Akreditasi BSANK Diharapkan Dongkrak Profesionalisme Organisasi Olahraga

Akreditasi BSANK Diharapkan Dongkrak Profesionalisme Organisasi Olahraga

MOTIVASI - Plt Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora, Yuni Poerwanti (ketiga dari kiri) berharap akreditasi memberikan motivasi agar lebih berprestasi. (SHNet/Nonnie Rering)

SHNet, JAKARTA – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus melalukan terobosan guna meningkatkan mutu organisasi Olahraga. Itu jelas terlihat ketika Kemenpora memberikan sertifikat akreditasi dari Badan Standardisasi dan Akreditasi Nasional Keolahragaan (BSANK) kepada sejumlah organisasi olahraga.

Dengan tujuan mendongkrak profesionalisme organisasi olahraga itu, enam organisasi olahraga pun menerima akreditasi BSANK di Wisma Kemenpora, Senin (24/6). 

Enam organisasi Olahraga itu adalah Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI), Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI), Persatuan Angkat Besi/Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABBSI), PB Muaythai Indonesia, dan Persatuan BMX Indonesia.

Mereka menyusul Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Persatuan Olahraga Selam Indonesia (POSSI), dan Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia (FOKBI) yang sudah menerima sertifikasi sejak 2017 lalu.

Plt Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora Yuni Poerwanti berharap dengan diterimanya akreditasi itu dapat memberikan motivasi agar lebih berprestasi.

“Lewat akreditasi ini, kami ingin organisasi menjadi lebih visioner yang selanjutnya punya minat kuat untuk meningkatkan profesionalisme terhadap organisasi dan olahraga yang dibawahi,” kata Yuni kepada SHNet.

Memang, sejauh ini, proses pemberian akreditasi masih dilakukan dengan cara BSANK mendatangi organisasi cabang olahraga, serta belum mewajibkan mereka untuk melakukan akreditasi. Meski begitu, Yuni memastikan ke depannya akreditasi organisasi cabang olahraga akan diwajibkan.

“Ya tentu seharusnya wajib. Tapi, saat ini belum bisa karena ketersediaan sumber daya baik tenaga, dana, dan lainnya yang memang masih ada keterbatasan,” jelas Yuni.

Terkait akreditasi BSANK, Kemenpora berperan sebagai mediator. Mereka memberikan indikator dan aspek apa saja yang perlu dinilai untuk mendapatkan akreditasi dimaksud. (Nonnie Rering)