Bertambah lagi, 2000 UMKM di Surakarta Berjualan Secara Online Lewat Marketplace

Bertambah lagi, 2000 UMKM di Surakarta Berjualan Secara Online Lewat Marketplace

Seorang pandu digital tengah melatig pedagang UMKM menjual secara online lewat smartphone. (Ist)

SHNet, Surakarta – Grebek Pasar UKM Go Online di Kota Surakarta yang diselenggarakan oleh Direktorat Ekonomi Digital, Ditjen Aplikasi Informatika, Kominfo telah berakhir pada Sabtu (11/5).

Kegiatan yang diselenggarakan selama 12 hari sejak 29 April lalu, berhasil menambah 2000 pedagang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berjualan online melalui marketplace dengan tujuan memperluas aera pemasaran dan meraih keuntungan yang berlipat ganda.

Kegiatan ini juga sudah dilakukan di beberapa kota antara lain Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang dan Pangandaran, sedangkan di Bandung. Baru dibuka pada 9 Mei lalu.

Grebeg Pasar UMKM Go Online adalah kegiatan yang dilakukan di beberapa pasar rakyat di beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia yang meliputi sosialisasi, pendampingan dan pemanduan bagi para UMKM agar dapat memperluas jangkauan berdagang dan mampu meningkatkan laba dengan membuka toko online di marketplace.

Sebanyak dua puluh empat pandu digital direkrut kemudian diberikan pelatihan. Para pandu digital diterjunkan ke pasar-pasar, berkeliling ke kios-kios pedagang untuk melakukan sosialisasi, pendampingan dan pemanduan pagi para pedagang pasar. Sebuah booth didirikan di area pasar guna memperlancar proses pemanduan bagi para pedagang agar lebih fokus. Tak ketinggalan banyak juga pengunjung pasar yang mampir ke booth.

Para pengunjung tersebut ternyata memiliki usaha juga namun belum berjualan di marketplace. Mereka meminta pandu digital untuk memandu langkah demi langkah agar bisa berjualan di marketplace.

Disambut apik oleh stakeholder, Grebeg Pasar UMKM Go Online di Kota Surakarta mendapat dukungan dari Shopee dan Tumbasin sebagai operator marketplace, serta OVO dan Qren sebagai operator pembayaran digital yang hadir mendampingi para pandu digital. Dukungan stakeholder sangat penting agar pedagang dapat tereduikasi dengan leih detil akan manfaat toko online dan pembayaran digital.

Seperti diketahui, berjualan di marketplace sangat banyak keunggulannya. Selain gratis, marketplace menawarkan jauh lebih efektif dan efisien karena pedagang dapat berjualan kapan saja dan dimana saja namun area dagangnya lebih luas. Selain banyak promo yang dibuat oleh operator untuk mengumpulkan calon pembeli, para pedagang juga menerima promo seperti gratis ongkos kirim misalnya.

Terlebih lagi marketplace menawarkan keamanan, transparansi dan kecepatan pada proses transaksi dan kesemua transaksi tersebut akan tercatat sehingga memudahkan pembukuan.

Kepala Seksi Pengembangan dan Fasilitasi Platform Perdagangan Puti Adella Elvina mengucapkan banyak terimakasih kepada para pandu digital yang telah gigih menyambangi kios demi kios pedagang pasar dan sabarnya mereka menghadapi keluh kesah pedagang di pasar-pasar. Bahkan ketika sebagian dari para relawan ini berpuasa, mereka tetap semangat tak kenal lelah.

“Saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada pandu digital Solo yang pantang menyerah, tetap semangat meski berpanas-panas berkeliling kios ke kios meskipun sedang puasa”, ucap Ade.

Ade juga mengucapkan terimakasih keada stakeholder yang memberikan dukungan dari awal hingga pungkasan. Menurut Ade kedatangan para stakeholder mendapingi para pandu digital adalah bentuk kepedulian dan perhatian para stakeholder kepada pandu digital dan pedagang di pasar-pasar.

“Saya juga mengucapkan terimakasih atas dukungan Shopee, Tumbasin, OVO dan Qren yang juga terjun ke lapangan untuk mendampingi para pandu digital dan membantu memberikan sosialisasi kepada para pedagang,” sambung Ade.

Disamping Pasar Nusukan, Pasar Notoharjo, Pasar Cinderamata, Pasar Eplabes, Pasar Ngudirejeki dan Pasar Triwindu, para pandu digital menyempatkan diri untuk bertandang di pasar-pasar lain. Demi memaksimalkan waktu agar makin banyak pedagang pasar yang dapat di on-boardingkan ke marketplace. Pasar lainnya antara lain Benteng Trade Center, Pusat Grosir Solo, Pasar Singosaren, Pasar Depok dan berbakai lokasi lain yang mana terdapat banyak pedagang UMKM.

Ayu Lestari (18), salah seorang pandu digital mengatakan bahwa ada kendala di beberapa pedagang ternyata usianya sudah lanjut, dan tidak memakai smartphone. Banyak juga pedagang yang sudah berjualan secara online, namun masih di platform media sosial. Padahal media sosial yang dipakai untuk jual/beli masih menyimpan celah kecil yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk melancarkan aksi penipuan.

“Khususnya di pasar-pasar tradisional banyak pedagang yang sudah lansia, dimana mereka ini kan gaptek. Hp saja masih yang lama (belum smartphone). Kami tetap melakukan sosialisasi, agar nantinya beliau atau anaknya mungkin yang memiliki smartphone dapat menginstall marketplace untuk berjualan secara online”, tutur Ayu.

Satu lagi kendala yang umumnya terjadi di pasar-pasar adalah susah sinyal. Di area basement dan area-area yang lebih tertutup serta padat, susah sinyal sangat jamak. Untung saja Kominfo menyediakan booth kecil yang didirikan di dalam pasar.

“Kalau lagi di kios-kios basement itu sering sinyal suka tiba-tiba hilang bahkan kesemua operator telepon. Bagi mereka kami ajak ke booht agar proses boarding menjadi lebih mudah,” sambung Ida Apriani (46), pandu digital yang lain.

Tingginya potensi UMKM di Surakarta untuk berjualan di marketplace diungkapkan oleh Sumarno, Kasubdit. Pengembangan Ekonomi Digital Pariwisata, Transportasi dan Perdagangan, Kementerian Kominfo.

Ia melihat Solo sebagai kota dengan industri kreatif yang besar. Bahkan mindset masyarakatnya juga sudah maju. Dengan julukan kota batik, Solo adalah kota yang sangat berprospek untuk lebih maju di pasar digital.

“Saya melihat solo ini kan masyarakatnya sudah maju. Orang-orangnya juga kreatif, ini Kota Batik loh, nah kan seluruh Indonesia itu tau kualitas Batik Solo seperti apa, industri lainnya seperti apa. Dengan berjualan secara online, mereka (UMKM) ini bisa berjualan ke seluruh Indonesia. Jangan batik saja, jangan tekstilnya saja. Kerajinan, cinderamata, serta makanan (snack oleh-oleh) itu kan potensi juga (untuk dijual secara online),” kata Sumarno. (Stevani Elisabeth)