IGI Sarankan Orang Tua Antar Anak Sekolah

IGI Sarankan Orang Tua Antar Anak Sekolah

Mendikbud Muhadjir Effendy mengunjungi sebuah sekolah, pada hari pertama masuk sekolah, Senin (15/7). Foto dari Fortadik.[SHNet/Ist]

SHNet, Kediri – Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengimbau orang tua siswa mengantar anaknya pada hari pertama masuk sekolah, Senin (15/7). Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menyampaikan hal ini dalam keterangannya kepada media dari Makassar, Minggu (14/7).

“Hari Pertama Masuk Sekolah akan dimulai besok serentak di seluruh Indonesia. Memang, ada yang duluan, bahkan ada yang terlambat. Tapi secara umum serentak besok, Senin 15 Juli 2019,” kata Ramli.

Ia menyatakan harapan besarnya orang tua menyempatkan diri meskipun hanya sehari saja dalam satu tahun, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.

“Atau mungkin sehari saja dalam tiga tahun, atau mungkin sehari saja dalam enam tahun mengantarkan anak-anak kita ke sekolah,” imbau Ramli.

Ia menyarankan orang tua siswa hadir di sekolah lebih pagi. Tujuannya agar orang tua dapat bersalaman dan berkenalan dengan guru-guru di sekolah.

“Biar dapat bersalaman dan berkenalan dengan guru-guru di sekolah, masuk ke ruang-ruang kelas, periksa toliet sekolahnya, lihat area istirahat siswa, dan perhatikanlah hal-hal yang mungkin saja akan membahayakan anak-anak kita,” saran Ramli.

Instansi Agar Memberikan Izin
Ramli mengatakan IGI mengharapkan semua instansi, baik swasta apalagi pemerintah, dapat memberikan izin kepada para pegawai atau karyawan agar mereka bisa mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah.

“Siapa pun, pegawai atau karyawan, Bapak atau Ibu, agar dapat mengantarkan anak-anak mereka meskinpun hanya 30-60 menit di sekolah,” kata Ramli.

Ia mengingatkan, kehadiran orang tua di sekolah sangat diperlukan. Paling tidak, kata Ramli, kedatangan orantg tua sebagai “akad” atau kesepakatan kerja sama antara orang tua dan guru, serta pimpinan sekolah.

“Kehadiran orang tua untuk menyerahkan sepenuhnya anak-anak mereka untuk dididik di sekolah. Tentu saja saat di sekolah, karena waktu di luar sekolah para siswa kembali menjadi tanggung jawab orang tua,” kata Ramli.

Ia berpendapat, saling mengenal antara guru dan orang tua akan membangun hubungan emosional di antara kedua belah pihak. Dengan begitu, segala potensi masalah di sekolah, baik antara guru dengan siswa; guru dengan orang tua; maupun antara guru, siswa, dan lingkungan sekitarnya, dapat diminimalkan.

Perlu Kedekatan Emosional
“Hampir seluruh masalah antara anak didik dan guru atau dengan orang tua terjadi karena minimnya komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan kedekatan emosional antara semua pihak,” kata Ramli.

Menurutnya, kehadiran orang tua di sekolah lebih pagi, tujuannya agar jika orang tua menemukan hal-hal yang kurang baik, segera mengkomunikasikan dengan pihak sekolah. Jika pihak sekolah tak memiliki kemampuan, bisa saja orang tua memikirkan solusinya.

Ada satu hal yang harus menjadi perhatian besar pada hari pertama masuk sekolah, yaitu perlu anak-anak perlu mendapatkan motivasi dari guru dan orang tuanya. Pasalnya, menurut Ramli, ada anak-anak yang belum paham maksud Sistem Zonasi. Akibatnya, di antara anak-anak mungkin ada yang merasa kecewa karena bersekolah di tempat yang tak mereka harapkan.

“(Orang tua dan guru) perlu mengembalikan semangat mereka yang rapuh, mengembalikan motivasi mereka yang menurun, dan membangkitkan jiwa juang mereka,” kata Ramli.

Namun demikian, Ramli memiliki catatan terkait kesempatan para guru untuk mengantar anak-anak mereka sendiri ke sekolah. Karena justru para guru sedang bertugas menerima murid dan orang tua mereka pada hari pertama sekolah.

“Nah, masalahnya sekarang bagaimana dengan guru? Guru tak mungkin mengantar anak mereka ke sekolah karena justru mereka yang harus menerima murid dan orang tua murid di sekolah. Di sinilah dibutuhkan keikhlasan sebagai guru,” pungkas Ramli.(whm/sp)