Keteladanan Guru Kunci Sukses Kehidupan Bangsa

Keteladanan Guru Kunci Sukses Kehidupan Bangsa

Konferensi pers penyelenggaraan ajang Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi 2019, di Ruang Rapat Ditjen GTK Kemendikbud, Senin (12/8). [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Kesuksesan kehidupan bangsa terkait dengan keteladanan guru dan tenaga kependidikan (GTK). Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano menyampaikan hal ini dalam konferensi pers di Ruang Rapat Ditjen GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (12/8), terkait penyelenggaraan ajang Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi 2019.

Supriano mengatakan bahwa keteladanan guru dan tenaga kependidikan bagi murid dan lingkungannya, merupakan kunci sukses dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, di tengah fokus pemerintah untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM), langkah-langkah meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan juga harus terus dipacu.

“Kemendikbud menggelar acara Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi sebagai langkah konkret menyukseskan visi pemerintah yang kini berfokus pada pembangunan manusia,” kata Supriano, yang kemudian juga disampaikan melalui keterangan Sekretariat Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Senin.

Menurut Supriano, ajang ini juga mengambil semangat Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), yakni “SDM Unggul Indonesia Maju”.

“Karena guru yang berprestasi dan berdedikasi, bisa menjadi teladan bagi murid dan lingkungan ekosistem pendidikannya,” kata Supriano.

Guru Terbaik dari Seluruh Indonesia
Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019 diikuti 694 orang Guru dan Tenaga Kependidikan dari 34 provinsi. Peserta terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan yang merupakan hasil seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, kemudian nasional.

Lomba Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi merupakan kegiatan rutin tahunan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. Pada tahun ini mata lomba dibagi menjadi 28 kategori. Kategori tersebut memisahkan tiap jabatan fungsional dan jenjang pendidikan.

“Jadi akan ada kategori Guru, Kepala Sekolah, Pengawas jenjang TK, SD, SMP, SMA, SMK, Berprestasi, sesuai fungsi dan jenjang pendidikannya. Termasuk Guru Berprestasi Sekolah Luar Biasa dan sekolah inklusif lain,” ujar Supriano.

Nantinya akan ditentukan pemenang juara I, II, dan III untuk semua kategori lomba. Setiap juara 1,2, dan 3, masing-masing memperoleh hadiah 20 juta rupiah, 15 juta rupiah, dan 10 juta rupiah. Bagi seluruh peserta yang tidak memperoleh juara, juga akan diberikan apresiasi berupa imbalan prestasi senilai 3 juta rupiah karena berstatus sebagai finalis.

Cici, seorang Guru Berprestasi dari SD Citra Bangsa, Kupang, Nusa Tenggara Timur, sedang mengajar di kelasnya, November 2018 lalu. [SHNet/Ist]

“Sebagai hasil seleksi berjenjang, satu provinsi, di setiap kategori mengirim satu orang. Artinya yang ikut Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi besok adalah finalis dan juara dari daerahnya masing-masing,” imbuhnya.

Untuk menilai guru berprestasi, Kemendikbud tidak hanya fokus pada kompetensi teknis dan akademis. Tiga kompetensi lain, yaitu sosial, profesionalitas, dan wawasan kependidikan, juga akan dinilai.

Uji kemampuan tersebut juga tak hanya dilakukan monoton melalui tes tertulis. Dalam beberapa rangkaian kegiatan para guru dan tenaga kependidikan juga diminta membuat video aktivitasnya selama mengajar di sekolah untuk diunggah secara daring. Selain itu, ada juga aktivitas permainan dan tugas kelompok.

Hal tersebut menurut Supriano penting karena para guru di lapangan tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan hafalan. Tapi juga harus mampu memicu diskusi dan melakukan transfer ilmu pengetahuan dengan cara-cara yang kritis sekaligus menyenangkan.

“Dari aktivitas yang beragam, akan kelihatan kemampuan para guru bekerja sama, berkomunikasi, pemecahan masalah, dan literasi digital. Termasuk kedalaman pemahamannya terkait kebijakan pendidikan, perundang-undangan pendidikan, sampai rasa nasionalisme, dan cinta Tanah Air,” ujar Supriano

Guru Berdedikasi di Daerah Tertinggal
Selain mengapresiasi guru dengan kompetensi komplit seperti yang dijabarkan di atas, terdapat pula kategori guru berdedikasi di daerah khusus. Mereka yang tergabung dalam kategori ini adalah guru yang menjalankan peran dan fungsinya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Kami menyebut kategori ini sebagai daerah khusus. Dalam kategori ini yang dinilai bukan sekadar prestasi, kemudian juga ketegori berdedikasi, di mana para guru yang mengabdi di daerah 3T mendapat apresiasi dari negara,” ungkap Supriano.

Karena sifatnya sebagai kategori khusus dan menekankan apresiasi pemerintah pada pengabdian para guru, maka aspek penilaian kategori ini dibuat berbeda. Para guru hanya perlu mengumpulkan dokumen dedikasi dan profil pengabdian. Penilaian akan dilakukan lewat presentasi para guru menjabarkan pengalaman kerjanya di lapangan.

Bersama para guru dari kategori lain, penilaian akan dilakukan selama rangkaian Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi yang berlangsung sejak Selasa (13/8) sampai Jumat (16/8). Para guru dan tenaga kependidikan nantinya juga diajak mengikuti Rapat Sidang Paripurna 16 Agustus di DPR RI, dan Upacara 17 Agustus di Kemendikbud. (whm/sp)