Memoles Wisata Alam di Jawa Timur

Memoles Wisata Alam di Jawa Timur

Jika diibaratkan sebagai gadis, Indonesia adalah gadis cantik yang masih belum banyak polesan. Kecantika nya masih alami, belum banyak polesan.

Indonesia memiliki pemandangan alam bagus, ragam budaya, dan kearifan lokal. Jika dikemas dengan baik akan menjadi obyek wisata yang bagus dan menarik minat para wisatawan.

Namun sayangnya, selama ini, hanya wisata alam yang digunakan sebagai satu-satunya daya tarik wisatawan. Salah satunya adalah wisata di Jawa Timur.

Sejauh ini wisata di provinsi itu, di dominasi oleh wisata alam yang dijadikan faktor untuk menarik kedatangan wisatawan. Sementara itu, atraksi wisata belum sepenuhnya dimaksimalkan dan aktivitas wisatawan yang ditawarkan masih minim. Ada beberapa tantangan yang harus dijawab untul mengembangkan wisata di Jatim.

Hal ini terlihat dari jawaban kuisoner yang disebarkan Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) saat menghadiri Rapat koordinasi wisata alam Jawa Timur tahun 2019 di Kota Malang. Acara ini diselenggarakan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dan Asidewi menjadi salah satu nara sumber yang diundang untuk memberikan masukan.

Hampir keseluruhan perwakilan dari Kabupaten dan Kota hadir, diantaranya adalah Kabupaten Malang, Kabupaten Bojonegoro, Kota Pasuruan, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Sampang, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Madiun, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Blitar, Kabupaten Magetan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Gersik, Kabupaten Trenggalek, Kota Batu, Kabupaten Kediri, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Lumajang.

Di Jatim, flora dan fauna serta aliran sungai sebenarnya dapat dikemas menjadi atraksi wisata yang dapat menarik minat kunjungan wisatawan. Oleh karena itu, adanya tawaran aktivitas yang dapat dipilih sesuai perminatan wisatawan, seperti melakukan olahraga dan mengamati flora fauna di habitatnya.

Tantangan lainnya dalam mengembangkan wisata alam adalah perilaku negatif wisatawan yang bisa merusak keberlanjutan wisata alam. Perilaku itu antara lain, vandalisme, mengganggu satwa, merusak tumbuhan, dan lain sebagainya.

Hal ini menjadi pertimbangan yang harus diperhatikan oleh pengelola dengan dukungan dari pemangku kepentingan untuk meminimalkan dampak negatif.

Jaminan keselamatan, edukasi, tersedianya aksesbilitas yang mudah dikases, sarana prasarana pendukung, terjaganya kebersihan, penerapan sapta pesona, dan pelayanan maksimal perlu ditingkatkan oleh pengelola. Sebab, produk wisata merupakan gabungan dari produk dan pelayanan kepada wisatawan.

Jenis wisata alam memiliki nilai yang harusnya dapat memberikan niai lebih kepada wisatawan. Pengelola perlu menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dengan cara menambah wawasan wisatawan untuk menghargai alam.

Konsep keberlanjutan adalah keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan ekonomi. Dari sisi manusia, masyarakat lokal perlu dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan melalui perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Saat ini, masyarakat lokal telah terlibat langsung dalam pengelolaan wisata alam, tetapi masih pasif. Kondisi wisata alam di Jawa Timur secara eksisting dikelola oleh pemerintah dan swasta, contohnya oleh Taman Nasional dan Perum Perhutani.

Secara kemauan dan kemampuan masyarakat lokal telah menunjukkan nilai diatas rat-rata, sehingga tahapan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan sumberdaya yang ada melalui peningkatan modal. Modal yang diperlikan tidak hanya finansial, akan tetapi ada modal lainnya. Modal tersbut diantaranya adalah modal sosial, modal fisik, modal alam, dan modal manusia.

Dari sisi lingkungan, perlu meminimalkan dampak negatif lingkungan melalui penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan, membatasi jumlah kunjungan wisatawan dengan menyesuaikan luas wilayah wisata alam, pengelolaan limbah sampah hingga pengaturan kebutuhan air.

Adapun dari sisi ekonomi, keberadaan wisata alam mampu memberikan dampak positif berupa penambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar, peluang pekerjaan bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan, dan meningkatnya perputaran ekonomi di lingkungan sekitar wisata alam.

Lima Pemangku Kepentingan
Model pentahelix dalam pengembangan wisata adalah keterlibatan lima pemangku kepentingan, diantaranya adalah akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

Keterlibatan akademisi dan bisnis masih rendah dibandingkan dengan komunitas, pemerintah dan media. Hal ini menunjukkan bahwa peran masing-masing stakeholders perlu ditingkatkan untuk secara bersama mengembangkan wisata alam. Jika keterlibatan akademisi dan bisnis masih rendah maka wisata alam dengan konsep dan dukungan dari swasta masih rendah.

Akademisi mempunyai peran untuk memberikan gambaran mengenai konsep-konsep pengelolaan melalui penelitian-peneilitian dengan pendekatan intelektual. Bisnis memiliki peran untuk akselerasi percepatan pengembangan wisata alam melalui dukungan-dukungan seperti modal melalui CSR, kebutuhan teknologi yang maju, hingga transfer manajemen pengelolaan yang sistematis.

Hal ini juga dapat menunjukkan kebalikan bahwa akademisi dan bisnis perkembangannya lebih cepat dibandingkan dengan komunitas, pemerintah dan media. Keterlibatan masing-masing stakeholders jika nilainya menunjukkan keseimbangan antara satu dengan lainnya menunjukkan bahwa pengembangan wisata alam di Jawa Timur telah maksimal.

Dengan kesadaran masing-masing stakeholders untuk membagi peran dan fungsi sehingga batasan-batasan antara stakeholders dapat dilalui. Tantangan lainnya adalah ego di masing-masing sehingga masing-masing stakeholders berjalan sendiri-sendiri. Sangat penting untuk melakukan kolaborasi mengembangkan wisata alam.

Penulis :
Andi Yuwono dan Muhammad Irsyad dari Asidewi