“Cross Border” Bukan untuk Membidik Wisman

“Cross Border” Bukan untuk Membidik Wisman

Festival Aruk di Kalimantan Barat. (Dok. Merdeka)

SHNet, Jakarta- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah mengembangkan pariwisata di daerah-daerah perbatasan (cross border) untuk menarik wisatawan mancanegara (Wisman) datang ke Indonesia.

Bahkan ada beberapa wilayah perbatasan masuk dalam program extra ordinary dari Kemenpar. Salah satunya adalah cross border di Kalimantan

Sebanyak 14 Festival Lintas Batas Kalimantan atau Festival Cross Border dirancang Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Kalimantan sepanjang 2019. Tujuannya membantu menjaring wisatawan asal Malaysia yang tahun ini ditargetkan bisa mencapai 1,4 juta orang melalui 4 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang ada di Kalimantan.

“Target 1,4 juta wisman Malaysia dari empat PLBN di Kalimantan itu bukan semata dari 14 Festival Lintas Batas Kalimantan 2019, pun dari berbagai even lain termasuk kunjungan lintas batas sehari-hari sepanjang setahun ini,” terang Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Adella Raung.

Menurut Adella, ke-14 Festival Cross Border (FCB) di Kalimantan tahun ini dua di antaranya sudah digelar yakni FCB Aruk di PLBN Aruk, Kalbar 23-24 Februari dan FCB Entikong di PLBN Entikong, Kalbar juga pada tanggal yang sama.

“Pas FCB Entikong di PLBN Entikong tanggal 23-24 Februari berhasil menjaring 5.269 wisatawan. Penyanyi yang ditampilkan pedangdut Cita Citata yang memang punya banyak fans dari Malaysia. Warga Malaysia di perbatasan suka lagu-lagu Indonesia terutama dangdut,” terang Adella.

Meski demikian, lanjut Adella, belum ada destinasi wisata terdekat dengan wilayah perbatasan. “Lokasi destinasi wisata umumnya jauh dari wilayah perbatasan. Mereka ke wilayah perbatasan umumnya untuk belanja, habis itu, pulang,” ujarnya.

Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengatakan, wisata di daerah perbatasan (cross border) tidak tepat untuk membidik wisman.

Cross border lebih cocok untuk menggerakan ekonomi masyarakat lokal supaya mereka tidak lari ke negara lain. Bukan untuk membidik wisman.,” ujarnya.

Wisman yang banyak datang ke Indonesia justru di perbatasan Atambua, NTT. Namun.kontribusinya bagi devisa negara masih kecil. “Cross border belum bisa mendongkrak dari sisi devisa. Tapi untuk mendorong ekonomi lokal,” kata Sapta. (Stevani Elisabeth)