Optimisme Silent Majority Yang Tak Lagi Silent

Optimisme Silent Majority Yang Tak Lagi Silent

OPTIMISTIS - Dilla Amran (kanan) menceritakan kalau pesan-pesan optimistis yang kerap digaungkan Jokowi sejak awal kampanye yang dirasa relevan bagi anak-anak muda Indonesia. Tak heran Konser Putih Bersatu pada 13 April di Stadion GBK dipadati mayoritas anak muda. (Ist).

 SHNet, JAKARTA – Saya missed out Konser 2 Jari 2014. Waktu itu saya merasa tidak perlu datang. Malas. Pada 2014 saya tidak koar-koar mendukung @jokowi. Begitu juga dengan teman-teman di echo chamber saya. Saya dan teman-teman dulu adalah bagian dari silent majority pemilih Jokowi.

2019 is a whole different story. Seorang teman yang dulu tidak pernah bahas politik kini rajin menanyakan hasil survei. Teman yang lain, bersemangat mengajak ngopiuntuk mencari tahu program-program apa yang ditawarkan oleh pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin, hanya agar nantinya bisa pamer kalau tahu banyak. 

Saya juga diundang ke puluhan whatsapp group untuk mendiskusikan kampanye pasangan calon 01. Mereka adalah orang-orang yang sepengetahuan saya cukup apatis dengan politik selama ini. Saya tanya mereka satu persatu apa yang membuat mereka “turun lapangan” dan bersikap kali ini. Jawabannya: Pesta Demokrasi ini mesti kita kawal! Optimisme Indonesia harus kita jaga!

Di buku Generasi Langgas, saya dan Yoris Sebastian sudah menuliskan mengenai optimisme generasi muda atau yang biasa disebut millennials. Ciri-ciri positif dari Generasi Langgas adalah kepercayaan diri yang tinggi, pemikiran yang terbuka dan optimisme tinggi terhadap masa depan. 

Tidak heran jika kemudian Konser Putih Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 13 April 2019 dihadiri mayoritas anak muda. Pesan-pesan optimis yang digaungkan oleh Jokowi dari sejak awal kampanye inilah yang dirasa relevan bagi anak-anak muda Indonesia.

Sejak pertengahan Februari 2019, Jokowi dan Ma’rufAmin terus mengangkat semangat optimis dalam membangun Indonesia. Jokowi-Amin juga mengajak seluruh pendukungnya untuk terus menjaga optimisme tersebut. 

Di sisi lain, banyak sekali anak muda yang mengeluh ke saya mengenai retorika pesimisme yang diangkat Paslon02. Karakteristik Generasi Langgas yang berpikiran terbuka, tidak sesuai dengan retorika ekonomi tertutup yang diusung Prabowo dan Sandi dengan antiimpor. Hal ini juga tercermin dalam survei yang dilaksanakan Index Politica yang menyatakan kerja nyata dan optimisme menjadi faktor millennial memilih Jokowi. Survei tersebut menyatakan 49,79% millennial memilih Paslon 01 dibandingkan dengan 40,24% memilih Paslon 02.

Sejak menerbitkan Generasi Langgas, saya jadi banyak bertemu dengan anak-anak Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri, yang kemudian memutuskan pulang ke Tanah Air dan berkontribusi demi kemajuan bangsa. Tidak sedikit dari mereka yang sedih ketika mendengar bagaimana Indonesia dianggap belum maju oleh Prabowo dan Sandi. 

Mereka yang telah melihat Indonesia dari kacamata orang luar, merasa bahwa Indonesia berada di posisi yang bagus secara global. Mereka menilai ada banyak kesempatan tersedia di Indonesia, yang dapat digunakan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Retorika optimis vs pesimis inilah yang akhirnya meningkatkan kepedulian anak muda terhadap politik di Indonesia. Terasa sekali bagaimana pada hari-hari terakhir kampanye banyak anak muda yang menentukan dan mengumumkan sikap pilihan mereka. Satu persatu mulai mengunggah alasan-alasan mereka memilih Jokowi–Ma’ruf Amin. Berkat Konser Putih Bersatu, silentmajority kini tidak lagi sunyi.   (Diceritakan Dilla Amran – co-writer Generasi Langgas kepada media juga SHNet, Nonnie Rering)