Kurang Gerak dan Pola Makan Yang Salah, Masih Muda Berpotensi Sakit Jantung

Kurang Gerak dan Pola Makan Yang Salah, Masih Muda Berpotensi Sakit Jantung

SHNet, Jakarta –  Akibat pola makan serta gaya hidup  yang salah, banyak masyarakat Indonesia khususnya yang tergolong masih muda lebih berpotensi mengalami penyakit jantung.Hal itu dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, dr. Ario Soeryo Kuncoro, SPJP.

Menurutnya, masyarakat Indonesia yang sangat malas bergerak.Ia menambahkan, budaya makan orang Indonesia juga sulit diubah. Konsumsi garam misalnya, seharusnya tidak lebih dari 2 gram.

“Orang Indonesia minimal mengonsumsi 15 gram per harinya,” ungkapnya.

Demikian juga konsumsi gula dan lemak yang seharusnya masing-masing dibatasi 50 gram dan 67 gram. Orang Indonesia lebih dari angka itu.

Asupan gula, garam, dan lemak yang berlebih akan mendorong munculnya penyakit diabetes, obesitas, dan hipertensi, serta dapat berujung pada stroke, jantung koroner, dan gagal ginjal. Seluruh penyakit tersebut saling berkaitan, sehingga dapat memperkuat satu sama lain.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Setidaknya, 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung. Penyakit ini terdapat dikenali dari gejala nyeri pada dada yang menjalar ke lengan kiri saat beraktivitas.

Angka ini tidak tersebar merata di seluruh Indonesia, namun lebih sering dijumpai pada individu yang berumur, wanita, memiliki tingkat pendidikan rendah, tidak bekerja, serta tinggal di kawasan perkotaan.

Saat ini, penanggulangan penyakit jantung menghabiskan sebagian besar biaya pelayanan kesehatan penyakit katastrofik yang ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional, yakni 52 persen dari total biaya, atau setara dengan 6,7 triliun rupiah.

Sebagai upaya untuk menanggulangi hal ini, pemerintah mulai mendorong berbagai tindakan pencegahan untuk penyakit tidak menular.

“Pemerintah saat ini mengupayakan untuk mengubah mindset, dari pemadam kebakaran menjadi pencegah kebakaran”, ujar dr. Asik Surya, MPPM, Kepala Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah.

Upaya ini antara lain meliputi penguatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM), penatalaksanaan kasus PTM di puskesmas dan rumah sakit, pendekatan lewat gerakan masyarakat, serta regulasi untuk mencantumkan pesan kesehatan pada produk dengan kadar gula, garam, dan lemak tinggi. (Maya)