Siswa Unjuk Kemampuan di Lomba Kompetensi SMK

Siswa Unjuk Kemampuan di Lomba Kompetensi SMK

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X menerima piala bergilir dari Sesjen Kemendikbud Didik Suhardi pada Pembukaan LKS SMK Tingkat Nasional Tahun 2019, di DIY, Senin (8/7) lalu. Piala sebelumnya dipegang DKI Jakarta sebagai juara bertahan. [SHNet/Ist]

SHNet, Yogyakarta – Sebanyak 759 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari 34 provinsi unjuk kemampuan di ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK 2019, di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penyelenggaraan LKS merupakan ajang mempertemukan para siswa berprestasi dengan para pelaku Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Direktur Pembinaan SMK (PSMK) Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) M Bakrun menyampaikan hal ini pada Pembukaan LKS SMK 2019, di DIY, Senin (8/7) lalu.

LKS kali ini merupakan penyelenggaraan yang ke-27. LKS 2019 melombakan sebanyak 32 jenis bidang lomba. Perlombaan berlangsung selama empat hari, pada 9 hingga 12 Juli. Tema ajang ini adalah “Kompeten Menyongsong Industri 4.0.”

“Kompetisi ini mencakup pameran produk inovasi siswa dan sertifikasi kompetensi. Penyelenggaraannya bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dengan persetujuan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi profesi (BNSP),” ujar M Bakrun.

Ia menyampaikan bahwa sebanyak 61 DUDI berpartisipasi menerima para peserta didik ke dalam lahan pekerjaan mereka (‘job matching’). Selain itu, ajang ini juga sebagai wadah pertukaran budaya dan studi wisata peserta LKS 2019.

“Mekanisme pertukaran budaya dengan mengirimkan masing-masing perwakilan provinsi untuk berkunjung ke salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yogyakarta,” ujarnya.

Ajang Unjuk Kerja para Siswa
Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Didik Suhardi, mengapresiasi keterlibatan sekolahdan siswa pada ajang LKS 2019. Menurutnya, partisipasi para siswa merupakan bentuk perkembangan kualitas pendidikan SMK yang terus meningkat di seluruh Tanah Air.

“LKS ini tentu bukan sekadar lomba, melainkan merupakan ajang unjuk kerja. Lomba ini akan menampilkan unjuk kerja anak-anak kita yang berprestasi di bidangnya,” ujar Didik.

Ia mengharapkan prestasi masing-masing siswa dapat menggambarkan perkembangan peningkatan kualitas pendidikan SMK di seluruh Tanah Air.

Didik juga berharap pemerintah daerah (pemda) proaktif menyelaraskan penyelenggaraan SMK dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga para lulusan SMK dapat terserap di dunia kerja.

“Mohon fleksibilitas penyelenggaraan SMK agar betul-betul disesuaikan dengan dunia kerja,” ujar Didik.

Beberapa Jurusan Perlu Dievaluasi
Terkait penyelenggaraan SMK, Didik yang merangkap Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikbud, mengharapkan adanya evaluasi jurusan-jurusan yang ditawarkan di setiap SMK, agar dapat memperbesar peluang kerja para lulusannya.

“Kami betul-betul mengharapkan pada saatnya nanti tidak ada satu pun anak SMK yang ketika lulus kemudian menganggur,” ujar Didik.

Didik mempertimbangkan mengevaluasi beberapa jurusan. Didik mencontohkan, terdapat hampir 1.250.000 siswa pada jurusan administrasi. Jumlah ini, menurut Didik, dapat meluluskan hampir 300.000 sampai dengan 400.000 siswa setahun.

“Tentu jumlah ini luar biasa besar. Di sisi lain, anak-anak yang ditampung di dunia kerja mungkin tidak lebih dari 50 persennya,” kata Didik.

Untuk itu, Didik mengimbau SMK memiliki mitra DUDI untuk sarana berlatih kerja.

“Prinsipnya siswa SMK adalah berlatih, sehingga ketika terjun ke dunia kerja mereka betul-betul sudah siap. Oleh karena itu, mestinya tidak ada satu pun SMK yang tidak punya partner dunia kerja,” ujar Didik.

Penampilan siswa pada pada Pembukaan LKS SMK Tingkat Nasional Tahun 2019, di DIY, Senin (8/7) lalu. [SHNet/Ist]

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubowono X, mengapresiasi siswa SMK. Menurutnya, prestasi para siswa di kancah internasional, khususnya di ajang World Skill Asia, dapat membantah stereotipe negatif yang mengatakan SMK masih minim dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

“Lulusan SMK Indonesia meraih juara umum World Skill Asia Tahun 2018, memborong 6 medali emas dan 3 perak. Capaian itu membuktikan prestasi siswa SMK, dan melebihi target 3 emas dari 17 bidang yang dilombakan,” ujarnya.

Sri Sultan berpendapat perkembangan dunia industri menuntut kualitas dari lulusan para siswa SMK.

“Pola pembelajaran kita harus memacu ketelitian dan relevansi dengan dunia nyata, dan memadukan ilmu dengan kecakapan hidup,” ujarnya.

Menurutnya, perlu ada inovasi bagi pola pembelajaran siswa, dari pola pembelajaran eksprerimen ke pembelajaran berbasis pengalaman (‘experiental learning’), lalu menuju pembelajaran inovatif berbasis kreativitas untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Di sini pengembangan Sumber Daya Manusia saling terpadu dengan kebijakan pendidikan, industri, dan pengembangan Iptek,” ujarnya. (whm/sp)