Kemenristekdikti Dorong PTS di Papua Buka Prodi Kuliner dan Pariwisata

Kemenristekdikti Dorong PTS di Papua Buka Prodi Kuliner dan Pariwisata

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir saat Rapat Kerja Wilayah Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIV Papua - Papua Barat Tahun 2019. (Dok. Humas Kemenristekdikti)

SHNet, Denpasar – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Papua Barat dan Papua untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia terkait potensi Tanah Papua.

Ada banyak potensi Papua yang akan menyejahterakan Orang Asli Papua (OAP), apabila perguruan tingginya menyediakan program studi yang mendukung potensi tersebut.

“Di Papua ada pusat wisata terkenal, yaitu di Raja Ampat yang begitu indah, begitu bagus, bagaimana sumber daya manusia penyedia wisatanya? Kalau orang wisata itu ada berbagai keinginan. Di laut sudah jelas bagus buat yang ingin diving, tapi malam harinya harus diadakan kegiatan kalau wisata,” ungkap Menristekdikti saat Rakerwil yang diselenggarakan di Hotel Grand Inna Kuta Bali, kemarin.

Ia mengungkapkan untuk dapat berinovasi dalam pariwisata di Raja Ampat, diperlukan program studi yang dapat melahirkan lulusan yang mampu melihat potensi pariwisata di Papua. Nasir juga menyampaikan PTS di Papua dapat belajar dan bekerja sama dengan perguruan tinggi di Bali yang sudah lama mengembangkan program studi terkait wisata.

“Program studi pariwisata menjadi sangat penting. Kalau program studi itu penting, berikutnya ikutannya adalah (program studi) kesenian harus kita dorong. Yang ketiga program studi kuliner. Mungkin nanti kalau bisa kita lakukan kerja sama di Bali ini,” ungkap Nasir.

Dalam pengembangan potensi kuliner di Papua, PTS dan pemuda di Papua belum banyak yang mengembangkan dan mengemas makanan pokok khas Papua, yaitu sagu.

Menteri Nasir mengakui dirinya saat ini rutin mengkonsumsi sagu setiap hari setelah mengetahui kelebihan makanan pokok ini dibanding nasi, namun Nasir menyampaikan sagu perlu dikembangkan lagi oleh pemuda dan perguruan tinggi di Papua Barat dan Papua.

“Saya sekarang setiap hari konsumsi sagu juga. Ternyata sagu itu glutennya sangat rendah, tapi sagu yang sudah dibuat kotak-kotak yang saya masukkan air panas ke mangkuk langsung memuai. Kalau saya ke Maluku selalu beli itu. Bagaimana mengolah sagu menjadi modern, ini yang sangat penting. Tanpa pendidikan, tidak mungkin kita akan ubah ini,” papar Menristekdikti.

Menristekdikti menyampaikan pemerintah akan terus mendorong PTS di Papua untuk mengembangkan program studi dan meningkatkan akreditasinya, selama perguruan tinggi tersebut tidak bermasalah, termasuk tidak memiliki konflik antara pimpinan perguruan tinggi dengan pimpinan yayasan sebagai badan penyelenggara perguruan tinggi tersebut.

“Jangan sampai perguruan tinggi terjadi konflik antara yayasan dengan pimpinan perguruan tingginya. Kalau terjadi konflik, akan merugikan mahasiswa. Harus dijaga betul peraturan yang ditetapkan oleh yayasan dan pimpinan perguruan tinggi,” harap Nasir.

Dalam kesempatan ini, turut hadir Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV (Papua dan Papua Barat) Suriel Samuel Mofu. Dalam sambutannya, mantan Rektor Universitas Papua (Unipa) ini berharap pimpinan PTS dan pimpinan yayasannya yang hadir dapat menyampaikan aspirasi dan pertanyaan langsung kepada Menristekdikti dan para eselon Kemenristekdikti yang turut hadir. (Stevani Elisabeth)