Rebana Desa Leuhan Dari Kayu Mahoni

Rebana Desa Leuhan Dari Kayu Mahoni

SHNet, Jakarta – Samsudin terlihat begitu sibuk merapikan alat musik tradisional hasil karyanya, meskipun telah terletak cukup lama di ruang tamu rumahnya. Dirinya tetap saja memastikan kerajinannya itu tidak dihinggapi debu atau kotoran. Sesekali dia memukul Rapai berukuran besar untuk memastikan suara yang dikeluarkan masih nyaring.

Samsudin (60) ialah warga Jalan Putro Ijo, Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Ia merupakan seniman sekaligus pengrajin alat musik tradisional Aceh. Sejak tahun 1995 ia menggeluti usaha pembuatan alat musik dengan perkakas seadanya. Dibantu tiga orang anaknya, Elly Martian, Yusra dan Yusri usaha itu kini mulai berkembang sedikit demi sedikit meski tidak pesat layaknya industri di era Modern.

Tumpukan kayu Mahoni yang sudah dibersihkan dari kulit sengaja ditumpuk Samsudin di halaman samping rumahnya, itu adalah bahan baku dasar pembuatan alat musik jenis Rapai, Rebana, Gendang dan Serune Kale.

“Saya tidak memiliki guru dalam membuat alat musik ini, sewaktu remaja dulu saya belajar sendiri-sendiri dengan melihat hasil yang sudah jadi milik orang lain, kemudian mencoba sendiri, pertama dari bambu coba buat Surune Kale, namun itu lebih mirip dengan suling. Kalau gendang pakai pohon aren, hasilnya lumayan bagus tapi berat saat dibawa, berbuat demikian karena saya memiliki kelompok seni, jadi tidak ada alat, beli tidak punya cukup biaya,” cerita Hamdani saat ditemui MODUSACEH.CO.

Rumah yang berukuran 15 x 30 meter menjadi tempat dia merintis usaha, di samping terdapat gubuk berukuran 10 meter persegi tempat ia bekerja merakit alat musik. Hingga tahun tahun 2007 Samsudin masih menggunakan pahat dan perkakas sederhana untuk membuatnya, selanjutnya dirinya memiliki sedikit modal dari hasil penjualan karyanya itu memilih lalu membeli perkakas yang lebih modern untuk memudahkan pekerjaannya.

Samsudin menjelaskan, bahan baku kayu yang digunakan ada tiga jenis, Mahoni, Merbau dan Nangka. Itu didapatkan dari rekannya di desa pelosok Aceh Barat dengan cara memesan terlebih dahulu, sementara kulit kambing yang dijadikan alas penghasil bunyi untuk Gendang, Rapai dan Rebana dibeli di Kabupaten Nagan Raya.

Jenis ukuran alat musik yang dibuat bervariasi, dari yang terkecil sedang hingga besar, dan dijual pula dengan harga yang berbeda. Keluhnya, pasar untuk meperdagangkan alat musiknya hampir tidak ada, Samsudin hanya menanti orang membeli datang ke rumah terkadang pula mengadalkan media sosial sebagai wahana promosi.

“Terakhir beli kemarin ada orang china di pertengahan tahun 2018 ada 500 unit Rapai dan Surune Kale 48 unit, entah mau dibawa kemana saya tidak tahu. Terkadang ada laku satu dalam satu bulan, namun ada juga sampai dua bulan tidak ada pembeli, jadi kita sabar sabar aja,” ujarnya.

Istilahnya kata dia, dalam mengeluti dunia kerajinan musik tradisional itu adalah Rezeuki Rimung (Rezeki Harimau) maknanya datang tidak menentu dan tidak dapat ditaksir, kalau lagi beruntung maka dia dapat menjual banyak, tetapi kalau lagi tidak ada maka terpaksa hasil karyanya itu ditumpuk di rumah saja sampai ada yang berminat.

Untuk Rapai dan Gendang dalam sehari dirinya mampu menyelesaikan hingga 3 unit, untuk gendang 1 unit, serune kale dan tambo hingga 2 unit siap pakai, jika dikalkulasikan maka Samsudin bersama anak mampu menyelesaikan hingga 300 unit dalam satu bulan, namun sebab pembeli yang tidak menentu dia hanya memproduksi 30 unit saja dalam sebulan kecuali ada yang memesan maka akan diutamakan pesanan terlebih dahulu.

“Yang pesan itu biasa banyak Rapai dan Rebana untuk pengadaan kelompok seni milik masyarakat gampong yang hendak latihan atau ikut lomba,” katanya.

Samsudin menjelaskan, proses pembuatan alat musik tradisional tergolong cukup mudah, mungkin akan sulit bagi yang tidak paham selahnya dan baru belajar. Kayu yang sudah dibeli dari orang lain lalu direndam di dalam air hingga sepuluh hari paling singkat untuk pengawetan agar tidak mudah dimakan rayap atau sejenisnya.

Setelah itu, baru kemudian dibentuk menjadi alat musik yang hendak dibuat, seperti Rapai misalnya dibentuk dengan menggunakan penggaris dan bujur untuk menentukan bentuk besar dan kecilnya, lalu kayunya yang berbentuk persegi dibelah dan disamakan dengan contoh yang sudah jadi, lalu baru melewati tahap penghalusan kayu agar tidak kasar. Kemudian baru diukir lekuk tubuh alat musik, setelah jadi maka dijemur terlebih dahulu.

Dipinggirannya diberikan lobang sesuai bentuk Rapai yang nantinya untuk dimasukan kulit kambing yang telah diolah sedemikian rupa sehingga halus, lalu disepit agar kulitnya tegang dan menghasilkan suara nyaring. Dirinya tidak mengetahui adakah standar kontruksi dalam pembuatan alat musik itu, hanya bermodalkan pengalaman saja alias otodidak.

Harga yang dijual oleh Samsudin atas hasil karyanya yang meliputi alat musik Rapai, Rebana, Surune Kale dan Tambo bervariasi, Rebana satu lusinnya dijual dengan harga Rp 3,5 juta, ada pula Rebana ukir seni ukir Aceh yang dibadrol dengan harga Rp 7 juta perlusin, Gendang dijual seharga Rp 1,5 juta per unit, Rapai Rp 6,5 juta per lusin, Serune Kale Rp 500 ribu per unit dan Tambo seharga Rp 1,5 juta per unit. Harga bisa saja berubah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan membuat. “Misalnya Rebana biasa dan Rebana Seni Ukir harganya beda, karena membuat ukirannya itu lebih susah dari membuat yang biasa,” terangnya.

Meskipun dengan penghasilan yang tidak menentu, niatnya menjaga budaya menjadi motivasi utamanya untuk terus mengeluti dunia kerajinan alat musik tradisional. Yang menjadi kendalanya saat ini ialah bahan baku, sebab sulitnya mencari jenis kayu yang sesuai. Apalagi dirinya sangat takut jika harus membeli kepada pembalak liar.

Kendati pun, walau usaha tersebut sudah berlangsung 20 tahun lebih, belum mendapat perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan usahanya agar bisa memasuki pasar secara nasional. Keingginan Samsudin kerajinan tangannya itu bisa dipasarkan keluar provinsi dan membawa nama harum Aceh Barat di kancah nasional di bidang seni alat musik tradisional. “Tapi apalah daya belum pernah mendapat perhatian dari pihak pemerintah, jadi yang saya lakoni saja yang seperti sekarang ini, cukup lah buat makan dan menghidupi keluarga serta menyekolahkan anak,” keluh Samsudin. (Maya)