Dusun Alpukat, Letaknya Berada di Desa Kebondalem

Dusun Alpukat, Letaknya Berada di Desa Kebondalem

SHNet, Jakarta – Dusun Kalibening, Desa Kebondalem, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kini tengah membuddayakan buah alpukat. Untuj itu dibutuhkan kehadiran pemerintah. Para petani mengakui, keberpihakan ini penting guna mendorong kesejahteraan para petani yang selama ini masih berada di bawah bayang-bayang para ‘pengijon’.



Hal ini diungkapkan oleh, Kepala Dusun (Kadus) Kalibening, Mulyanto, yang ditemui di kebun alpukat Kalibening. Ia mengungkapkan, Dusun Kalibening selama ini dikenal sebagai sentra penghasil buah alpukat berkualitas di wilayah Kecamatan Jambu bahkan di Kabupaten Semarang.

Dusun ini pun cukup dikenal dengan sebutan ‘dusun alpukat’, karena warganya jamak membudidayakan tanaman buah ini dari pekarangan dan kebun mereka. Pada saat masa penen raya, produksi buah alpukat di dusun ini sangat melimpah, dengan rata-rata bisa mencapai 50 hingga 70 ton setiap masa panen.

Ada tiga jenis tanaman alpukat yang dibudidayakan para petani dengan keunggulan masing-masing, yang meliputi jenis Si Manis, Kalung, serta Kendil.

Bahkan dua jenis di antaranya, Si Manis dan Kalung, saat ini telah mengantongi sertifikat atas pengakuan sebagai buah alpukat dengan kualitas yang unggul dari Kementerian Pertanian. Hanya saja, potensi buah ini belum begitu signifikan untuk mengangkat kesejahteraan para petani yang membudidayakannya.

Selain belum memiliki pasar langsung kepada pembeli, para petani juga belum memiliki koperasi yang dapat menampung hasil panen sebelum dijual kepada pembeli langsung. “Selama ini, para petani mennual hasil panen melalui perantara dan belum bisa menembus pembeli hasil panen langsung,” jelasnya.

Hal ini diamini oleh Jumari (48), salah seorang petani alpukat di Dusun Kalibening, yang dikonfirmasi terpisah. Bahkan, lanjutnya, karena kualitas yang sudah terbukti, buah alpukat Kalibening ini jamak menjadi incaran dan sudah diburu para pengijon.

Karena tak sedikit para petani yang tergoda oleh uang di muka. “Masih bunga saja di sini alpukat sudah laku dibeli para pengijon,” tandasnya.

Akibatnya, lanjut Jumari, para petani tak dapat meraup untung yang lebih baik karena praktik pengijon ini. Ia mencontohkan, misalnya saat tanaman alpukat masih berbunga dibeli oleh pengijon Rp 4 juta. 

Namun pada saat panen dan diambil pengijon hasilnya bisa laku dijual Rp 7 hingga Rp 8 juta. “Artinya selisih Rp 4 juta dari hasil penjualan hasil panen ini yang menikmati para pengijon dan bukan petani,” jelasnya.

Camat Jambu, Edy Sukarno, mengamini persoalan yang dihadapi para petani alpukat di Dusun Kali Bening ini. Pihak Kecamatan Jambu, jelasnya, tengah menginisiasi dibentiknya koperasi untuk menampung hasil panen para petani. 

Koperasi ini dikelola oleh para petani melalui kelompok tani. Nantinya, para pembeli harus mengambil hasil panen satu pintu dari koperasi. Selain harga jual yang terjaga, cara ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani.

Setelah koperasi ini terwujud, lanjut Edy, para petani juga akan difasilitasi untuk mengakses perbankan. Sehingga para petani tidak lagi tergiur oleh iming-iming pengijon.

“Kami masih berkoordinasi dengan pemerintah desa dan para petani guna mewujudkan rencana ini,” kata Camat Jambu.  (Maya)