Yang Menang Kepentingan Rakyat

Pidato Pertama Pejabat Presiden Jenderal Soeharto

Yang Menang Kepentingan Rakyat

Tidak Berjanji Apa-Apa Kecuali Kerja Keras Untuk Sukseskan Dwi Dharma Dan Catur Karya

Jakarta, 13 Maret 1967 – Pejabat Presiden Jenderal Soeharto dalam pidato sambutannya pada upacara peresmian penutupan sidang istimewa MPRS hari Minggu malam menyatakan bahwa keputusan yang telah dicapai SI MPRS adalah hasil permusyawarahan kita bersama.

Oleh karena itu tidak ada satu golongan yang mengalahkan golongan lain, tidak ada satu golongan yang menang terhadap yang lain tetapi yang menang adalah kita bersama, yang menang kepentingan rakyat, yang menang keadilan dan kebenaran, yang menang kita semua dalam menegakkan kembali Undang-Undang Dasar 45, yang menang adalah Orde Baru.

Sebelum pidato sambutan pejabat Presiden, oleh Sekretaris MPRS Letkol Abdul Kadir Besar telah dibacakan hasil ketetapan SI MPRS.

Kemudian diadakan upcara pengambilan sumpah dan pelantikan Jenderal Soeharto sebagai pejabat Presiden oleh Ketua MPRS Jenderal Nasution. Dibawah hening dan penuh khidmat, ditandatanganilah oleh pejabat Presiden yang baru, berita acara pengambilan sumpah yang kemudian disusul dengan penyerahan Keputusan/Ketetapan SI MPRS oleh Ketua MPRS kepada pejabat Presiden untuk dilaksanakan.

Dengan mendapat sambutan tepuk tangan yang riuh, Jenderal Soeharto mengatakan bahwa MPRS sebagai pemegang kedaulatan rakyat telah mengambil satu keputusan yang sangat tepat, sangat bijaksana dan sangat besar artinya bagi rakyat Indonesia dalam perjuangan selanjutnya untuk mengisi kemerdekaan ini dengan kebahagiaan, kemakmuran, dan kehormatan bangsa serta warganegaranya.

Apa yang kita capai dalam majelis ini adalah hasil musyawarah wakil rakyat yang terdiri dari semua aliran dan golongan. Oleh karena itu hasil musyawarah dari hikmah kebijaksanaan ini harus kita bawa semangatnya ke seluruh pelosok sampai mencapai ujungnya tanah air, sehingga benar tercapai persatuan dan kesatuan kita.

Sebagai yang dituntut oleh demokrasi Pancasila maka kita semua tanpa kecuali wajib melaksanakan hasil musyawarah ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Inilah pangkal tolak yang harus kita pegang teguh yaitu pangkal tolak persatuan pendapat yang harus dilanjutkan dengan kesatuan dalam tindakan.

Tanggung jawab bersama
Apabila kita sejak semula menyatakan tekad kita bahwa menyatakan Sidang Istimewa ini kita jadikan gelanggang untuk menemukan sarana untuk menghilangkan konflik situasi dan yang telah kita temukan dalam bentuk putusan yang kita sepakati bersama maka adalah tanggung jawab kita bersama pula untuk dapat membuktikan kemujaraban sarana yang telah kita pilih bersama itu, demikian oleh Jenderal Soeharto diperingatkan.

Dengan penuh kesadaran dari pada diri kita masing-masing dan dengan penuh permohonan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kita harus berusaha sekuat tenaga agar supaya dengan persatuan pendapat yang telah kita hasilkan dan miliki bersama itu, kita sekarang juga dapat lebih mengarahkan kemampuan serta perhatian kita kepada tugas dalam rangka memperlancar dan mensukseskan Dwi Dharma dan Catur Karya Kabinet Ampera yang telah diamanatkan oleh rakyat melalui sidang umum ke IV yang lalu yang sasaran utama dibidang ekonomi ialah meningkatkan kemampuan rakyat yang memenuhi kebutuhan pokoknya (sandang, pangan) sedangkan dibidang politik ialah penyelenggaraan pemilihan umum dalam rangka kemurnian kebidupan demokrasi berdasarkan Pancasila.

Mengenai usaha peningkatan daya mampu rakyat dibidang ekonomi pejabat Presiden mengatakan kita harus benar-benar sadar bahwa perbaikan ekonomi itu hanya dapat dicapai dengan bekerja keras dikeseluruh bidang kehidupan dan mencurahkan pikiran kita pada sasaran yang ekonomis sifatnya dengan sejauh mungkin menghilangkan hambatan, pemborosan dan lain hal yang efisien serta menemukan cara bekerja yang efektif dan produktif.

