Kemenpar : Event harus Dikaitkan dengan Paket Wisata

Kemenpar : Event harus Dikaitkan dengan Paket Wisata

Forwapar Clinic Capturing Moments Calendar Of Event Kementerian Pariwisata, di Jakarta, Senin (29/7). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta– Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani menghimbau pemerintah daerah untuk mengemas event dalam paket-paket wisata untuk menjaring wisatawan lebih lama tinggal di suatu destinasi wisata.

“Event kita masih dijual sendiri dan hanya sebatas event. Misalnya event Jember Festival, orang habis nonton event tersebut langsung pulang. Kalau begini, bagaimana devisa bisa meningkat,” ujarnya pada Forwapar Clinic Capturing Moments Calendar Of Event Kementerian Pariwisata, di Jakarta, Senin (29/7).

Menurutnya, event merupakan bagian dari pengembangan destinasi dan bagian dari atraksi. “Paling tidak di setiap provinsi ada 5 event yang ditunggu-tunggu banyak orang. Seperti Singapura, orang mau ke Singapura karena ada event,” kata Rizki

Ia menambahkan, event sebaiknya dikaitkan dengan paket wisata, tidak berdiri sendiri. “Ke depan, saya dorong pemda untuk kaitkan paket wisata dengan event. Marketnya seperti itu. Kemenpar hanya mendukung sebab yang punya event adalah pemerintah daerah,” ungkapnya.

Salah satu strategi utama Kementerian Pariwisata dalam menjaring sebanyak-banyaknya wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara datang ke Indonesia adalah dengan meluncurkan Top 100 Calendar of Event 2019 Kementerian Pariwisata.

Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calendar of Event (CoE), Esthy Reko Astuti menjelaskan bahwa 100 Wonderful Events yang masuk dalam Calendar of Events 2019 sudah dipastikan memiliki dampak positif bagi masyarakat dan peran media yang optimal akan membuat gelaran ini menjadi lebih sempurna lagi.

“Terlepas dari hasil liputan yang berkualitas, CoE ini sendiri bisa dipastikan merupakan event-event daerah yang sudah pasti punya nilai jual tinggi serta punya pengaruh terhadap masyarakat sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu, Show Director Prambanan Jazz Asthie Wendra mengatakan, ada banyak faktor yang harus terlebih dahulu dipersiapkan oleh EO.

“,Harus ada berbagai penyesuaian mendasar seperti misalnya desain panggung acara, penataan lampu /pencahayaan, penempatan rekan media fotografer di spot terbaik agar moment terbaik di atas panggung bisa didapat dan kemudian disebarluaskan kepada masyarakat,” jabarnya.

Jurnalis AFP, Reuters dan JAP Ardiles Rante menambahkan, dalam sebuah event, foto mempunyai selling point, terutama caption yang menarik.

“Banyak fotografer yang malas tulis caption. Padahal caption itu penting di jaman medsos,” kata Ardiles. (Stevani Elisabeth)