Mau Berubah Demi Cibulan Bersinar

Mau Berubah Demi Cibulan Bersinar

SHNet, Jakarta – Sebuah perubahan hanya bisa berhasil jika didukung oleh semua pihak terutama oleh masyarakat di sekitarnya yang merasakan langsung dampak perubahan tersebut. Kesatuan antara penduduk, sumber daya alam, dan organisasi kelembagaan desa menjadi bagian paling utama dalam menentukan keberhasilan program pembangunan suatu desa, dan masyarakat merupakan sentral pembangunan karena dari masyarakat dan oleh masyarakatlah proses pembangunan dapat dilaksanakan.

Itulah kira-kira hal menarik yang bisa dipetik dari cerita salah satu desa unggulan berpenduduk 3.066 jiwa yang mewakili Jawa Barat dalam Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Regional Tahun 2019 yang diselenggarakan Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, yakni Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan.

Iwan Gunawan, S. IP

Masuk di wilayah regional II, Desa Cibulan dulu pernah dikenal sebagai salah satu sentra galian pasir dan itu menjadi penghasilan terbesar desa mereka. Selama 18 tahun dieksploitasi akhirnya sekitar 512 Ha lahan di Cibulan rusak sehingga harus dicari cara bagaimana untuk menyelamatkan kerusakan alamnya.

Langkah yang diambil termasuk luarbiasa, pemdes Cibulan menghentikan perizinan tambang pasir seluas 50 Hektar, yang dirubah menjadi arel lahan pertanian kedelai.

Padahal dari tambang pasir tersebut sebelumnya pemdes Cibulan mempunyai pemasukan yang besar beratus-ratus juta, tapi imbasnya lingkungan hidup di sebagian wilayah mereka menjadi rusak dan perubahan yang dilakukan berimplikasi terhadap Pemasukan Asli Desa (PADes) mereka.

“Di periode-periode sebelumnya sebelum ada dana desa, pemasukan desa bersumber dari galian pasir dan uangnya bisa untuk membangun gedung serba guna dua lantai,” jelas Kuwu atau Kepala Desa Cibulan, Iwan Gunawan, S.IP.

“Ketika galian pasir sudah habis dan mendekati wilayah pemukiman saya mengambil sikap, kehilangan PADes tapi menyelamatkan orang banyak, menyelamatkan masyarakat yang lebih luas bagi anak cucu kita. Dengan semangat gotong royong bersama rekan-rekan di BangDa (Ditjen Pembangunan Daerah) kita hanya mendapatkan PAdes dari mengusahakan tanah-tanah khas desa yang selama ini dikerjasamakan dengan pihak ketiga, apakah itu untuk penanaman tebu, atau untuk penanaman padi,” jelas Kades yang baru menjabat selama dua puluh bulan itu.

Inilah yang sempat membuat heran para juri lomba Desa dan Kelurahan yang mendengar paparan sang Kepala Desa Cibulan karena data-data yang diuraikan sulit untuk dimengerti jika tidak dijelaskan lebih jauh. Berdasarkan tipologinya desa ini adalah desa pertanian, lalu dari mana mereka bisa mendapatkan uang untuk pembangunan desanya?

“Saya hanya ingin memastikan saja itu jumlah PADesnya memang 30 juta? Lalu sebelumnya berapa jumlah PADes dari galian pasir?” tanya Dr. Drs. Imran, M.Si., M.A, Direktur Fasilitasi Pengembangan Kapasitas Aparatur Desa, Ditjen Bina Pemerintahan Desa, yang dibenarkan oleh sang Kepala Desa.

Ternyata angkanya sangat jauh, yakni dari 800 juta sewaktu masih mengandalkan galian pasir hingga menjadi 30 juta saja saat kegiatan itu dihentikan.

Satu titik galian pasir itu seharga 5 juta/bulan dan ada 8 titik galian pasir yang ada di Desa Cibulan. Sebuah langkah perubahan yang memang mahal tapi harus diambil demi masa depan masyarakat desanya.

Salah satu prioritas Iwan Gunawan saat menjabat sebagai Kades Cibulan adalah memperbaiki kondisi kerusakan alam yang terjadi dan mengganti lahan yang rusak akibat galian pasir dengan menanam kedelai yang menjadi komoditas utama di Kabupaten Kuningan dan ini menjadi modal dasar untuk membangun Desa Cibulan kembali.

Kades Cibulan, Iwan Gunawan bersama Plt Bupati Kuningan, Dede Sembada , didampingi Plt Kadistanakan , H . Dodi Nurochmatuddin , melakukan panen raya perdana kedelai di Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan

Kemudian masalah kewenangan asal-usul pengelolaan tanah galian pasir, pemdes Cibulan punya kewenangan mengelola lahan tersebut yang dimiliki masyarakat serta perusahaan.

“Kewenangan kami untuk mengelola tanah ini adalah untuk mengelola kedelai, uangnya dari mana? Kami mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian berupa bibit, pupuk, dan urea. Selain itu kami mengalokasikan anggaran dana desa sebesar 75 juta untuk 75 Ha.

Sosialisasi lewat media-media juga coba dilakukan untuk mendapatkan perhatian pemerintah pusat, hingga Kementerian Pertanian dan Kantor Staf Kepresidenan akhirnya melirik ke daerah ini.

Di tahun 2018 dengan model pendekatan yang dilakukan, Desa Cibulan mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian senilai 3,4 miliar rupiah, berupa mesin-mesin pertanian, pengembangan konsep pertanian terbaru, seperti pembangunan embung, pembangunan setu, dan lainnya.

“Yang tadinya masyarakat itu mengangkut hasil panen butuh 500 ribu per sekali angkut sekarang hanya 50 ribu untuk 1 X angkut hasil panen yang tentunya sangat membantu masyarakat Desa Cibulan,” jelas Iwan Gunawan.

Dalam pembangunan Desa Cibulan, pemerintah desa mencoba mengajak seluruh unsur lapisan masyarakat termasuk para ibu-ibu PKK dengan membuatkan kartu anggota yang bertujuan memotivasi PKK bahwa mereka diakui keberadaannya dalam pembangunan tersebut. Lewat terobosan tersebut anggota masyarakatnya diajak untuk mandiri dalam mengelola keperluannya namun juga memfasilitasi kesehatan warganya untuk berobat gratis di Puskesmas Cidahu.

Salah satu keberhasilan pemberdayaan masyarakatnya adalah kreatifitas ibu-ibu PKK dalam menggelola kacang kedelai menjadi makanan unik dan menarik untuk di sajikan seperti, Dodol, Donat, Naget, Kacang Goreng kedelai, Tahu, Tempe Non CMO sehingga menjadi Produk unggulan desa seluas 687.124Hektar tersebut.

Desa Cibulan yang resmi berdiri pada tahun 1982 telah berubah dengan mengubah bekas galian pasir menjadi lahan produktif, membuat terobosan lahan tersebut menjadi lahan kedelai yang sudah terpanen sebanyak 24 ton kedelai pada musim panen. Kini masyarakatnya bisa kembali bersinar dalam membangun desa mereka. Sesuai visi desa tersebut, Cibulan BERSINAR, Bersih, Sehat, Indah, Agamis, dan Raharja di tahun 2023. (* /HNP)