KPAI: Metode Pembelajaran Agama Perlu Dicermati

KPAI: Metode Pembelajaran Agama Perlu Dicermati

Ketua KPAI Susanto (kiri) dan Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti (tengah) saat memberikan keterangan pers beberapa waktu lalu. [SHNet/Ist]

SHNet, Kediri – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa kita perlu mencermati materi dan metode pembelajaran Agama, namun sekolah tetap memerlukan mata pelajaran Agama. Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menyampaikan hal ini dalam keterangannya kepada media, di Jakarta, Senin (8/7) lalu.

“Viral di media sosial maupun media massa terkait opini Darmono–yang konon merupakan pemerhati pendidikan–tentang usulan agar pendidikan Agama dihapus di sekolah, telah menimbulkan polemik di tengah masyarakat,” kata Retno.

Ia menjelaskan, menurut Kurikulum 2013 yang merupakan produk pemerintah pusat, pendidikan Agama meliputi enam agama di Indonesia, bukan hanya agama tertentu. Artinya, ide Darmono tersebut terkait dengan pendidikan agama di sekolah, mulai dari agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, sampai Konghucu.

Berawal dari Usulan Warga
“Sebenarnya, polemik tersebut muncul dari usulan warga bernama Darmono. Hanya usulan, sehingga dapat diabaikan pemerintah, karena pemerintahan Indonesia memang tidak pernah merencanakan penghapusan pelajaran Agama di sekolah,” kata Retno.

Sehubungan dengan polemik tersebut, sebagai Komisioner Bidang Pendidikan KPAI, Retno menyampaikan sejumlah pandangannya sebagai berikut. Pertama, KPAI menyayangkan polemik “penghapusan pelajaran Agama di sekolah” yang dipicu pemuatan berita di salah satu media daring, yang telah membuat situasi memanas.

Ia mengingatkan pendapat Darmono yang mengusulkan penghapusan pelajaran Agama, merupakan opini pribadi, tidak mewakili partai politik tertentu, ataupun mewakili suara pemerintah. Namun, Tak sedikit netizen yang langsung menyerang pemerintah bahkan mengaitkan dengan partai politik tertentu.

“Padahal, sepanjang pengawasan KPAI, pemerintah pusat melalui Lukman Hakim selaku Menteri Agama dan Muhajdir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI telah beberapa kali memberikan pernyataan resmi bahwa pemerintah tidak akan menghapus pelajaran Agama di sekolah,” kata Retno mengingatkan.

Kedua, Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa lingkungan sekolah memang bukan satu-satunya tempat anak-anak belajar, termasuk belajar pendidikan Agama. Pasalnya, masih ada pendidikan di lingkungan keluarga yang merupakan tempat pertama dan utama dalam menanamkan karakter anak, dan juga pendidikan di lingkungan masyarakat.

Pendekatan Masih Konvensional
“Ki Hadjar menyebutnya dengan istilah ‘Tri Pusat Pendidikan’. Artinya, pendidikan Agama sejatinya memang diajarkan di semua ranah, yaitu di keluarga, sekolah, dan masyarakat,” kata Retno.

Ia menyampaikan bahwa KPAI mendukung pendidikan Agama tetap diberikan di sekolah, namun substansi materi yang diajarkan maupun metode pembelajarannya memang masih memerlukan masukan banyak pihak, agar menjadi tepat dan bermakna.

KPAI berpendapat, selama ini pendekatan pembelajaran yang mayoritas digunakan guru masih konvensional, kurang membuka ruang dialog, sehingga kurang membangun daya kritis peserta didik. Ketika budaya literasi terjadi di sekolah, maka ruang dialog dan kemampuan berpikir kritis akan terbangun dengan sendirinya, sehingga sekolah dapat dengan mudah menangkal paham radikal dan fanatisme sempit lainnya.

Ketiga, menurut KPAI kegiatan pendidikan agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Konghucu) yang selama ini berlangsung di sekolah, memang lebih terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis. Kurang memperhatikan persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik, untuk selanjutnya menjadi sumber anak didik untuk bersikap dan berperilaku secara konkret agamis dalam kehidupan praksis sehari-hari.

Retno menjelaskan, meski Kurikulum 2013 menuntut guru melakukan proses pembelajaran dengan prinsip 5M (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan mencipta), namun pada implementasinya mayoritas guru (berbagai mata pelajaran), termasuk guru Agama lebih mengedepankan “mengingat”.

Kurang Mendorong Kemampuan Berpikir
“Dalam proses pembelajaran, guru kurang mendorong mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Proses pembelajaran di kelas lebih diarahkan kepada menghafal informasi,” kata Retno.

Padahal, Retno mengingatkan, UU No. 30 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sudah memiliki paradigma baru, di mana istilah proses belajar-mengajar (guru mengajar, murid belajar) diubah menjadi proses pembelajaran (murid dan guru sama-sama belajar, ada relasi yang seimbang).

Keempat, dalam kurikulum 2013, pendidikan Agama digabung dengan pendidikan Budi Pekerti yang diajarkan selama empat jam tatap muka untuk jenjang SD dan 3 jam untuk SMP dan SMA/SMK. Pengabungan inilah yang dulu banyak dikritik beberapa pihak, karena pendidikan Agama berlandaskan kitab suci masing-masing agama, sedangkan budi pekerti berlandaskan norma-norma dan budaya yang berlaku di suatu tempat. Namun, kedua hal tersebut diajarkan oleh orang yang sama.

“Padahal, menurut kitab suci dengan menurut norma dan budaya terkadang bisa berbeda,” ujar Retno.

Menurutnya, penambahan jam pendidikan Agama saat itu, dilakukan dengan alasan penambahan “Budi Pekerti”.

“Barangkali, hal ini yang justru perlu dicermati juga secara arif dan bijaksana demi kepentingan terbaik bagi anak didik di seluruh Indonesia,” kata Retno.

Kelima, menurut KPAI pelajaran Agama masih perlu diberikan di sekolah. KPAI berpendapat yang perlu diberi masukan bersama barangkali adalah terkait metode pembelajaran dan materinya. Misalnya, penting memberikan materi bahwa setiap agama mengajarkan kerukunan, saling menghormati, saling menghargai, saling menyayangi (bukan menyebar kebencian), baik kepada umat agama yang sama maupun umat agama yang berbeda.

“Hal ini bisa menjadi materi utama, mengingat negeri kita sangat majemuk. Keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan di Indonesia. Jadi, pelajaran agama juga penting untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan memperkokoh persatuan bangsa,” kata Retno. (whm/sp)