Pengacauan Kaum Rasialis Di Manado

Pengacauan Kaum Rasialis Di Manado

Gereja Centrum dilempari Batu, Toko Dan Klenteng Dirusak

Manado, 19 Maret 1970 – Ribuan massa rakyat/pemuda di Manado yang bulan lalu telah mengadakan pengrusakan dan pembakaran atas beberapa toko dan rumah tempat tinggal orang Tionghoa termasuk juga pengrusakan atas rumah ibadah klenteng Sam Kauw yang telah berusia 151 tahun.

Api yang menjilat gedung klenteng, baru dapat ddipadamkan Minggu siang, barang antik, teristimewa yang terbuat dari emas telah “diamankan” oleh para perusak dan sampai saat ini masih belum diketemukan kembali oleh pihak Kepolisian.

Atas timbulnya kerusuhan ini, pihak penguasa keamanan setempat segera mengeluarkan peraturan jam malam yang berlaku mulai dari jam 19:00 – 04:00.
keamanan berangsur-angsur dapat dipulihkan kembali berkat adanya kerjasama antara penguasa setempat dengan para alim ulama Islam, Kristen dan kini jam malam telah diundurkan menjadi jam 24:00 – 04:00.

Asal-Usulnya
Menurut keterangan yang dapat dikumpulkan oleh pembantu “SH” penyebab kerusuhan ini berasal dari senda gurau yang kemudian menimbulkan percekcokan antara pemilik toko penjahit “Tjoan Bie” dengan salah seorang tukang jahitnya pada tanggal 13 Maret yang bulan lalu. Oleh HW, pemilik toko disebelah “Tjoan Bie”, hal ini segera dibesar-besarkan sebagai “menghina agama Islam” yang mengakibatkan terbentuknya suatu delegasi umat Islam untuk menghadap ke kantor Komres 1901/Manado guna meminta pertanggung-jawaban.

Selesai menghadap Danres, massa yang kira-kira berjumlah 200 orang yang kemudian kian lama berangsur-angsur bertambah besar langsung menuju toko “Tjoan Bie” dan mulai mengadakan pengrusakan dan pembakaran. Perusakan ini merembet sampai pada pengrusakan 2 buah klenteng yang mengalami kerusakan berat.

Kerusuhan ini hampir saja meledak menjadi lebih hebat lagi, ketika sebagian massa yang mengadakan pengrusakan atas rumah makan “Samudra” mengalihkan sasarannya terhadap gereja “Centrum” yang kacanya dilempari batu. Akibat dari tindakan ini, ribuan pemuda Kristen segera bersiap-siap dan mengadakan penjagaan terhadap rumah ibadah (gereja) di kota Manado.

Pada malam Minggu itu juga, pihak Komdak XIX/Sam Ratulangi telah mengeluarkan seruan melalui RRI Manado dan pengeras suara keliling kota yang ditujukan kepada masyarakat kota Manado untuk tetap memelihara ketertiban dan keamanan serta waspada terhadap kemungkinan penunggangan situasi oleh golongan tertentu.

Malam itu juga, Pangdak XIX, Walikota Manado, para alim ulama, pemimpin parpol/ormas maupun pemuka masyarakat lainnya telah mengadakan pertemuan dengan Gubernur Sulut guna bersama-sama berusaha memulihkan kembali keamanan.

Supaya ditindak tegas
Sementara itu, dalam siarannya pada tanggal 15 Maret, tokoh masyarakat telah mengeluarkan seruan yang memintakan ketegasan pemerintah untuk menindak semua pelaku yang telah turut dalam tindak pidana pengrusakan massal pada tanggal 14 Maret itu. Diminta pula agar pemerintah menindak dengan tegas biang keladi yang telah mengorganiser peristiwa “14 Maret”.

Gubernur Sulawesi Utara atas nama pemerintah daerah sangat menyesalkan atas terjadinya pengrusakan terhadap toko/rumah tempat tinggal milik orang Tionghoa serta klenteng dan pelemparan batu terhadap rumah ibadah/gereja “Centrum”. Juga dikemukakan bahwa seharusnya tidak perlu timbul rentetan kejadian seperti itu mengingat pangkal peristiwa ini bersumber pada senda gurau yang mengakibatkan salah paham.

Sementara itu diperoleh kabar bahwa beberapa oran yang tersangkut dalam peristiwa ini telah berada dalam tahanan yang berwajib.
Dalam aksi rasialis itu, tidak ada yang tewas hanya beberapa orang Tionghoa yang mengalami cidera luka-luka. Korban materi masih belum dapat diperkirakan mengingat barnag yang dihancurkan atau hilang masih banyak yang belum dapat diketemukan kembali termasuk barang antik yang berada di klenteng.

Kedua kalinya
Menurut catatan pembantu “SH” peristiwa rasialisme tanggal 14 Maret itu adalah yang kedua kalinya di Manado setelah Gestapu/PKI.
Demikian pula pelemparan gedung gereja, pernah pula terjadi yakni yang dialami gereja Khatolik di daerah Tuminting, Manado kurang lebih dua tahun yang lalu. (SH)