Selat Sunda Sudah Aman, 49 Event Menanti Wisatawan

Selat Sunda Sudah Aman, 49 Event Menanti Wisatawan

Kawasan Selat Sunda sudah aman. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Banten – Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan, kawasan Selat Sunda sudah aman untuk dikunjungi wisatawan pasca tsunami yang menerjang kawasan ini 22 Desember silam.

Ia mengatakan, berdasarkan pengamatan intensif dari Badan Geologi, telah terjadi penurunan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan tidak ada fenomena tumbuh.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM pada 25 Maret 2019 telah menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari level III (siaga) menjadi level II (waspada) dengan radius aman 2 km dari kawah Anak Gunung Krakatau.

Menurut Arief Yahya, penetapan status, pengaruhnya sangat besar bagi pariwisata. Ini dirasakan ketika erupsi Gunung Agung di Bali.

“Ketika itu, Gunung Agung statusnya awas. Persepsi masyarakat dan orang asing beragam. Saya sampai minta duta besar China untuk mencabut travel warning. Dia bilang, bagaimana saya bisa rekomendasi untuk cabut travel warning kalau pemerintah Anda masih menetapkan status tanggap darurat,” tuturnya saat pelaksanaan Jumpa Pers Jurnalisme Ramah Pariwisata, di KEK Tanjung Lesung, Banten, Senin (1/4).

Akibat travel warning tersebut, Bali kehilangan sekitar Rp.1,5 triliun. Setelah status bahaya dicabut, pada April 2018 sektor pariwisata Bali dinyatakan normal kembali.

“Kalau status bahaya ditetapkan di Banten, apakah mungkin wisatawan khususnya wisman datang ke sini? tentu tidak ada wisatawan yang akan datang. Di Selat Sunda, status sekarang waspada tapi hanya radius 2 km dari kawah Anak Gunung Krakatau. Daerah lainnya aman dikunjungi. Saya minta, Banten jangan menetapkan status bahaya. Peran media juga sangat penting dan diperlukan untuk menyampaikan informasi Selat Sunda aman,” ujarnya.

Menpar menjelaskan sejak bencana tsunami Selat Sunda, okupansi hotel di Banten termasuk Anyer yang tidak terkena dampak menjadi rendah. Rata-rata okupansi hotel di Banten, termasuk Tanjung Lesung, hanya mencapai 10-30%.

Dia mengatakan, untuk menarik wisatawan berkunjung ke Banten, khususnya kawasan Selat Sunda, telah disiapkan 49 event. “Dari 49 event tersebut, ada 16 event yang sudah selesai diselenggarakan. Saya minta 33 kegiatan diselesaikan hingga Juni 2019,” ujarnya.

KEK Tanjung Lesung ditargetkan mampu menarik 1 juta wisman atau setara dengan US$ 1 milyar. “Dari awal sudah dideklarasikan 1 juta wisman atau US$ 1 milyar. Saya janjikan kepada Presiden kalau Tol Panimbang dibangun maka akan mendatangkan lebih banyak devisa dibandingkan nilai investasi yang dikeluarkan,” ujar Menpar.

Untuk mendatangkan wisatawan mancanegara, pembangunan bandara dinilai Menpar diperlukan di Banten. “Ada akses jalan tol itu baik karena mampu mempersingkat perjalanan wisatawan menjadi dua jam, tapi bandara Banten juga diperlukan. Sebagai contoh, jumlah kunjungan ke Toba lewat bandara Silangit meningkat dari tahun 2017 sebesar 280 ribu menjadi 420 ribu di tahun 2018. Saya rasa dengan adanya bandara, Banten mungkin sekali mendatangkan lebih banyak wisatawan,” ungkap Menpar.

Untuk memikat wisatawan, KEK Tanjung Lesung sudah menyiapkan berbagai program menarik. “Dari Tanjung Lesung kita sedang mengembangkan program selain wisata pantai juga wisata desa. Kita juga mempersiapkan berbagai amenitas seperti beach club Lalassa,” ujar Presiden Direktur PT Banten West Java (BWJ), Purnomo Siswoprasetijo selaku pihak pengelola KEK Tanjung Lesung.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. (SHNet/stevani elisabeth)

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti yang juga Ketua Tim Manajemen Krisis Kemenpar mengatakan, BMKG telah memasang perangkat teknologi canggih untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Menurutnya, tiga bulan pasca tsunami di Selat Sunda kondisi ekonomi masyarakat setempat belum 100 persen pulih. “Tiga bulan ini kondisi ekonomi belum 100 persen pulih, “ujarnya. (Stevani Elisabeth)