LanduseSim, Perangkat Lunak Pemodelan dan Simulasi Dinamika Lahan untuk Perencanaan Wilayah

LanduseSim, Perangkat Lunak Pemodelan dan Simulasi Dinamika Lahan untuk Perencanaan Wilayah

ilustrasi / ist

SHNet, Surabaya – Menata sebuah wilayah terutama daerah kota tentu bukanlah sebuah pekerjaan mudah karena perlu pula dipertimbangkan visi ke depan dampak perubahan dan pengembangan penataan wilayah tersebut baik secara struktur, fungsional, dan visual.

Perencanaan menata kota menjadi sebuah pekerjaan vital yang berdampak dalam pengembangan kota, baik secara fisik dan nonfisik. Hingga saat ini banyak perencanaan kota masih menggunakan cara konvensional, yakni dengan analisa oleh para ahli perencana lewat metode trend oriented. Metode ini merupakan perencanaan dengan memperhatikan masa kini serta prediksi rencana masa mendatang.

Namun Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada tahun 2014 berhasil membuat sebuah software yang mampu merencanakan suatu wilayah / kota dengan menggunakan metode trend oriented dan target oriented sekaligus. Software ini bernama LanduseSim.

Sejak peluncurannya tahun 2014, LanduseSim telah digunakan oleh beberapa peneliti lokal maupun internasional. Beberapa peneliti luar yang menggunakan aplikasi LanduseSim berasal dari 40 universitas eropa dan asia, antara lain terdata 6 Associate Profesor, 2 Profesor, dan lebih dari 50 mahasiswa doktoral.

Software yang diprakarsai oleh inventor Nursakti Adhi Pratomoatmojo, ST. M.Sc itu merupakan perangkat lunak besutan departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS yang mampu melakukan perencanaan kota melalui simulasi spasial. LanduseSim secara singkat bisa dideskripsikan merupakan perangkat lunak
untuk memodelkan, mensimulasikan, memprediksi perubahan pola ruang/tutupan lahan/penggunaan lahan, dan berguna untuk membantu proses merencanakan wilayah dan kota. Aplikasi ini berguna untuk memprediksi dinamika spasial penggunaan lahan/tutupan lahan/pola ruang di masa yang akan datang. Dengan kemampuan memprediksi, maka perencanaan yang dilakukan akan lebih baik.

Nursakti Adhi Pratomoatmojo

Software ini tidak hanya mampu menampilkan visualisasi, tetapi juga menggunakan metode ilmiah yang kuat. Karena menggunakan variable-variabel untuk perubahan lahan.

“Semisal dalam merencanakan suatu kawasan kota, lewat software ini sudah dapat diprediksi berapa target permukiman yang akan ada di masa mendatang dan fasilitas penunjang apa saja yang perlu disiapkan,” jelas pria yang akrab disapa Sakti tersebut.

Di Indonesia sendiri, LanduseSim telah digunkan oleh 58 pengguna (20% mahasiswa doktoral), dan lainnya konsultan, organisasi internasional, LSM, birokrasi pemerintah, dan mahasiswa pascasarjana. LanduseSim juga telah mendapatkan penghargaan sebagai JUARA I – Lomba riset inovasi teknologi INSAN CENDEKIA UTAMA (INDIKATAMA) Tingkat Nasional, Kategori Dosen dan Mahasiswa, yang diadakan pada 6 Desember 2014 oleh BIBV-ITS (Badan Inovasi dan Bisnis Ventura) Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Salah satu keunggulan LanduseSim seperti yang diklaim Sakti, software ini mudah digunakan, fiturnya juga mampu memprediksi perubahan lahan yang sebelumnya masih kosong. Meskipun begitu software ini harus dioperasikan oleh pengguna yang paham betul mengenai komputasi dan sistem informasi geografis. “Sejauh ini, penggunaannya banyak dimanfaatkan oleh dosen, para mahasiswa yang sedang disertasi dan konsultan,” ujar Sakti.

Sejak peluncurannya di tahun 2014 , LanduseSim telah menghasilkan pendapatan lebih dari Rp 150.000.000,- dari sekitar 70 lisensi software yang terjual (dalam maupun luar negeri). Selain itu dana operasional riset yang didapatkan dari hibah perguruan tinggi yang berasal dari proposal penelitian yang diusulkan menggunakan LanduseSim (3 penelitian) dengan total dana berkisar Rp 102.000.000,-. Dengan demikian keuntungan
ekonomi yang didapat menggunakan LanduseSim hingga 2015 mencapai Rp 250.000.000,-.

Dengan adanya LanduseSim paradigma perencanaan di Indonesia secara umum dirasakan mulai bergeser dari pendekatan konvensional menjadi modern, dengan
pertimbangan teknologi. Hal ini tentu saja memberikan berdampak positif bagi peningkatan kualitas produk perencanaan spasial yang dihasilkan. (*)