Soal Lirik Lagu, KPAI Memilih Bicara dengan Penulisnya

Soal Lirik Lagu, KPAI Memilih Bicara dengan Penulisnya

Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti dan penulis lagu “Lha Bodo Amat” Yong Lex. [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan memilih berbicara dengan Yong Lex, penulis lagu “Lha Bodo Amat”. Retno mengajak bicara Yong Lex karena di dalam syair lagu yang ditulis anak muda ini terdapat kata “bacot”, yang dianggap kasar oleh sebagian kalangan.

“Saat membaca keberatan atas lagu Young Lex yang baru dirilis dengan judul ‘Lha Bodo Amat’, saya mencoba membaca liriknya perlahan. Saya ulang berkali-kali. Lalu, saya menyaksikan videonya melalui Youtube sekitar 10 kali. Setelah itu, saya mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp ke Young Lex. Saya menyatakan ingin bertemu untuk mendiskusikan lagu tersebut. Lex langsung setuju dan esok harinya kami janjian bertemu,” kata Retno dalam keterangannya kepada media, Jumat (9/8).

Retno menyebutkan bahwa meski keberatan dengan penggunaan istilah “bacot” dalam lagu “Lha Bodo Amat”, tapi dirinya tidak mau begitu saja menghakim Yong Lex.

“Saya tetap memilih bertemu Yong Lex di kantornya pada Kamis (8/8) sore, untuk mendengar sendiri penjelasannya atas penggunaan kata itu. Kita harus bersikap adil terhadap penulis lagunya, karena sebagai karya seni tentu makna kata yang digunakan kerap kali memiliki makna tersendiri bagi penulisnya. Sebenarnya, saya datang bukan sebagai Komisioner KPAI, melainkan sebagai teman. Walau baju ‘komisioner’ sulit dilepaskan dari saya,” kata Retno.

Hanya Sampai Desember 2019
Retno menuturkan bahwa sebenarnya, dirinya dan Yong Lex telah saling mengenal sejak sekitar tahun 2018. Saat itu, Retno dan Yong Lex pernah bekerja bareng cukup lama saat mengkampaye stop bullying di berbagai sekolah di beberapa kota/kabupaten.

“Kami beberapa kali berkontak melalui media sosial. Saya mengenalnya sebagai pribadi yang ceplas-ceplos, apa adanya, tidak jaim dan kritis. Sepanjang mengenalnya, Lex selalu bersikap hormat terhadap saya,” kata Retno.

Saat Retno menanyakan kata “bacot” dalam lagunya, meskipun kata bacot hanya sedikit digunakan, Yong Lex menjelaskan bahwa kata “bacot” di lagunya menggambarkan orang yang nyinyir. Kalau “bodo amat” maknanya cuek.

“Orang mau nyinyiran apa saja ‘gak gue pikirin’, kira-kira begitu,” kata Retno mengutip penjelasan Yong Lex.

“Tapi tetap saja itu kasar dan jadi kontraversi Lex, lain kali kamu harus hati-hati juga kalau pilih lirik di lagumu. Norma itu ukurannya ya pandangan masyarakat setempat. Misalnya, hidup bersama tanpa menikah di Amerika Serikat mungkin tidak dipermasalahkan, tapi kalau itu dilakukan di Indonesia pastilah melanggar norma. Jadi kalau memilih lirik di masyarakat kita harus yang bisa diterima umum,” kata Retno.

“Terimakasih Bu masukannya. Saya buat lagu yang mungkin rada nyeleneh dan berpotensi kontroversi rencananya hanya sampai Desember 2019 ini Bu. Pada 2020 saya akan mengganti gaya lagu saya,” jawab Yong Lex.

Ia menjelaskan bahwa maksud lirik Lha Bodo Amat adalah kita tidak perlu mendengarkan omongan orang yang negatif dan yang kadang mencoba “membunuh” mimpi besar kita dengan cara meremehkan kita.

“Jadi semua suara negatif itu dicuekin aja. Kita fokus pada tujuan dan mimpi besar kita. Makanya ada kata ‘bodo amat’,” kata Yong Lex.

Tri Pusat Pendidikan
Yong Lex menjelaskan bahwa fansnya adalah kalangan dewasa, walaupun ada juga yang anak-anak.

“Data yang usia anak (13-17 tahun) sekitar 13.5% menurut data Youtube,” kata Yong Lex menunjukkan kepada Retno data tersebut di layar ponselnya.

Saat Retno menanyakan anak-anak dalam video, Yong Lex menyatakan bahwa keberadaan mereka tidak disengaja. Pasalnya, anak-anak yang ada di video adalah mereka yang mendekat dan akhirnya ikutan syuting.

Soal lagunya yang telah dilaporkan ke Youtube oleh Kemenkominfo, Yong Lex menyatakan pasrah dan akan menerima konsekuensinya apabila dianggap melanggar ketentuan. Ia juga menyatakan setelah menghadapi masalah ini, dirinya akan terus berkarya.

“Lalu kami diskusi soal pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yang terdiri atas tiga pusat atau ‘Tri Pusat Pendidikan’,” kata Retno.

Retno menjelaskan, pendidikan di lingkungan keluarga merupakan pendidikan “utama” dan “pertama” untuk menanamkan karakter pada anak. Lalu ketika anak memasuki dunia sekolah, maka pendidikan kedua adalah pendidikan di lingkungan sekolah. Adapun pendidikan yang ketiga adalah di lingkungan masyarakat.

“Pengaruh media sosial dan internet merupakan bagian pendidikan masyarakat. Ketiganya saling kait mengait dan dapat membentuk karakter seorang anak,” kata Retno.

Namun, kata Retno, ketika karakter anak kuat sejak pendidikan dini di rumah, maka pengaruh di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat akan membuatnya dapat memilih dan memilah mana yang baik, mana yang buruk.

“Konsep diri yang positif akan sangat membantu anak menangkal pengaruh buruk. Di sinilah penting pola asuh positif dari orang tua,” kata Retno. (whm/sp)