Atasi Stunting, KPAI Sampaikan Standing Position di UI

Atasi Stunting, KPAI Sampaikan Standing Position di UI

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hari ini menyampaikan standing position terkait penanganan kasus stunting yang dilakukan lintas sektor di Indonesia. Sitty Hikmawati, komisioner KPAI mengatakan standing position tersebut disampaikan di Universitas Indonesia, Jum’at (20/9) sebagai tindak lanjut KPAI dalam mengatasi persoalan gizi buruk di Indonesia.
Disampaikan Sitty, kasus-kasus gizi buruk bukanlah masalah kesehatan biasa, namun sudah masuk ke ranah HAM. “Kita bisa sebut ada kejahatan kemanusiaan dalam masalah gizi buruk, karena jika seorang anak terkena stunting atau gizi buruk, dan tidak segera ditangani maka fungsi tumbuh kembangnya akan terganggu. Hak-hak sebagai anak akan terabaikan,” jelas Sitty.
Lebih lanjut, Sitty mengharapkan stunting harus dipandang sebagai sesuatu yang extraordinary, sehingga penanganannya pun harus extraordinary. Kerjasama lintas sektor jelas diperlukan. Seperti kasus stunting di Sulawesi Barat yang saat ini menjadi perhatian KPAI. “Ada tiga anak dalam satu keluarga yang saat ini terdeteksi stunting yang penanganannya tidak hanya oleh Dinkes, namun juga Dinas sosial,” jelas Sitty.
Ia menegaskan, penyelesaian persoalan gizi pada anak tidak cukup hanya sebatas pemberian makanan tambahan (PMT). Yang tak kalah penting adalah bagaimana menjaga asupan gizi anak dimasa mendatangnya dapat tercukupi. “Dalam hal ini, persoalan ekonomi keluarga juga harus diatasi, sehingga kita butuh dinas sosial. Lalu bagaimana aspek pengetahuan keluarga, sehingga kita butuh perhatian dari banyak pihak,” jeas Sitty.
Demikian juga untuk kasus-kasus gizi akibat pola konsumsi yang salah. Kasus anak stunting akibat konsumsi SKM di Kendari dan Batam misalnya. Atau yang baru-baru ini ditemukan bayi 6 bulan mengkonsumsi kopi sebagai pengganti susu. Sitty mengharapkan Dinas Kesehatan setempat segera melakukan pertolongan apabila menemukan laporan seperti ini.
“Mungkin untuk saat ini, anak memang tidak akan keracunan. Namun kedepannya, anak dapat mengalami stunting. Ini yang namanya mengorbankan tumbuh kembang anak,” ungkap Sitty. Ia menjelaskan, saat hormon pada tubuh anak hanya mampu mencerna laktosa, namun dengan pemberian SKM atau kopi yang mengandung gula (glukosa), tubuh secara otomatis akan melakukan normalisasi. Horman yang seharusnya berfungsi sebagai tumbuh kembang akhirnya hanya sekedar untuk pencernaan.
Karena itu, mengantisipasi berulangnya asupan-asupan yang salah untuk anak, KPAI berharap pada Pemerintah daerah, Dinas Kesehatahn dan Dinas Sosial setempat untuk memberikan support dan penanganan segera.