Banyu Kuning dan Legenda Roro Sekar Ayu

Banyu Kuning dan Legenda Roro Sekar Ayu

Oleh : Andi Yuwono dan Rian Silva


BOJONEGORO – Banyu Kuning identik dengan cerita legenda tentang Roro
Sekar Ayu. Siapakah dia? Konon, dia adalah seorang perempuan cantik yang selalu memakai selendang. Rambutnya disanggul.

Ia selalu merasa damai saat berada di sebuah tempat yang penuh dengan pepohonan menjulang tinggi. Di sela-sela rimba belantara itu banyak terdapat tanaman pandan yang sangat wangi, gemercik air, dan bebatuan, sehingga ia meras begitu nyaman.


Saking senangnya dengan tempat ini, ia berbisik kepada para dayang untu menemaninya setiap hari atau sewaktu-waktu ketika ia datang. Kepada para dayang, Sekar Ayu selalu berpesan agar tidak memberitahukan kepada ayahnya bahwa ia sering datang dan bermanja di tempat ini.

Hingga akhirnya, orang kepercayaan ayahnya melapor bahwa terjadi wabah yang melanda kampung di perbatasan. Para istri dan anak-anak perempuannya semua mengerang dan teriak kesakitan, merasakan panas di seluruh tubuh tanpa sebab yang pasti.

Mendengar itu Sang Putri sangat bersedih. Kemudian berangkatlah ia ke tempat yang biasa didatangi dan merenung bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang menimpa rakyatnya.

Sejenak Roro Sekar Ayu menengadahkan diri dan bersimpuh seperti berdo’a, memohon petunjuk kepada sang pencipta semesta, karena ia tidak memungkinkan mengobati rakyatnya satu per satu.


Saat itulah dengan tidak sengaja Roro Sekar Ayu melepaskan selendangnya yang berwarna kuning, pemberian sang bunda dan mengikatnya pada akar pohon besar. Ujung selendang yang terjuntai ke bawah menyentuh mata air (pancuran) tersebut. Dan tiba-tiba semua mata air berubah warnanya menjadi kuning keemasan yang mengalir kebawah hingga jauh.


Warga kampung bawah yang kesehariaannya mandi disungai yang terkena wabah aneh sembuh seketika saat usai mandi di aliran sungai ini. (Red. sekarang kali pacal) dengan berteriak gembira dengan mengucapkan Banyune Kuning…….Banyune kuning….Banyu kuning……..


Maka dalam waktu sebentar saja, semua warga yang sakit berbondong- bondong mencari hulu daripada mata air kuning yang menyembuhkan mereka. Tempat itu dinamakanlah Banyu Kuning.

Mereka begitu takjub dengan selendang warna kuning yang terikat di pohon, yang membuat warna air mengalir turut berwarna kuning. Setelah mengetahui bahwa pemilik selendang itu adalah Roro Sekar Ayu, putri dari Sang Tabib yang terkenal, Ki Dherpo, Putra Mataram yang nama aslinya Raden Singodipuro, utusan pengembangan wilayah perdikan yang tak pernah mau kembali ke Keraton dan lebih memilih mendharmakan diri di kawasan Gunung Gede (sekarang G.Pandan), maka sontak masyarakat memberi gelar nama kehormatan kepada Roro Sekar Ayu menjadi Nyai Pandan Sari.

Warga setempat sangat menjaga tempat tersebut hingga kini sebagai satu-satunya tempat yang wajib dijaga dan dilestarikan karena selain diyakini menyembuhkan berbagai macam sakit juga membuat kulit para perempuan semakin bersih, cantik, dan muda.


Jadi Geopark Nasional
Banyu Kuning saat ini menjadi geopark nasional. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi geopark. Upaya ke arah sana dimulai sejak 2014. Diawali dengan langkah memperkenalkan Banyu Kuning kepada masyarakat Bojonegoro melalui media Online dan Media sosial, Facebook Pesona Bojonegoro Selatan dan Instagram Gondangeksotis.

Mereka ingin memunculkan potensi desa dan mengangkatnya menjadi sebuah destinasi wisata yang merupakan lahan Kawasan milik PT. Perhutani KPH bojonegoro. Pemerintah daerah saat itu tak bisa melakukan pendanaan pembangunan karena Banyu Kuning merupakan wilayah kawasan (hutan).

Berbagai cara dan komunikasi dilakukan dengan beberapa satuan kerjaperangkat daerah (SKPD). Mereka melakukan pergerakan kepemudaan di bidang penambahan pada destinasi berupa tulisan pada kayu limbah dan publikasi.


Pemda kemudian menyambut dengan melakukan penelitian Geologi pada 2015 oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Bupati memberikan rekomendasi setelah mendapat pemaparan yang sangat panjang dari Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Desa Krondonan.

Penelitian dilakukan dalam rentang waktu 28 bulan. Pada 27 November 2017, Banyu Kuning ditetapkan menjadi salah satu Geopark Nasional Bojonegoro oleh Kementrerian Kemaritiman dan ESDM sebagai Taman Bumi (Taman Geologi Nasional) berupa panas bumi (geothermal) yang sekarang pancuran Banyu Kuning.


Dengan dasar inilah pada 2016, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengajukan bantuan kepada pemerintah dan akhir 2018 baru dapat terealisasikan sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap upaya dan konsistensi pergerakan pemuda penggiat wisata. Dengan masuknya Banyu Kuning menjadi salah satu Geopark ini maka diuntungkan akan terjadi pembangunan berkelanjutan. Nah kemudian siapa yang akan mengelola?? Yang mengelola adalah para penggiat wisata lokal yang dimonitoring pemerintah. (*)

*Penulis adalah pengurus Asosiasi Desa Wisata