparkan hasil penelitian tentang dampak ekonomi dan budaya pasca pendaftaran keris sebagai ICH UNESCO pada Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bentuk komitmen untuk mengimplementasi rencana aksi pelestarian warisan budaya yang diinskripsi.

Badan PBB, UNESCO, menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Intangible Cultural Heritage (ICH) pada tahun 2008. [SHNet/Ist]

Wajib Laporan Berkala
“Pemerintah Indonesia berkewajiban menyampaikan laporan berkala terkait pelaksanaan rencana aksi tersebut. Laporan tersebut harus didukung oleh informasi yang bersumber dari hasil penelitian yang dilakukan secara khusus,” ujar Totok saat membuka acara Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Selanjutnya, ujar Totok, Balitbang Kemendikbud melalui Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjak Dikbud) berkontribusi terhadap dukungan data penelitian untuk penyusunan laporan kepada UNESCO.

“Penelitian tentang keris Indonesia dan Tiga Genre Tari Bali adalah di antara topik penelitian yang melihat dampak inskripsi ini terhadap kehidupan sosial ekonomi komunitas budaya,” ujarnya.

Berdasarkan data Pusat Penelitian dan Kebijakan Kemendikbud, sebanyak sembilan Warisan Budaya Tak Benda telah masuk ke dalam daftar ICH UNESCO. Keris Indonesia telah didaftarkan pada tahun 2005, selanjutnya berubah menjadi daftar representatif pada tahun 2008.

Rencana tindak lanjut menjadi bagian pada saat proses pendaftaran Warisan Budaya Tak Benda (ICH) UNESCO, dan menjadi acuan bagi negara pendaftar sebagai upaya pelindungan pasca pendaftaran. Implementasi rencana tindak menjadi alat ukur keberhasilan negara pengusul dalam melakukan upaya pelindungan.

Pendaftaran warisan budaya tak benda merupakan wujud pemajuan kebudayaan sesuai Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Selain itu, pendaftaran ini pun sebagai bentuk kontribusi Indonesia di skala internasional, yaitu sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi UNESCO 2003: Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage pada 5 Juli 2007 melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007.

Pada sektor ekonomi, pendaftaran keris Indonesia telah memodifikasi jalur transaksi jual-beli keris dari jalur tradisional, yaitu dari penjualan di toko-toko dan pameran-pameran, menjadi penjualan melalui jalur media sosial. Dengan demikian, jangkauan promosi keris pun telah meluas dengan adanya dukungan perkembangan teknologi informasi tersebut.

Saat ini, jangkauan pasar keris meluas mulai dari lingkup dalam negeri, menjadi lingkup internasional, seperti wilayah Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam), Asia Timur, dan Eropa. Pada sisi penjual, ketersediaan keris Indonesia pun mengalami peningkatan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah pengrajin keris. di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terdapat peningkatan jumlah pengrajin keris dari sebanyak 123 pengrajin di tahun 2011 menjadi sebanyak 652 pengrajin di tahun 2018. (whm/sp)