Desa Manis Mata Tempatnya Batu Kecubung

Desa Manis Mata Tempatnya Batu Kecubung

SHNet,  Jakarta – Kecamatan  Manis Mata merupakan kecamatan di Kabupaten Ketapang yang terletak paling timur dan berbatasan dengan Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah.
Dulunya daerah ini terisolir akan tetapi kini sudah berkembang pesat layaknya kota moderen setelah menjadi salah satu daerah perkebunan sawit yang utama di Kabupaten Ketapang.
Sejak lama, lima puluh atau enam puluh tahun silam, Manis Mata sudah dikenal sebagai daerah penghasil “batu kecubung”. Kini, nama Manis Mata kembali mencuat seiring maraknya perdagangan batu mulia di Indonesia.
Dari kecamatan ini pula sejumlah nama batu kecubung  yang berwarna ungu hadir menjadi batu mulia berkelas. Apalagi konon kadar kekerasan batu yang dihasilkan di daerah ini tergolong tinggi.
Mantan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang Yudo sudarto mengatakan, kecamatan ini memang sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil batu mulia.
Salah satunya dapat dilihat di Museum Purnayudha TMII Jakarta, ada hadiah untuk Presiden Soeharto berupa batu mulia sebesar baskom dengan warna ungu dan ada warna sisik ular phyton.
“Mudah-mudahan masih ada. Batu mulia ini di Kabupaten Ketapang bernama kecubung.  Karena itu masyarakat daerah ini sering menganalogikan kecubung sbagai gadis atau pacar,” kata Yudo Sudarto.
Sehingga bagi warga setempat, kalau ada orang hendak mencari pacar, disebu mencari kecubung. Meski semula dikenal berwarna ungu sesuai namanya, kini pencarian semakin bervariatif. Tak hanya batu kecubung yang berwarna ungu yang dicari. Warna biru laut harganya bisa mencapai puluhan juta rupiaah, diatas harga batu kecubung.
Jenis lain yang cukup banyak adalah warna kristal putih, kuning bensin, madu, hitam. Salah satu desa penghasil kecubung di Kecamatan Manis Mata, yaitu Dusun Tarahan, Desa Ratu Elok.
Nisa (35) salah satu warga desa mengaku, dulu hanya ada empat atau lima orang pengrajin saja, itu pun di kalangan orang tua saja. Tetapi sekarang ada ratusan pengrajin, hampir semua warga dan usia mulai anak kecil hingga usia lanjut, ada yang menjadi pengrajin kecubung.
Fenomena “gila batu mulia”  ini menjadi berkah tersendiri bagi warga.  Apalagi sekarang  perekonomian lagi sulit, penambangan emas liar semakin tersudut oleh lokasi kelapa sawit, harga sembako mahal.
Adanya bisnis batu mulia ini memberi pengharapan bagi warga. Hanya mereka menginginkan perhatian dari pemerintah daerah, untuk dapat ikut andil, karena kalau tidak banyak warga yang gigit jari karena banyak pekerja luar yang berdatangan ke negeri kecubung ini. (maya)