Mendulang Rupiah di Festival Cross Border Badau

Mendulang Rupiah di Festival Cross Border Badau

Penjual kerajinan di Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau. (Dok. Kementerian Pariwisata)

SHNet, Badau- Pos Lintas Batas Negara (PLBN) sejak Minggu pagi sudah mulai dipadati masyarakat. Mereka bukan hanya masyarakat dari Kabupaten Kapuas Hulu saja, tetapi juga dari Malaysia.

Mereka tidak hanya ingin menyaksikan konser dangdut di Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau, tetapi ada juga yang mendulang rupiah dengan menjajakan makanan, minuman, kerajinan tangan dan sebagainya.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau selama 2 hari, 4-5 Mei 2019 dengan tujuan, selain menjaring wisatawan mancanegara (Wisman) dari Malaysia, juga untuk pemberdayaan masyarakat di daerah perbatasan dalam meningkatkan ekonomi.

“Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau merupakan komitmen Kemenpar dan pimpinan di daerah dalam mengembangkan pariwisata sesuai dengan program nawacita yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo yakni membangun perekonomian dari pinggiran,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Area III, Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II, Kementerian Pariwisata, Sapto Haryono.

Sapto menambahkan, crossborder merupakan salah satu strategi Kemenpar super extra ordinary dalam meningkatkan kunjungan wisatawan Malaysia ke Indonesia. Kemenpar memprogramkan kegiatan festival Crossborder Badau tahun ini sebanyak 3 kali.

Dampak ekonomi dari pelaksanaan Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau dirasakan oleh para pedagang.

Hendro, penjual es jeruk besar ikut mendulang rupiah di Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau. (SHNet/stevani elisabeth)

Hendro, pedagang es jeruk besar kepada SHNet mengaku, hari pertama dia meraih keuntungan sebesar Rp 500 ribu. Sehari-hari, Hendro jualan es jeruk besar di alun-alun Putussibau dengan rata-rata keuntungan yang diraih Rp 300 ribu per hari.

Hal yang sama juga dirasakan oleh pengrajin tenun, Susana. Pemiliki galeri Kumang Pagari ini mengaku meraih kuntungan sebesar Rp 1 juta di hari pertama. Menurutnya, aksesoris yang terbuat dari manik-manik yang paling laris terjual.

Ia berharap, festival di daerah perbatasan dapat terus diselenggarakan. “Kalau bisa waktu untuk kami berjualan jangan terlalu singkat. Bagusnya, kami bisa jualan dari pagi, sehingga dapat keuntungan lebih banyak lagi,” kata Susana.

Sementara Hendro mengusulkan agar retribusi yang ditarik dari para pedagang selama berlangsungnya festival cross border tidak terlalu besar.

Rata-rata pedagang makanan, minuman dan kerajinan meraih keuntungan sebesar 10-50 persen dari festival cross border. Masyarakat Badau yang sehari-hari bekerja sebagai petani, juga bisa tambah penghasilan dengan berjualan minuman dan makanan.

Berdasarkan data dari PLBN Badau, capaian wisman dari penyelenggaraan Festival Wonderful Indonesia Crossborder Badau selama 4-5 Mei 2019 diperkirakan sebesar 1181 wisatawan Malaysia. Adapun perputaran uang selama dua hari penyelenggaraan festival tersebut sekitar Rp 930 juta.

Sapto mengatakan, keuntungan yang diraih olah para pedagang selama penyelenggaraan Festival Wonderful Indonesia Cross Border Badau ini merupakan multipiler effect dari pariwisata. (Stevani Elisabeth)