Buta Aksara Turun Menjadi 3,29 Juta Orang

Buta Aksara Turun Menjadi 3,29 Juta Orang

Dirjen PAUD Dikmas Harris Iskandar (tengah) dalam jumpa pers Persiapan Peringatan HAI Ke-54, di Kantor Kemendikbud, Kamis (29/8).[SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan, jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 3,29 juta orang, atau hanya 1,93 persen dari total populasi penduduk. Pada tahun 2017, jumlah penduduk buta aksara tercatat 3,4 juta orang.

Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tahun 1945, jumlah penduduk buta aksara mencapai 97 persen. Namun pada 2015, jumlah penduduk buta aksara telah berkurang menjadi 3,4 persen atau sebanyak 5,6 juta orang.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD Dikmas), Harris Iskandar, menyatakan bahwa jumlah buta aksara terus turun seiring upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjalankan beragam program dan kegiatan untuk menuntaskan buta aksara. Program-program tersebut antara lain memperkuat program pendidikan keaksaraan dengan budaya, keterampilan, dan bahasa.

”Kami melaksanakan program keaksaraan dalam dua tingkatan, yaitu keaksaraan dasar bagi warga yang masih buta aksara, dan keaksaraan lanjutan bagi yang telah menyelesaikan program keaksaraan dasar,” ujar Harris dalam jumpa pers Persiapan Peringatan Hari Aksara Indonesia (HAI) Ke-54, di Kantor Kemendikbud, Kamis (29/8).

Menurut Harris, Kemendikbud juga menggulirkan program-program keaksaraan dengan memperhatikan kondisi daerah, seperti program keaksaraan dasar padat aksara, program keaksaraan dasar bagi komunitas adat terpencil/khusus, program keaksaraan usaha mandiri, dan program multikeaksaraan.

Program Pasca-Buta Aksara
Selain itu, Kemendikbud melakukan pemberantasan buta aksara dengan sistem blok atau klaster, yaitu memusatkan program di daerah-daerah padat buta aksara, seperti Papua (22.88%), Sulawesi Selatan (4,63%), Sulawesi Barat (4,64%), Nusa Tenggara Barat (7,51%), Nusa Tenggara Timur (5,24%), dan Kalimantan Barat (4,21%).

Kemendikbud juga melaksanakan program pasca-buta aksara. Program tersebut di antaranya pendidikan keaksaraan usaha mandiri (KUM) dan pendidikan multikeaksaraan. KUM berorientasi pada pemeliharaan keberaksaraan dengan fokus keterampilan usaha mandiri.

Multikeaksaraan berorientasi pada pemeliharaan keberaksaraan dengan fokus pada lima tema pemberdayaan masyarakat, yakni profesi/pekerjaan; pengembangan seni budaya; sosial politik dan kebangsaan; kesehatan dan olahraga; serta ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

Keberhasilan pemerintah Indonesia dalam memberantas buta aksara memperoleh penghargaan dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2012, yakni King Sejong Literacy Prize. Selain itu, sejak akhir 2018, pemerintah Indonesia dipilih sebagai Komite Pengarah Aliansi Global Literasi (Global Alliance for Literacy) UNESCO atas keberhasilan Indonesia memberantas buta aksara.

Hari Aksara Internasional (HAI) Ke-54
Kemendikbud siap menggelar peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) Ke-54 pada 5 hingga 8 September 2019. Puncak peringatan akan diselenggarakan pada 7 September 2019, di Lapangan Karebosi, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wujud komitmen Indonesia dalam pengentasan buta aksara, dan melaksanakan komitmen internasional yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). UNESCO menetapkan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional.

“Dengan memperingati Hari Aksara Internasional, kita perkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan, baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota dalam penuntasan buta aksara,” ujar Harris.

Tema HAI Ke-54 yang diusung UNESCO adalah “Literacy and Multilingualism”. Mengacu tema tersebut, Kemendikbud menetapkan tema nasional peringatan HAI tahun ini “Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat”.

“Dengan tema ini, kami berharap program pendidikan keaksaraan dapat memanfaatkan peluang dari keberagaman budaya dan bahasa,” tutur Harris.

Kemendikbud dalam peringatan HAI, juga menyosialisasikan kebijakan dan program percepatan penuntasan buta aksara di Indonesia melalui program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Rangkaian kegiatan HAI Ke-54 terdiri dari Festival Literasi Indonesia, pameran produk unggulan PAUD dan DIKMAS, temu evaluasi pelaksanaan program pendidikan keaksaraan dan Kesetaraan, workshop pendidikan keaksaraan komunitas adat terpencil/khusus, bimbingan teknis pendidikan berkelanjutan, workshop percepatan satuan pendidikan nonformal terakreditasi, dan pameran pendidikan dan kebudayaan.

Selain kegiatan tersebut, pada puncak peringatan HAI juga akan ada pemberian penghargaan kepada berbagai pihak yang telah berkonstribusi dalam bidang keaksaraan. Antara lain, anugerah aksara bagi pemerintah kabupaten/kota, pegiat keaksaraan, penghargaan tokoh komunitas adat terpencil/khusus, penghargaan TBM kreatif/rekreatif, penghargaan keberaksaraan bagi peserta didik keaksaraan dasar, dan penghargaan keberaksaraan bagi peserta didik keaksaraan usaha mandiri.

Selain itu, pemerintah juga memberikan penghargaan peserta didik kursus dan pelatihan, penghargaan lembaga kursus dan pelatihan berprestasi. Total penerima penghargaan mencapai 135 orang/lembaga, terdiri dari 91 orang/lembaga penerima penghargaan dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, dan 44 orang/lembaga dari Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan.

Terdapat enam kabupaten dan satu kota yang akan mendapat anugerah aksara di puncak peringatan HAI Ke-54, yakni Kota Balikpapan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Bone, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Tangerang. Pemerintah daerah tersebut berkomitmen tinggi dalam upaya penuntasan buta aksara.

“Kami berharap ini menjadi contoh praktik baik bagi pemerintah daerah lain,” kata Harris.(whm/sp)