Peran BUMDes Bersatu Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Wates

Peran BUMDes Bersatu Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Wates

SHNet, Jakarta – Kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang terbatas dan kompetensi rendah serta belum optimalnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) secara baik, terarah dan sustainable menjadi masalah bagi potensi yang dimiliki sebuah desa.

Perlu terobosan yang dilakukan pemerintah desa serta kepedulian pemerintah daerah atau pun pusat untuk meningkatkan hal-hal tersebut dan mengembangkan potensi yang ada. Desa Wates Kecamatan Way Ratai adalah salah satunya. Masuk sebagai desa unggulan dalam Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Regional 2019, desa yang terletak di Kabupaten Pesawaran, Lampung ini punya cerita yang menarik dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Desa ini dulunya merupakan perkebunan karet milik PT Karko Cultura Pratama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan khususnya tanaman karet dan kopi pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Dengan luas wilayah 1.340 Ha, separuhnya yakni 586 Ha per meter persegi merupakan lahan persawahan plus 162 Ha/m2 adalah tanah perkebunan. Otomatis sebagian pekerjaan masyarakatnya adalah petani dan pekebun.

Water Boom yang sedang dibangun kerjasama antara BUMDes Wates Way Ratai dengan pihak ketiga

Tapi ada potensi lain yang dimiliki oleh desa Wates ini yakni letaknya yang berada di lokasi ibukota Kecamatan Way Ratai, berusaha dimaksimalkan oleh pemerintah desa untuk meningkatkan perekonomian rakyatnya. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) beragam inovasi dkembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desanya.

BUMDes yang diberi nama Bersatu itu mengembangkan beberapa unit usaha yang dikelolanya antara lain unit usaha pertanian, peternakan dan perikanan. Lalu pengelolaan Pasar Desa serta pemberian kredit usaha / simpan pinjam kepada para pedagang pasar sehingga lewat beragam unit usaha tersebut mampu memberikan pemasukan asli desa sebesar 100.600.000.

Pasar Kluwih di Way Ratai merupakan pasar yang sangat ramai karena letaknya di ibukota kecamatan tersebut, sementara di Kecamatan Way Ratai ada 10 desa, jadi keramaian dari para pedagang yang menjual hasil buminya dan aneka barang yang perjual-belikan serta pembelinya pasti terlihat padat.

Andes Irawan

“BUMDes baru ada tahun 2017, ada usaha-usaha BUMDes yang bekerjasama dengan pasar tidak cukup 8 bulan tapi perlu waktu setahun lebih untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan BUMDes di pasar barulah kesinkronan terjadi dengan aturan yang kami terapkan,” jelas Andes Irawan, Kepala Desa Wates.

Selain beragam usaha tersebut di atas Badan Usaha Milik Desa “Bersatu” ini juga bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengelola unit usaha Water Boom yang tentunya hasil dari pengelolaan kolam renang besar tersebut dapat meningkatkan PADes mereka serta mempersiapkan tempatnya sebagai objek wisata.

Satu lagi potensi wisata di Desa Wates ini adalah wisata alam Air Terjun Sentul Jaya yang akan dikembangkan dengan potensi wisata lainnya di Way Ratai lewat Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kecamatan Way Ratai. Mereka akan menggali dan mengembangkan potensi yang ada di wilayah setempat. Selain Desa Wates dengan Air Terjun Sentul Jaya-nya beberapa desa lain di Kecamatan Way Ratai ini juga memiliki potensi wisata alam yang serupa seperti Desa Gunungrejo, Desa Harapan Jaya dan Desa Ceringin Asri.

Desa Wates juga punya potensi mahal yang belum digarap secara maksimal, yaitu Kerajinan batu fosil, kerajinan bonsai dan budidaya tanaman anggrek.

