Desa Kaliabu Penghasil Brem Yang Terkenal

Desa Kaliabu Penghasil Brem Yang Terkenal

Madiun, Jawa Timur, sejak dahulu menjadi daerah lintasan bagi masyarakat yang bepergian ke Surabaya, atau ke Solo di Jawa Tengah. Di Madiun, pelancong bisa membeli oleh-oleh khas berupa brem yang sudah melegenda sejak zaman Belanda. Penganan dari fermentasi beras ketan ini pun mampu menjadi pengungkit ekonomi masyarakat.

Matahari baru keluar dari peraduannya dan sejumlah perempuan di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, telah riuh beraktivitas. Sebagian menyongsong terbitnya sang surya dengan menjemur brem.

Brem dengan potongan berbentuk persegi panjang itu diletakkan di atas tempat anyaman bambu. Potongan brem ditata rapi supaya mendapat penyinaran matahari yang rata.

”Hampir sebagian besar produsen mengandalkan sinar matahari (untuk pengeringan) karena gratis. Prosesnya juga cepat sebab hanya memerlukan waktu maksimal tiga hari,” ujar Dian Handayani (35), pekerja.

Madiun merupakan salah satu daerah penghasil brem di Tanah Air. Brem juga dihasilkan di Wonogiri, Jawa Tengah, serta di Bali dan Nusa Tenggara Timur. Setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri. Brem Madiun, misalnya, berwarna kuning keemasan, sedangkan brem Wonogiri berwarna putih.

Pusat produksi brem di Madiun berada di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan dan Desa Bancong, Kecamatan Wonoasri. Di dua desa yang berlokasi di daerah Caruban ini, terdapat rumah-rumah produksi brem yang dikelola oleh industri rumahan dengan skala usaha mikro kecil dan menengah.

Sejumlah pengusaha mengatakan bahwa pembuatan brem sudah ada sebelum Belanda menjajah bumi pertiwi. Resep dan cara pembuatan brem diwariskan turun temurun. Bedanya, zaman dulu brem dijual tanpa merek. Kini, pengusaha melabeli produknya untuk memudahkan promosi dan menggaet pembeli. Di Madiun, sebagian besar merek brem menggunakan nama suling seperti Suling Mas, Suling Gading, Suling Mustika, dan Suling Istimewa.

Sani Sugiyo (50), salah satu pengusaha brem, mengatakan, hampir semua pelaku usaha masih memproduksi brem secara tradisional. Beras ketan dimasak. Setelah matang didinginkan dan diberi ragi, kemudian didiamkan beberapa hari. Setelah menjadi tape ketan, kemudian diperas dengan alat khusus untuk diambil air atau sarinya.

”Proses berikutnya, air ketan dimasak dengan dicampur bahan khusus. Setelah matang, didinginkan di atas cetakan hingga menjadi brem. Baru kemudian dijemur,” ujarnya.

Setiap hari, Sani mampu memproduksi 100 kilogram brem. Selain dibantu keluarga, dia juga dibantu tiga karyawan yang diberi upah Rp 30.000 per orang per hari. Dalam sebulan rata-rata karyawan menerima Rp 900.000, hampir setara dengan upah minimum Kabupaten Madiun tahun 2013 sebesar Rp 960.000 per bulan.

Brem yang sudah jadi, dijual secara grosir dengan harga Rp 15.000 per kilogram. Pembelinya para pedagang bahkan pemegang merek tertentu. Merekalah yang mengemas produk itu dalam kardus kecil. Dari pedagang, brem dijual per kardus mulai Rp 11.000 hingga puluhan ribu rupiah tergantung banyaknya isi.

Omzet Sani sehari Rp 1,5 juta atau Rp 45 juta sebulan. Setelah dipotong biaya produksi dan upah pekerja, dia memperoleh margin sekitar 30 persen atau hampir Rp 15 juta per bulan. Penghasilan yang lumayan besar untuk kehidupan di pedesaan seperti di Desa Kaliabu. (Maya)