Cerita Indah Tiga Tahun Perjalanan Panjang Purnomo Yusgiantoro Center

Cerita Indah Tiga Tahun Perjalanan Panjang Purnomo Yusgiantoro Center

MEMAPARKAN - Ketua Umum PYC, Filda C. Yusgiantoro, PhD (ketiga dari kiri) didampingi ayahnya, Purnomo Yusgiantoro (kanan) dan dua kakaknya, Lucky dan Inka, memaparkan kalau PYC telah berkontribusi dan ikut mengawal perkembangan sektor energi & sumber daya alam. Tercatat PYC bekerja sama dengan Universitas Pertahanan (Unhan) melakukan studi strategis wilayah terdepan NKRI di Natuna. (SHNet/Nonnie Rering)

SHNet, JAKARTA – Awalnya Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) yang berlokasi di Jalan Wijaya IX/12 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini digunakan untuk menampung sekitar 15 ribu buku referensi, dokumen, dan informasi serta berbagai koleksi lukisan dan cindermata yang dikumpulkan selama ini oleh mantan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro.

Dalam perjalanannya, dengan dilandasi keinginan memberikan sumbangan pemikiran dalam sektor energi & sumberdaya alam, dan sektor pertahanan & keamanan, dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia, PYC berkembang menjadi organisasi nirlaba (non-profit) dan independen yang bergerak dalam lingkup penelitian sektor energi & sumberdaya alam, dan sektor pertahanan & keamanan, serta kegiatan sosial budaya pada skala lokal, nasional, maupun global.

Dalam penjelasannya Ketua Umum PYC, Filda C. Yusgiantoro, PhD., memaparkan bahwa PYC telah berkontribusi dan turut serta dalam mengawal perkembangan sektor energi & sumber daya alam. Tercatat PYC bekerja sama dengan Universitas Pertahanan (Unhan) melakukan studi strategis wilayah terdepan NKRI di Natuna.

PYC juga mendukung penyelenggaraan Festival Mahasiswa ITB (IPFest) untuk meningkatkan prestasi mahasiswa Indonesia. Tahun 2017, PYC menyelenggarakan konperensi energi internasional (International Energy Conference, IEC) yang pertama, dan yang kedua tahun ini akan diselenggarakan bulan November 2019.

Selain konperensi, ada acara lomba essay, infografis, dan foto. PYC juga aktif diundang untuk memberikan pandangan dalam lingkupnya di berbagai perguruan tinggi, dan lembaga pengkajian Lemhannas dan Wantannas.

Kerjasama dengan berbagai lembaga internasional  antara lain IPS untuk pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), ERIA untuk perencanaan sektor energi di Bappenas, dan Climateworks untuk masalah lingkungan hidup.

Kedepan, diharapkan PYC dapat terus berkembang dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak sesuai dengan lingkupnya. Dalam kegiatan sosial budaya, PYC mendukung penuh upaya PINKAN Indonesia (Persatuan Insan Kolintang Nasional Indonesia) menjadikan alat musik ansambel kolintang dari Minahasa Sulawesi Utara Indonesia Timur sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.

Karena itu, PYC bersama dengan PINKAN Indonesia aktif menampilkan kolintang antara lain di Sydney Opera House Australia; di New Jersey, PBB dan Smithsonian Amerika; di Imperial Hotel Tokyo dalam rangka 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang; dan Pagelaran kesenian Nusantara bersama dengan Jaya Suprana School of Performing Arts di KBRI Bangkok.  

Tak cuma itu, setiap tahun dalam rangka menyongsong peringatan hari kemerdekaan Indonesia PYC menyelenggarakan lomba catur junior KU (kelompok umur) bekerja sama dengan PB Percasi (Persatuan Catur Indonesia) yang dipimpin Utut Adianto, dan aneka ragam kegiatan sosial seperti kunjungan ke panti jompo Bekasi, vaksinasi difteri dan pemeriksaan mammografi.    

Dalam kegiatan sosial budaya, PYC lewat Lis Purnomo Yusgiantoro (kanan) mendukung penuh upaya PINKAN Indonesia (Persatuan Insan Kolintang Nasional Indonesia) menjadikan alat musik ansambel kolintang dari Minahasa Sulawesi Utara Indonesia Timur sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. (SHNet/Nonnie Rering)

Inka B. Yusgiantoro, PhD menjelaskan kalau PYC sebagai organisasi penelitian di sektor energi & sumber daya alam memahami bahwa ketersediaan dan kelengkapan data memiliki peranan penting dalam memahami kondisi dan perkembangan sektor energi & sumber daya alam. Namun data yang disajikan kepada publik kurang interaktif sehingga minat masyarakat untuk menggali informasi rendah.

Karena itu, PYC berinovasi membuat data center yang memiliki tampilan interaktif dan berharap masyarakat luas dapat mengetahui kondisi saat ini dengan mudah, dan ikut mengawal perkembangan sektor yang menjadi nyawa dari bangsa ini.

Konten dalam PYC Data Center ini terbagi ke dalam tiga kategori, yakni Ekonomi (economy), Statistik (statistics), dan Kebijakan (policy). Konten ini berasal dari berbagai sumber yang kemudian diolah kembali oleh Tim Peneliti PYC.

Kedepannya, data akan senantiasa diperbarui dan dilengkapi secara berkala.Luky A. Yusgiantoro PhD,  menyampaikan buku terbaru terbitan PYC yaitu Ekonomi Energi: Teori dan Aplikasi (2018), yang ditulis bersama dengan Prof Purnomo Yusgiantoro PhD. Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku sebelumnya yaitu Ekonomi Energi: Teori dan Praktis (2009), dapat dijadikan referensi bagi para peneliti dan praktisi di sektor energi.

Buku ini dipakai sebagai referensi utama di Program Pendidikan Ketahanan Energi di Universitas Pertahanan dan ITB. Buku ini menguraikan penggunaan ilmu ekonomi sebagai dasar untuk menganalisa masalah energi pada tataran mikro dan makro. PYC juga menerbitkan Buletin Energi dan Prosiding yang berisi ringkasan dari berbagai kegiatan seminar dan hasil penelitian PYC.    

Pada saat ini, Prof. Purnomo Yusgiantoro dalam tahap finalisasi buku terbarunya yang berjudul “JAS MERAH: Menguak Masa Transisi ESDM (2000-2009)”. Buku ini nantinya akan diterbitkan oleh PYC. Jas Merah (JAngan Sekali-kali MEninggalkann sejaRAH) tersebut bercerita tentang pengalaman Prof. Purnomo Yusgiantoro selama menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia pada tahun 2000-2009.  Di dalam buku tersebut juga berisikan pengamatan selepas masa jabatannya dan pandangan terkait masa depan energi Indonesia.

Buku tersebut mengandung pesan agar tidak meninggalkan sejarah, khususnya sejarah perjalanan sektor energi & sumber daya mineral. Setiap masa, pelaku sejarah mempunyai tantangannya masing-masing yang berbeda dari waktu ke waktu, namun sejarah itu menjadi landasan bagi hadirnya masa kini.   (Nonnie Rering)