Mensos: Keluarga dan Pesantren Sumber Kesejahteraan Sosial

Mensos: Keluarga dan Pesantren Sumber Kesejahteraan Sosial

Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita di Pondok Pesantren Ath-Thohariyyah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (11/4). (Dok. Humas Kemensos)

SHNet, Tasikmalaya– Keluarga dan pondok pesantren memiliki peran strategis khususnya untuk menanggulangi masalah kesejahteraan sosial. Hal tersebut diutarakan oleh Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita di Pondok Pesantren Ath-Thohariyyah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (11/4).

Menurutnya, keluarga merupakan salah satu potensi sumber kesejahteraan sosial. Dalam keluarga yang disemai nilai-nilai luhur akan tumbuh akar kuat yang dapat mencegah dan menangkal berbagai masalah kesejahteraan sosial, termasuk masalah penyalahgunaan narkoba.

“Jika kita memiliki cita-cita untuk menjadi bangsa dan negara yang besar, maka kita harus mengawalinya dengan menghadirkan pendidikan dan penanaman nilai-nilai luhur dari keluarga. Keluarga punya peran penting dalam pembangunan,” ujarnya.

Mensos mengingatkan pesan Presiden Joko Widodo, bahwa pemerintah tidak hanya menekankan pembangunan fisik, namun juga berkomitmen membangun kualitas sumber daya manusia.

Kehadiran Mensos dalam rangka menghadiri kegiatan Sosialisasi Peningkatan Peran Keluarga dan Pondok Pesantren Dalam pencegahan Penyalahgunaan Narkoba sekaligus pemberian 2000 paket sembako. Mensos menghimbau kepada para santri agar waspada dengan peredaran narkoba yang belakang ini semakin marak, karena persoalan ini akan menjadi penghalang bahkan perusak kemajuan bangsa.

Berdasarkan informasi dari 164 Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), tahun 2018 lalu saja sebanyak 15.513 orang telah menerima bantuan rawat jalan dan untuk menjalani rawat inap, dan jumlah tersebut hanya jumlah yang melaporkan dirinya saja.

“Dampak dari penyalahgunaan narkoba ini, selain mendatangkan kerugian materil, tetapi juga merusak syaraf diotak yang menjadi pencetus gangguan kejiwaan atau skizofrenia, dan yang lebih mengerikan lagi menjadi penyebaran HIV-AIDS, TBC, dan Hepatitis C,” kata Mensos.

Pencegahan penyalahgunaan narkoba adalah tanggung jawab semua elemen masyatakat. Jika mendapati anggota keluarga yang dicurigai mengalami perubahan drastis yang tidak stabil, kemungkinan sudah terpapar narkoba.

Mensos meminta masyarat sekitar agar tidak memandang mereka sebagai penjahat murni dan pantas untuk dihukum, melainkan perlu direhabilitasi sosial.

“Mari kita antarkan mereka yang sudah menjadi pecandu untuk melaporkan diri ke IPWL untuk mendapatlan pelayanan rehabilitasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya di mana banyak terdapat pondok pesantren, juga merupakan alternatif solusi yang tepat dalam pencegahan dan rehabilitasi pecandu narkoba” kata Mensos.

Kementerian sosial memiliki beberapa program untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Salah satunya adalah program pemberdayaan keluarga pada Ditjen Pemberdayaan Sosial.

Melalui program tersebut diharapakan dapat meningkatkan dan menguatkan peran keluarga dalam mencegah permasalahan sosial di lingkungan keluarga salah satunya penyalahgunaan narkoba.

Di hadapan 2000-an orang peserta di Pondok Pesantren Ath Thohariyyah, tidak lupa Mensos mengajak agar kita semua dapat bersama-sama melindungi keluarga kita, serta saling mendukung untuk menciptakan Indonesia yang bebas dari narkoba.

“Mari bangsa Indonesia bersatu padu selamatkan keluarga Indonesia dari penyalahgunaan narkoba, bersama memberantas narkoba, keluarga Indonesia adalah keluarga yang tangguh, dan keluarga yang berdaya” kata Mensos. (Stevani Elisabeth)