Fataele, Tari Perang dari Nias

Fataele, Tari Perang dari Nias

Tari Fataele merupakan tari perang dari Nias. (Dok. Foto: Giri Prasetyo)

SHNet, Jakarta– Nias selama ini dikenal sebagai destinasi wisata favorit para peselancar dunia. Gulungan-gulungan ombaknya membuat mereka tergoda untuk menguji adrenalin dan sensasinya.

Tak hanya alamnya, Nias juga terkenal dengan budayanya. Loncat batu atau hombo batu, salah satu tradisi budaya masyarakat Nias yang sudah terkenal.

Selain loncat batu, Nias juga punya tarian yang terinspirasi dari perang antar suku yang terjadi pada zaman dahulu. Namanya Tari Fataele.

Berdasarkan sejarahnya, dahulu, untuk mempertahankan wilayah, setiap kepala suku berinisiatif mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih berperang.

Jenis latihan yang diberikan adalah latihan untuk kekuatan fisik dengan melompati tumpukan batu setinggi dua meter dan peragaan alat perang. Setiap pemuda yang berhasil melewati latihan tersebut dengan baik, maka mereka dianggap mampu menjadi prajurit perang.

Untuk merayakan kelulusan pemuda dari ujian latihan tersebut, kepala suku mengadakan pesta dengan memotong babi ternak, dan mengumumkan kepada seluruh warga bahwa pasukan perang sudah terbentuk dengan pertunjukkan Tari Fataele atau tari perang ini.

Tari perang dilakukan dengan membentuk formasi segi empat memanjang dan dipimpin oleh komando perang. Sebagaimana strategi perang pada umumnya, pemimpin perang akan memberikan aba-aba kepada prajurit lainnya apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Tari Fataele dimulai dengan hentakan kaki pada tanah secara serentak sehingga menghasilkan bunyi dan lantunan kata-kata secara kompak sebagai simbol persatuan yang sangat dijunjung tinggi masyarakat Nias.

Dalam tarian ini, penari memakai pakaian khas Nias, yang terdiri dari warna hitam, kuning, dan merah, serta dilengkapi dengan mahkota di kepala penari. Layaknya prajurit perang, para penari juga membawa tameng, pedang, dan tombak sebagai wujud alat pertahanan dari serangan musuh.

Konon, senjata tersebut merupakan senjata utama yang digunakan prajurit Nias untuk berperang. Selama tarian berlangsung, musik tradisional Nias akan menjadi pengiring tarian dari awal hingga akhir.

Gerakan tari Fataele sangat dinamis. Hentakan kaki penari yang diiringi musik tradisional, serta gerakan mengayunkan pedang dan tombak menggambarkan semangat para prajurit dalam mempertahankan wilayah mereka dari serangan musuh.

Selain itu, suara-suara dari sang penari merupakan ekspresi ketangkasan dan kepahlawanan mereka sebagai seorang prajurit.

Hingga saat ini, tari Fataele sering dipertunjukkan untuk upacara penyambutan tamu-tamu besar dan ditampilkan pada acara adat tertentu saja. Selain itu, tarian ini juga diadakan pada festival-festival budaya di Pulau Nias. (Stevani Elisabeth)