Desa Tamarenja Penghasil Salak di Donggala

Desa Tamarenja Penghasil Salak di Donggala

SHNet, Jakarta – Buah salak banyak tumbuh di Yogyakarta dan Bali. Kedua daerah tersebut memang menjadi sentra produksi buah bersisik itu.

Memang, buah salak yang dihasilkan kedua daerah itu terkenal ke seluruh peloksok tanah air. Karena selain reyah, rasanya pun sangat manis.

Hal yang sama di Kabupaten Donggala, Sulteng juga terdapat sebuah desa yang memiliki potensi sama, yakni Desa Tamarenja, yang berada di Kecamatan Sindue Tobata.

Desa Tamarenja terbilang desa yang sangat asri. Secara geografis, letaknya berada pada 500 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi gunung yang indah.

Desa yang dihuni oleh ratusan kepala keluarga atau ribuan jiwa ini, merupakan desa yang dipenuhi kebun salak. Disetiap deretan pohon salak juga ditanami kelapa.

Hampir semua rumah yang ada di desa ini juga, ditanami pohon salak di bagian pekarangan belakang rumah warga.

Dilihat lebih dekat, struktur penanaman pohon salak di tamarenja tak ada bedanya dengan daerah lain. Namun salak Tamarenja juga tak kalah manis dengan salak dari daerah luar. Dagingnya pun terbilang renyah.

Perkebunan salak tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam. Hal itu diungkapkan langsung oleh salah seorang petani salak, Hamsir. Dia sendiri sudah menjadi petani selama 30 tahun.

“Ketika saya datang ke Desa Tamarenja ini, memang sudah ada kebun salak di sini,” ungkap pria kelahiran Kabupaten Selayar itu.

Dengan luas lahan salak hanya setengah hektar, Hamsir bisa menghasilkan salak sebanyak 5 karung berukuran besar setiap minggu. Jika dirata-ratakan secara keseluruhan, perkebunan salak di Tamarenja  bisa menghasilkan salak mencapai sekitar ribuan karung setiap minggunya.

“Panen raya bisa dua kali dalam setahun, tapi salak di sini bisa tetap dipanen setiap minggu,” terangnya.

Setiap karung, Hamsri maupun petani lain menjualnya seharga Rp150 ribu. Jika dijual kembali oleh sang pengepul bisa mencapai Rp400 perkarungnya. Bahkan kata Hamsir, jika sedang panen raya, harga salak per karungnya hanya seharga Rp100 ribu. “Kalau lagi banjir salak, harganya bisa lebih murah. Tapi soal rasa, salak Tamarenja sudah sangat terkenal dengan ciri khas manis dan renyah,” seru ayah satu anak ini.

Penjualannya menurut Hamsir sudah tersebar luas di tanah air. Meski penjualan salak Tamarenja mendominasi di wilayah Sulawesi.  Sama dengan beberapa daerah penghasil salak lainnya, nama salak asal kabupaten tertua di provinsi Sulteng ini juga diberi nama sesuai dengan nama desanya.

“Di bagian Sulawesi seperti Gorontalo itu sudah dikenal nama salak Tamarenja ini,” ungkapnya.

Masih menurut Hamsir, dengan sekali tanam pohon salak, maka bisa dipanen sampai seumur hidup. Asalkan perkebunan salak terus dirawat seperti membersihkan pelepah yang sudah kering, maupun membersihkan rerumputan di sekitar pohon salak.

“Salak yang sudah berbuah, bisa dipanen sepanjang tahun,” tuturnya.

Sementara menurut Camat Sindue Tobata, Mohammad Milhar Halili Malonda SH. MSi, masyarakat sekitar sangat antusias menggarap lahannya untuk ditanami salak. Kata Milhar, seluruh pekarangan masyarakat memang ditanami salak.

“Tidak ada lahan yang kosong, mereka benar-benar antusias menggarap lahan masing-masing,” ungkap mantan Camat Sirenja ini.

Milhar menuturkan, perkebunan salak di tamarenja menjadi penghasil terbesar salak di Sulteng. Dari hasil panen tersebut kata Milhar, masyarakat juga mengolahnya menjadi dodol salak hingga manisan salak.

“Sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah Kabupaten, kami Pemerintah Kecamatan terus memberikan perhatian kepada masyarakat khususnya para petani ini. Memang 90 persen masyarakat Sindue Tobata adalah petani,” pungkasnya. (Maya)