Desa Teruwai Penghasil Batu Nisan Terbaik di Lombok

Desa Teruwai Penghasil Batu Nisan Terbaik di Lombok

SHNet, Jakarta – Bagi masyarakat Lombok, penggunaan nisan untuk makam sangatlah penting. Ini karena nisan menjadi penanda bahwa ditempat tersebut dimakamkan keluarganya.

Jadi tidak heran, berbagai macam bentuk dan motif nisan bisa kita temukan di Lombok. Di Lombok Tengah, Dusun Gerintuk Desa Teruwai, Pujut, Lombok Tengah, dari dulu sudah terkenal sebagai dusun pembuat nisan terbaik.

“Saya sudah membuat nisan dari masih kecil sampai umur saya yang sekarang,mungkin sudah 60 tahun,” tutur Papuq Andap, salah satu perajin nisan di Gerintuk.

Ia juga menceritakan sebagian besar penduduk dusunnya bekerja menjadi perajin batu nisan.Ada berbagai macam motif batu nisan yang menjadi andalan di desa ini. “Semakin rumit ukiran dan ukurannya, maka semakin mahal harganya,” terangnya.

Bentuk batu nisan antara laki-laki dan perempuan juga berbeda. “Kalau yang laki-laki bentuknya segi delapan, sedangkan kalau yang perempuan bentuknya gepeng,” terangnya,seraya menunjukkan bentuk yang dimaksud.

Papuq Andap menjual batu nisan buatannya bervariasi tergantung motif dan ukuran yang dipesan. “Kalau yang kecil harganya Cuma Rp 50 ribu, kalau yang sedang harganya Rp 300-500 ribu, sedangkan yang ukurannya besar harganya bisa sampai Rp 1 juta,” jelasnya.

Harga ini juga dipengaruhi oleh lamanya pembuatan nisan saat dipesan pembeli. “Kalau yang besar bisa jadi 3 hari, kalau yang kecil sehari juga jadi,” terangnya. Biasanya pembeli datang langsung ke rumahnya untuk memesan, tetapi ada juga yang dijual ke luar dusun.

“Di sini sudah ada pengepulnya yang setiap minggu datang mengambil sampai 1 mobil bak terbuka,” terang Papuq Andap. Nisan-nisan inidijual ke seluruh penjuru Lombok Tengah bahkan Lombok Timur.

Begitu juga pendapat H. Rasilah, salah satu pembuat nisan. Menurutnya, pemasaran batu nisan Dusun Gerintuk banyak dijual ke Sengkol, Mujur, Teruwai, bahkan Lombok Timur.

“Di sini nisan menjadi sumber nafkah masyarakat karena rata-rata orang buat. Bahkan saya bisa menyekolahkan anak saya di Jawa dari hasil jual nisan,” katanya.

Dalam seminggu. Rasilah bisa membuat 10 nisan yang bahan bakunya banyak terdapat di Gerintuk.

Di Dusun Gerintuk, ujarnya, ada 4 lokasi penambangan batu bokah yang menjadi bahan utamanya. Ia pun menunjukkan lokasi penggalian batu bokah yang saat musim hujan seperti sekarang digenangi air.

“Jadi kalah orang mau gali, harus dikuras dulu airnya. Kalau besok tempatnya tidak digunakan lagi maka tambangnya ditutup,”jelasnya.

Rasilah biasa menjual batu nisan buatannya bervariasi tergantung ukurannya. Kalau yang kecil harganya hanya Rp 50-100 ribu, sedangkan yang besar harganya bisa Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Kerajinan batu nisan di dusun ini, kataya, tidak pernah dilirik ileh pemerintah, murni semua usaha masyarakat sendiri.

“Kalau ada bantuan, kita ingin dibantu alat-alat ukir. Di sini dulu ada yang buat patung dari batu bokah ini, tetapi sejak bom Bali, usahanya mati,” akunya.  (Maya)