Kobo Kecil-Kotamobagu Pewaris Filosofi Lesung

Kobo Kecil-Kotamobagu Pewaris Filosofi Lesung

SHNet – Sebelum dunia mengenal mesin giling padi, cara memisahkan kulit gabah/sekam dari beras adalah dengan menumbuk. Menumbuk dengan menggunakan lesung dan alu. Menguras tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Lesung dan alu adalah adalah peralatan peradaban tradisional yang tergolong tua. Lesung terbuat dari kayu. Ukurannya macam-macam. Ada yang kecil dan memanjang seperti perahu. Lebarnya hanya setengah meter, dengan bagian tengah yang cekung dengan kedalaman 30-40 cm.

Ada juga model lesung yang tegak, berdiri dengan diameter sekitar 30 cm. di tengah bagian atas terdapat lubang cekung dengan diameter sekitar 10 cm dengan kedalaman 20 cm. Yaa, lesung adalah wadah cekung itu. Gabah yang akan diolah disimpan pada lubang cekung tersebut, lalu ditumbuh dengan alu. Alu adalah tongkat bulat dan tebal, terbuat dari kayu yang keras. Panjangnya hingga dua meter. Alu ditumbukan pada gabah yang ada di cekung lesung. Beras akan terpisah dari sekamnya karena benturan alu dan lesung.

Nah, Desa Kobo Kecil, Kotamobagu, Sulawesi Utara adalah desa pengembang usaha lesung saat ini. Di desa ini, lesung menjadi salah satu kerajinan yang bisa mendatangkan penghasilan. BUMDes Kobo Kecil bergerak di kerajinan yang satu ini.

Namun, di Kobo Kecil kerajinan lesung tak hanya dari kayu, tetapi terutama dari batu. Lesung yang dihasilkan bukan untuk menumbuk padi, tetapi untuk mengulek bumbu masakan. Membuat lesung dari kayu saat ini cukup sulit. Bahan baku terbatas. Demikian juga alu. Hanya beberapa daerah pedalaman yang masih menumbuk padi dengan lesung.

Lesung dan alu memiliki filosofi sendiri. Lesung adalah symbol keibuan, perempuan. Sementara alu adalah symbol kejantanan, laki-laki. Di waktu lampau, kegiatan menumbuk banyak dilakukan pagi hari. Bunyi tumbukan, ujung alu dibentukan pada lubang cekung lesung menandakan hari sudah pagi dan saatnya beraktivitas.

Lesung dan alu tak bisa berfungsi sendiri, tetapi harus bersamaan. Hal yang menunjukkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan. Bunyi lesung ada alu adalah penanda ada kehidupan. Jika sehari-hari tidak terdengar lagi bunyi itu, pertanda kehidupan tidak ada. Mungkin sedang kelaparan, mungkin sedang sakit dan sebagainya. Tentu masih ada makna lain yang bisa digali.

Meski bunyi lesung dan alu samar-samar atau bahkan tak terdengar lagi, tetap saja lesung kecil, ulekan mewarisi filosofi yang sama. Bahwa yang cekung tak bisa mengulek tanpa batu uleknya. (inno j)