Desa Banjardowo Penghasil Minuman Arak Yang Mengantongi Ijin

Desa Banjardowo Penghasil Minuman Arak Yang Mengantongi Ijin

SHNet, Solo -Suasana  Desa Plumpung, Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan layaknya perkampungan pada umumnya di Provinsi Jawa Tengah.

Rumah berbentuk limasan menjadi dominasi pemandangan di sela hijau daun padi yang mulai berisi butir padi. Kondisi jalan pun, masih benyak lubang di sana-sini menunjukan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan umumnya mayoritas jalan di Kabupaten Grobogan.

Di tengah perkampungan yang tidak terlalu padat tersebut, anak-anak dengan semangat memainkan bola plastik dan kelereng. Mereka menyulap salah satu halaman rumah warga menjadi lapangan bola, sementara tumpukan sandal jepit dijadikan pembatas gawang.

Namun, ada satu hal yang berbeda dan menjadi tanya tanya pendatang pendatang ketika menghirup lebih dalam udara. Aroma tebu yang terbakar tercium menusuk hidung. Aromanya bagai perpaduan wangi dan manisnya tape.

Begitu memasuki wilayah RT 2 RW 4 Desa Banjardowo, pengunjung bisa melihat tumpukan kayu di depan rumah warga dan sejumlah keranjang yang dilapisi dengan plastik berjajar di sekitar rumah.

Desa itu, keberadaan tumpukan kayu bukan tanpa sebab. Warga memanfaatkan kayu-kayu tersebut sebagai bahan bakar merebus tetes tebu, tape, dan gula merah yang kemudian uap airnya ditampung. Uap air rebusan ini kemudian difermentasi menjadi arak dengan bervariasi kandungan alkoholnya.

Desa Banjardowo, Kabupaten Grobogan, selain terkenal memiliki tanah subur dan menjadi sentra tanaman padi, juga dikenal, terutama bagi penyuka minuman beralkohol, sebagai desa penghasil minuman keras yang kualitasnya patut diperhitungkan.

Arak yang dihasilkan di Desa Banjardowo ini memiliki beberapa tingkat ‘kekuatan’ alkohol. Ada tiga tingkat efek memabukan yakni super, sedang, dan biasa. Desa ini menjadi tempat kulakan sejumlah penjual dari berbagai daerah.

“Jumlah produksinya berbeda. Tergantung order dari pembeli,” ungkap Tarmuji, sesepuh dalam usaha pembuatan arak sekaligus pemegang izin home industry pembuatan arak dari Pemkab Grobogan.

Permintaan terbesar, menurut dia, ketika memasuki masa setelah lebaran yakni saat beberapa desa menggelar selamatan desa atau biasa disebut merti desa.

“Jika sedang apitan atau merti desa, banyak yang pesan sebelumnya. Maka otomatis banyak warga yang membuat. Tapi jika sedang musim tanam seperti sekarang, produksinya tidak banyak,” tambah Tarmuji, yang enggan menyebutkan berapa rumah yang memproduksi minuman keras tersebut.

Tarmuji menyangkal jika arak dari desanya membahayakan masyarakat. Menurut dia, yang membuat bahaya arak ini jika peminumnya melakukan penyalahgunaan ketika meminumnya.

“Ini (arak) jamu. Yang celaka itukan karena kuat-kuatan dan sok-sokan. Minumnya banyak dan dicampur dengan bahan neko-neko jadi bikin meninggal. Wong ini dibuat dengan bahan-bahan alami ada tape, gula merah, dan ragi yang dibuat dan difermentasi,” tambah dia.

Home industry pembuatan minuman yang masuk kategori minuman keras tradisional dibuat secara turun temurun. Bahkan, ada izin Tanda Daftar Perusahaan Perorangan (TDP) yang dikeluarkan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Grobogan atas usaha pembuatan minuman bahan kimia jenis etanol.

Izin bisnis industri rumahan Tarmuji bernomor : 517/1360/VIII/DU-01/2014 yang habis masa berlakunya hingga 24 Agustus 2019.

Saat mengunjungi bisnis araknya ini, Tarmuji sempat menunjukan piagam dari Direktorat Perguruan tinggi (Dikti). Piagam ini diperoleh Tarmuji ketika industri etanol Kabupaten Grobogan menjadi peserta workshopKemitraan Perguruan Tinggi dengan pemerintah daerah.

Pelatihan ini termasuk kepada program pengabdian kepada masyarakat di Tawangmangu pada Desember 2005.

Di wilayah Kabupaten Grobogan, arak Plumpung, dikenal sebagai minuman yang memunyai daya memabukkan tinggi. Dalam penyajiannya, rasa arak yang tidak begitu pahit dan cepat mengering di tenggorokan biasa dikombinasikan dengan bahan lain.

Seperti Arak mix yakni minuman arak dicampur dengan sari buah sehingga memunculkan sensasi rasa manis tetapi tetap memiliki daya memabukkan yang kuat.

Yang lebih dikenal bagi penikmat minuman berakohol, kombinasi yang diberi nama Kopi Solo yakni campuran arak dengan beras kencur yang dibuat sedemikian rupa mampu membuat peminum langsung mabuk.

Terkait jumlah produksi, saat polisi melakukan pemeriksaan ke salah satu rumah produksi. Diketahui dari satu rumah saja terdapat ratusan ember besar atau setara dengan ribuan liter sari hasil sulingan tebu yang sedang proses fermentasi untuk dijadikan arak.

“Jika hasil sehari dapat sekitar 10 botol itu sudah kerja dari pagi hingga maghrib (sore hari),” ungkapnya.

Taufan, pemilik rumah sekaligus pemilik ribuan liter arak mengaku, arak yang berada di gudangnya merupakan arak dengan berbagai usia fermentasi.

“Ada yang baru saja dikasih ragi itu yang dekat tungku. Ada yang baru 15 hari jadi masih menggumpal seperti ini,” ungkap dia didampingi istri.

Untuk harga jual, minuman berakohol tradisional dengan kualitas super dijual seharga Rp 90 ribu per liter. Untuk kualitas sedang, satu dirigen berukuran sekitar 22 liter dijual dengan harga sekitar Rp 250 ribu.

Di sela kesibukan dan hingar-bingar usaha minuman keras yang menasional,  anak-anak masih mampu menikmati masa kecilnya dengan normal walaupun tinggal di perkampungan yang memiliki udara yang bercampur dengan uap air bahan pembakaran arak. (Maya)