“3 Menit Selesai” Ternyata Belum Cukup untuk Mengagumi Desa Ini

“3 Menit Selesai” Ternyata Belum Cukup untuk Mengagumi Desa Ini

SHNet, Jakarta – Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Regional Tahun 2019 yang diselenggarakan Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri kini telah memasuki tahap pemaparan 5 desa terpilih dari masing-masing regional.

Sebagai wakil terbaik dari masing-masing daerah terpilih tentu paparan yang diberikan oleh setiap Kepala Desa dan timnya di depan para anggota juri merupakan hasil kinerja terbaik dari desa mereka sehingga bisa masuk dalam 5 besar. Beberapa fakta menarik membuat pikiran orang awam tentang sebuah desa menjadi terbuka karena ternyata desa-desa di Indonesia sudah berkembang sedemikian maju.

Salah satu desa yang membuat takjub para anggota juri dan hadirin yang hadir dalam sesi pemaparan tersebut adalah desa Srimulyo yang masuk sebagai kandidat juara dari regional II. Saat dipersilakan masuk oleh tim juri, ada aura berbeda yang dibawa oleh sang Kepala Desa beserta tim yang dibawanya. Aura positif dan kesiapan yang mantap tampak keluar dari desa yang mewakili Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Tidak seperti kandidat desa juara lainnya, Desa Srimulyo benar-benar memaparkan kesantunan khas Yogyakarta sekaligus kekaguman bagi yang mendengar dan melihatnya. Hasil evaluasi diri desa tersebut sangat jelas yakni sebagai ‘Desa Cepat Berkembang’ meski klasifikasi desanya tidak muluk-muluk seperti kandidat juara yang lain, hanya masuk klasifikasi ‘desa swakarya’ kategori madya. Artinya sejak menjadi desa mandiri, desa Srimulyo baru menapak 5 tahap dari maksimal sembilan, tahapan tertinggi yang bisa dicapai sebuah desa.

Drs Wajiran / ist

Namun jangan salah, desa yang berdiri tahun 1946 ini punya total pendapatan yang mencengangkan yakni 5,9 miliar rupiah di tahun 2017 dan meningkat menjadi Rp7,1 miliar setahun berikutnya. Dari jumlah total tersebut, Rp3,5 miliar merupakan Pendapatan Asli Desa (PADes) mereka di tahun 2018 dan 2,9 miliar disumbang dari Hasil Usaha Desa. Wow!

“Jumlah penduduknya berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh kelompok perempuan yang hampir seimbang dengan kelompok laki-laki,” jelas Drs. Wajiran, Lurah Desa Srimulyo.

“Dan berdasarkan jenis pekerjaan desa kami didominasi oleh angkatan pelajar, diikuti banyak juga warga kami yang menjadi buruh, disamping itu dominasi juga di bidang kewirausahaan.”

“Potensi yang kita miliki, sumber daya alamnya cukup variatif artinya kami kaya sumber daya alamnya, SDM cukup bisa menjajikan karena dominasi pendidikannya masuk kategori sejahtera, sementara potensi kelembagaab lengkap beserta sarana dan prasarana penunjang. Pamong desa kami dari 42 pamong semuanya sarjana bahkan dari jumlah tersebut ada 2 yang lulusan S2,” ungkap sang Kades.

Tidak heran desa ini punya SDM yang begitu menjanjikan seperti penuturan kepala desanya karena Srimulyo hanya berjarak 12 km dari pusat propinsinya, sedangkan dari kabupaten Bantul lebih jauh yakni 21 km. Otomatis persinggungan cukup terasa. Perberdayaan masyarakat dan membuka peluang usaha di desa bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia desa dan dapat menekan urbanisasi.

“Di bidang pelayanan kami sudah membangun sistem pelayanan satu pintu, ada antrian digital, ada SOP pelayanan yang dilengkapi dengan sarana pojok bermain anak, pojok laktasi, pojok baca, jalur difabel, jalur evakuasi dan monitor CCTV. Kami juga mengadakan survey tingkat kepuasan untuk layanan ini tiap akhir tahun,” kata pak Kades lebih lanjut.

Untuk menunjang desa digital, desa ini telah membangun berbagai aplikasi antara lain Open-SID yang ditujukan untuk pelayanan umum, e-Lastri sebuah aplikasi untuk pelayanan administrasi tanpa harus mengantri serta e-Sambat yang merupakan saluran aspirasi masyarakat terhadap lingkungannya. Belum cukup dengan itu semua desa yang memiliki luas 1456,8 ha tersebut masih punya aplikasi andalan lainnya, seperti AURAT yakni aplikasi untuk manajemen surat, SIGAP (SIG-Pertanahan) serta e-NGATINI yang dapat memberikan info peringatan banjir. Plus beberapa aplikasi sistem informasi manajemen untuk monografi serta pamong desa dan tidak ketinggalan situs resmi mereka.

“Desa pelayanan prima, kita berupaya mengadakan pelayanan satu pintu dengan sistem antrian digital, dan kita punya semboyan dalam pelayanan ini ‘tiga menit selesai’,” tegas Drs Wajiran.

Namun meski punya segudang potensi dan inovasi yang namanya suatu wilayah pasti tidak terlepas dari masalah, diakui oleh Drs Wajiran masalah lingkungan hidup dan penyakit sosial masyarakat serta tingkat pengangguran dan kemiskinan di daerahnya tetap ada. Untuk masalah lingkungan hidup seperti banjir dan penambangan batu yang digunakan untuk fondasi rumah masih kerap terjadi desa ini punya solusi yakni ‘diwisatakan’ daerah yang bermasalah tersebut sehingga bisa menambah pendapatan asli desa.

Sementara solusi untuk menanggulangi masalah penyakit sosial masyarakat seperti perkelahian dan kriminalitas antar kelompok remaja serta pengangguran dan kemiskinan yang masih terjadi walau dari tahun ke tahun berkurang, Drs Wajiran beserta aparatnya mencoba mengembangkan potensi di bidang kemasyarakatan dan kewilayahan.

Ada yang namanya ‘Buletasi’ yakni budidaya lele fermentasi, pengembangan bio gas kotoran sapi serta alat penyiang gulma yang merupakan penerapa teknologi tepat guna, kemudian menggerakkan pusat pelatihan pemakmuran bangsa untuk mengatasi warga buta huruf dan anak putus sekolah. Lalu mereka juga coba mengembangkan inovasi OPOP (One Pedukuhan One Product) dengan mengajak pedukuhan atau kampung-kampung untuk mengedepankan produk unggulan masing-maing.

Kampung batik, kampung musik, kampung herbal dan kampung tas tambal hanya beberapa contoh dari 22 produk unggulan di 22 kampung atau pedukuhan.

Potensi pelestarian adat budaya yang melibatkan anggota masyarakatnya yang dipadu dengan potensi besar dalam bidang wisata juga bisa menjadi solusi bagi pengentasan kemiskinan dan mengurangi tingkat pengangguran. Untuk itu desa ini mencoba melakukan kemitraan dengan instansi terkait, investor serta akademisi yang dapat membantu membuat master plan pembangunan. Berbagai potensi tersebut diwujudkan dalam sebuah etos kerja desa ini yang diberi nama ‘Gerbang Madu (Gerakan Pembangunan Masyarakat Terpadu)’

Salam Gerbang Madu dari desa Srimulyo, ayo terus maju. (HNP)