Melawan Politik Identitas Dengan Cara Yang Lebih Asyik

Melawan Politik Identitas Dengan Cara Yang Lebih Asyik

HADIR - Henry Manampiring, Penulis dan Praktisi Periklanan mengatakan kalau Tahun ini, hadir beragam istilah kekinian dalam percakapan politik, yaitu “politik identitas” dan ini menjadi lebih sengit dari masa-masa sebelumnya. (Ist)

SHNet, JAKARTA – Sebagai praktisi komunikasi dan periklanan, ketertarikan saya kepada Pemilu lebih besar dari sekadar aspek politiknya, tapi juga kreativitas dalam berusaha membujuk pemilih. Apa yang menarik bagi saya tahun ini?

Tahun ini, ada istilah kekinian dalam percakapan politik, yaitu “politik identitas”. Konon, tahun ini politik identitas menjadi lebih sengit dari masa-masa sebelumnya. Calon presiden, partai, atau calon legislatif berusaha mengklaim lebih mewakili identitas tertentu, dan yang paling (dan sedang) populer ya menggunakan identitas agama.

Kesukuan dan etnis juga digunakan, bahkan menggunakan etnis tertentu sebagai kambing hitam untuk menjatuhkan lawan politik. Dulu, saya sempat jengkel dan mengharapkan sebuah dunia utopis, di mana pesta demokrasi bisa bebas dari politik identitas.

Di mana para konstituen bisa mengevaluasi pilihan politiknya dengan rasional, berdasarkan rekam jejak kinerja nyata, berdasarkan program kerja yang ditawarkan, dan lain-lain. Tetapi ya itu, namanya dunia utopis, hanya ada di ranah konsep dan teori. Mungkin baru kejadian di lebaran unicorn, boro-boro lebaran kuda.

Selain itu, politik identitas rasanya tidak akan pernah punah, karena spesies manusia akan selamanya membutuhkan “identitas”. Kita ingin menjadi bagian dari “kelompok”, “grup”, apapun definisinya, karena kita adalah makhluk sosial dan baperan kalo berasa gak ada temen.

Jadi kalo politik identitas tidak akan pernah punah, apa yang bisa dilakukan? Ternyata alih- alih memaksa “melenyapkan” politik identitas, kita justru harus IKUT menggunakan politik identitas. Tetapi politik identitas yang lebih asik! Dan ini yang dilakukan para simpatisan Jokowi dalam mengundang publik untuk menghadiri Konser Putih Bersatu 13 April 2019 di Gelora Bung Karno.

Beberapa hari sebelum konser, mulai beredar undangan elektronik yang mengatasnamakan komunitas lucu-lucu. Beberapa yang sempat berlalu di linimasa saya: Yayasan Perempuan Takut Pulang Karena Taperwer Nyokap Ketinggalan Lupa Di Mana, Paguyuban Korban WA Cuma Di-Read Doang, Klub Orang-Orang Cemas Liatin Di- Disambung Atau Dipisah, Komunitas Makan Harus Ada Krupuk, Skuad Mamah Kece Penghuni Kedai Kopi Sekitar Sekolaan, dan entah puluhan “komunitas” lain yang terkesan absurd tapi beneran nyata ada (contohnya saya yang mulai resah jika makan tidak ada krupuk!)

Bagi saya, inilah cara berkomunikasi dengan “politik identitas (yang lebih asik)”. “Identitas” tidak harus menjadi kaku dengan hanya definisi SARA. Justru penggunaan identitas SARA bisa dilumpuhkan dengan begitu banyak identitas lain yang sebenarnya ada dalam kehidupan nyata.

Tim kreatif Konser Putih Bersatu bisa menciptakan begitu banyak identitas baru yang dijamin bisa merangkul semua orang. Dan ini menjadi antidot bagi politik identitas konvensional yang garang, penuh kecurigaan, kemarahan, dan kebencian.

Politik identitas Konser Putih Bersatu mengundang senyum, tawa, interaksi dengan publik. Tidak heran e-poster komunitas-komunitas unik ini menjadi disebar-luaskan secara organik.

Melawan politik identitas ternyata bisa dilakukan justru dengan ikut melakukannya. Tetapi melakukannya dengan cara yang kreatif, humoris, dan tetap humanis – dengan kata lain, politik identitas yang lebih asik.   (Diceritakan Henry Manampiring, Penulis dan Praktisi Periklanan kepada media termasuk SHNet, Nonnie Rering)