Pemilu bukan sekedar kumpulkan suara untuk dapat “kursi”
menyinggung soal pemilihan umum yang merupakan tonggak sejarah bagi kehidupan demokrai bangsa Indonesia, Jenderal Soeharto menyatakan bahwa secara terus terang kita harus mengakui, dalam pemilihan umum itu masing-masing partai, golongan akan berusaha sekuat tenaga untum mencapai kemenangan tetapi dilain pihak kita harus selalu sadar bahwa tujuan pemilihan umum bukanlah sekedar mengumpulkan suara untuk mendapatkan “kursi” sebanyak-banyaknya, melainkan ada tujuan yang lebih luas dan lebih tinggi yaitu untuk membawa suara rakyat yang akan mengatur rumah tangga negara, yang tahap demi tahap harus mampu membawa ketujuan pembentukan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Selanjutnya pejabat Presiden mengajak kita semua untuk terus membawa dan menyempurnakan jiwa dan semangat gotong royong, jiwa dan semangat yang tidak mementingkan diri sendiri, jiwa dan semangat toleransi yang telah ditunjukkan dalam sidang istimewa MPRS ini dalam persiapan dan pelaksanaan pemilihan umum.

Dalam persiapan dan pelaksanaan pemilihan umum itu nanti kita juga harus tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan yang menjamin konsolidasi Orde Baru. Perpecahan antara kita sesama kekuatan Pancasila hanya akan menghasilkan bencana sebab dalam keadaan perpecahan itu, sisa kekuatan G30S/PKI akan mengambil keuntungan.

Politik luar negeri bebas aktif
Ditegaskan kembali bahwa dengan hilangnya konflik situasi dan dualisme yang harus kita usahakan bersama dengan landasan putusan MPRS ini, kita akan lebih mengintensifkan usaha mengembangkan hubungan luar negeri kita yang dalam Kabinet Ampera ini telah dirintis sesuai dengan prinsip politik bebas aktif dan anti imperialisme, satu dan lain demi kepentingan nasional kita dan menguntungkan.

Hilangkan curiga-mencurigai
Dengan jalan pernafasan yang lega, pejabat Presiden Jenderal Soeharto menyerukan bahwa sesudah selesainya SI MPRS ini marilah kita bersihkan diri kita sendiri, marilah kita hilangkan salah paham, marilah kita hilangkan curiga-mencurigai yang memang sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh sisa G30S/PKI dan simpatisannya.

Hendaknya kita tidak lengah sedikitpun dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kegiatan gelap sisa G30S/PKI yang memang terbukti masih melakukan kegiatan gelap yang kegiatan pokoknya tetap berpola pada usaha fitnah, adu domba dan memecah belah serta memancing konflik baru antara kita dengan kita, antara sesama Orde Baru.

Penugasan dan kepercayaan untuk seluruh ABRI
Pada akhir sambutannya Jenderal Soeharto menyatakan bahwa kepercayaan penugasan dan kehormatan yang dilimpahkan kepadanya ini, sebenarnya adalah kepercayaan penugasan dan kehormatan untuk seluruh ABRI serta merupakan kelanjutan dari pemberian kepercayaan dan tanggung jawab kepada Pengemban Ketetapan MPRS No. IX yang telah dirasakan manfaatnya bagi seluruh rakyat dalam rangka mengamankan rakyat, bangsa, negara dan revolusi.

Pejabat Presiden Jenderal Soeharto mengatakan tidak akan menjanjikan apa-apa kepada MPRS khususnya dan seluruh rakyat umumnya, selain akan memberikan segala kemampuan untuk menyelesaikan Dwi Dharma dan Catur Karya Kabinet Ampera dengan sekuat tenaga dilandasi oleh tekad da itikad pengabdian kepada rakyat, bangsa dan negara.

Dijelaskan tugas kita masih berat, masih banyak yang harus diselesaikan dan kesulitan yang harus kita hadapi. Oleh karena itu kita harus giat bekerja untuk kepentingan rakyat. Orde Baru telah mencapai lagi satu kemenangan besar prinsipiel. Orde Baru pasti dapat mencapai tujuan cita-citanya.

Demikian akhir sambutan Jenderal Soeharto dan tidak lupa memanjatkan do’a semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi rahmat dan bimbingan kepada kita semuanya dalam tujuannya mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. (SH)