Desa Agasari Penghasil Buah Kiwi di Jawa Barat

Desa Agasari Penghasil Buah Kiwi di Jawa Barat

SHNet, Jakarta – Tanaman kiwi dapat tumbuh di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Tanaman kiwi tumbuh merambat seperti pohon anggur yang bisa mencapai usia lebih dari 25 tahun. Membudidayakan kiwi juga perlu perlakuan khusus jika ingin dapatkan hasil memuaskan. Dalam dua tahun, kiwi sudah bisa dipanen.

Kiwi bukan tanaman yang sulit dibudidayakan. Pohon kiwi dapat tumbuh di daerah beriklim tropis seperti Kamboja, malaysia dan Indonesia. Tanaman kiwi tumbuh merambat seperti pohon anggur yang dapat mencapai usia lebih dari 25 tahun. Pada umumnya, buah kiwi berbentuk oval dengan ukuran sebesar telur ayam.

Untuk menanam pohon kiwi, pembudidaya perlu menyiapkan lahan yang bebas hama seperti rumput liar. Pembudidaya harus menyiangi rumput-rumput atau tanaman kecil-kecil lainnya sebelum menanam bibit pohon kiwi. Setelah bebas hama, pembudidaya bisa menggemburkan tanah dan memberikan pupuk.

Yuni Kemal, pembudidaya kiwi dari Tangerang, Banten mengatakan, tanaman ini bisa dibudidayakan menggunakan media tanam humus berukuran sekitar 5 kilogram (kg). Setelah itu, bibit kiwi dimasukkan ke dalam media tanam yang telah dicampur dengan pupuk organik.

Tanaman dapat disiram satu kali dalam dua hari. Usai menanam bibit, proses selanjutnya adalah penyemaian benih dengan mencampur pasir dan pupuk. “Saat proses penyemaian, tanaman tidak boleh kena matahari langsung. Jadi, harus dibungkus plastik transparan,” ujar Yuni.

Proses penyemaian benih, lanjut Yuni, bisa menggunakan media polibag plastik ukuran 30 sentimeter (cm). Setelah usia 4 bulan-6 bulan, benih kiwi dipindahkan ke media pot ukuran 30 cm.

Nah, setelah benih kiwi dipindah ke media pot, proses selanjutnya tinggal melakukan perawatan secara rutin. Pada tahap ini, pembudidaya harus memperhatikan proses penyiraman benih kiwi agar tidak terlalu kering atau justru lembab air.

Yuni bilang, benih kiwi juga perlu disemprot air anti-hama daun atau menggunakan pupuk pestisida. Tujuannya agar tanaman terhindar dari penyakit dan serangan hama. Setelah berusia dua tahun, satu pohon kiwi yang telah dipanen, bisa menghasilkan sekitar 5 kg buah.

Suryani Syarifah, petani kiwi asal Tasikmalaya, Jawa Barat, menambahkan, membudidayakan tanaman ini perlu perlakuan khusus jika ingin mendapatkan hasil yang memuaskan. Pada dasarnya, kata dia, pohon kiwi butuh air yang cukup.

Itu sebabnya, pohon kiwi perlu disiram secara teratur, terutama pada musim kemarau. Karena itu, Syarifah kerap menyemprot kiwi secara teratur, memupuk tanah secara berkala, membabat rumput liar, dan mengendalikan hama dengan penyemprotan anti-hama.

Saat pohon mulai berbuah, juga harus diberi penopang pada batang pohon kiwi. Ini agar pohon tidak ambruk atau patah karena beratnya buah kiwi. “Kiwi butuh penopang kuat. Pohon ini mirip anggur. Pada satu tahun pertama, kiwi yang ditanam harus ditopang oleh tongkat,” kata Syarifah.

Yuni menjual bibit kiwi dengan harga bervariasi. Untuk bibit kiwi dengan tinggi 30 sentimeter (cm) dipatok Rp 75.000 dan 50-60 cm Rp 100.000 per pohon.

Yuni mengklaim, dalam sehari, ia menjual hingga 500 bibit pohon kiwi. Dari penjualan itu, ia mengaku bisa meraup omzet lebih dari Rp 50 juta per bulan.

Pembudidaya buah kiwi lainnya adalah Suryani Syarifah asal Jawa Barat. Ia mulai membudidayakan kiwi sejak akhir 2013 di Desa Agasari, Cihideung. Menurut Syarifah, kiwi bukan tanaman yang sulit dibudidayakan. Buah kiwi bisa dipanen setiap dua bulan sekali.

Kiwi secara komersial memang baik untuk dibudidayakan, karena dapat menghasilkan beberapa ton per hektare. Karena itu, sekali panen, Syarifah bisa menghasilkan 1 ton buah kiwi. Dari hasil panen tersebut, ia bisa meraup omzet hingga Rp 40 juta. (Maya)