Peluang usaha budidaya tanaman anggrek di Indonesia terbilang sangat menjanjikan. Pasalnya bunga anggrek menjadi primadona tanaman hias terbaik di Indonesia. Sekitar 25 persen spesies tanaman hias anggrek dunia berada di Indonesia dan lebih dari 700 spesies anggrek dipunyai Indonesia, bahkan sekitar 90 persen induk-induk silangan anggrek yang paling digemari dan dikomersilkan berasal dari Indonesia.

Di Desa Wates anggrek dikelola oleh kelompok KWT sehingga menjadi ciri khas kampung anggrek dan menjadi produk unggulan desa dan menyumbang PADes.

Demikian juga dengan kerajinan tanaman bonsai, punya nilai jual yang tinggi. Harga tersebut dipengaruhi dengan potensi pertumbuhan apakah akan menjadi tanaman bonsai yang unik dan menarik atau tidak apabila Anda membelinya dari bibit. Tanaman tersebut bisa berharga jutaan rupiah apabila tanaman bonsainya merupakan tanaman yang sudah jadi dengan bentuk akar dan batang yang menarik. Pelestarian bonsai di Desa Wates selain menjadi pemasukan bagi PADes, kerajinan tersebut di kelola oleh kelompok sai waway sebagai wadah kreatifitas pemuda sehingga dapat menekan kenakalan remaja dan narkoba.

Sementara kerajinan fosil batu dan kayu punya prospek yang cerah untuk mendulang uang bagi masyarakat karena masih sedikit yang mengusahakannya. Sedangkan di Desa Wates mereka punya ribuan kubik batu tersebut. Nilai seni, antik, unik, dan mewah bila diolah menjadi pajangan, mebel, bahkan perhiasan organik tentu menjadi pendapatan yang menggiurkan bagi warga desanya. Fosil yang dulunya hanya berbentuk bongkahan batu besar dijual per kilogram bisa Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu bisa disulap menjadi barang antik bernilai ratusan juta rupiah. Bahkan, harganya bisa mencapai Rp 1 miliar. Ini tentu bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi warga Wates serta menyumbang PADes.

“Ke depannya dengan banyaknya potensi diharapkan membuat kegiatan-kegiatan yang melibatkan peningkatan sumber daya manusia, karena pelaku aktifnya adalah aparat desa dan masyarakat desa itu sendiri,” kata Arumnigtyas, salah satu juri yang hadir.

“Kemudian dengan adanya 3 produk unggulan; batu fosil, bonsai dan anggrek. Ini adalah bahan baku yang mahal tapi harus dipikirkan juga bagaimana kita bisa mengemas dan memanfaatkannya sehingga potensinya bisa dimaksimalkan,” tambah perwakilan dari Bappennas itu.

Peran Pemda Kabupaten Pesawaran tentu tidak bisa dikecilkan, lewat bupati Pesawaran mereka memberi bantuan melalui program GADIS dan BUJANG.
Gerakan Desa Ikut Sejahtera (GADIS) merupakan program bantuan keuangan sebagai Kebijakan unggulan Kabupaten Pesawaran untuk meningkatkan Desa Tangguh dan Mandiri melalui penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Sedangkan BUMDes Jejama Berkembang (BUJANG) ini akan dilaksanakan jika pengelolaan BUMDes yang telah disuport oleh program GaDIS telah berkembang. Dimana, pemerintah Kabupaten Pesawaran akan melakukan penilaian terhadap pengelolaan BUMDes disetiap desa yang nantinya akan diberikan reward oleh pemerintah daerah setempat terhadap BUMDes yang dapat melakukan pengeloaan denga baik dan berkembang. Dan jika semua potensi tersebut sudah bisa maksimal dan hasilnya dinikmati oleh masyarakat Desa Wates, maka visi Terwujudnya Masyarakat Desa Wates Way Ratai yang Pioner, Mandiri Maju dan Sejahtera pasti tercapai.

“Kalau harapan kami, bisa menjadi nomer satu, sehingga ke depan Desa Wates Way Ratai bisa semakin maju dan berkembang. Masyarakatnya pun semakin Sehat, Aman dan Tentram,” kata Andes Irawan. (*/HNP)