Merdi Sihombing Iringi Langkah Para Model di TRESemme Bangladesh Fashion Week

Merdi Sihombing Iringi Langkah Para Model di TRESemme Bangladesh Fashion Week

MODEL - Merdi Sihombing (depan) saat menyanyikan lagu lawas mengiringi lenggak-lenggok model di Tresemme Bangladesh Fashion Week 2019, pekan lalu.

SHNet, JAKARTA – Hanya selang sepekan dari London, karya-karya Merdi kembali ditampilkan di TRESemmé Bangladesh Fashion Week. Sekitar 300 penonton yang memadati venue, tak hanya disuguhi 17 koleksi terbaru – termasuk 2 koleksi untuk pria – namun juga kebagian bonus mendengarkan lagu Apa Salah dan Dosaku” yang langsung dilantunkan oleh Merdi Sihombing untuk mengiringi langkah para model di catwalk.

 Tembang lawas ciptaan Bartje van Houten itu melahirkan suasana enerjik melalui irama jazz disco dan sentuhan musik Gondang khas Batak, tanah kelahiran Merdi Sihombing. Maheen Khan, presiden dari Fashion Design Council of Bangladesh mengundang saya mewakili Indonesia karena menilai Indonesia dan Bangladesh memiliki kesamaan  dalam menanggapi isu sustainable fashion,” kata Merdi usai show yang diadakan di  International Convention Centre, Basundhara, Dhaka, pekan lalu. 

 Sambutan hangat untuk karya Merdi Sihombing ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Rina P. Soemarno melalui keterangan resmi KBRI Dhaka. Masyarakat Bangladesh menurut Dubes Rina P. Soemarno sangat mengapresiasi kerajinan asli buatan tangan, sehingga tenun dan batik berpeluang besar untuk disukai masyarakat Bangladesh.

Upaya Merdi Sihombing mendorong fashion diplomacy yang mengedepankan sustainable fashion  berlanjut di Jakarta melalui diskusi interaktif bertajuk Saving Our Ocean: Re-thinking Our Lifestyle.  Diskusi berlangsung interaktif bersama dengan beberapa pelaku industri yang mengedepankan inisiatif dan produk ramah lingkungan seperti Hannah Nur Auliana dari Waste4Change dan Finalis Next Top Model Valerie dan Veronika.  

“Diskusi hari ini adalah langkah awal bagi Indonesia untuk lebih menunjukkan kepedulian dan ikut serta dalam gerakan sustainable fashion yang kini sedang berlangsung di seluruh dunia. Kita harus lebih proaktif karena pada dasarnya nenek moyang kita sudah mewariskan teknik-teknik pembuatan kain yang sangat ramah lingkungan,” kata Merdi dengan bersemangat.

Merdi juga berharap diskusi dan event serupa ini dapat menelurkan lebih banyak talenta-talenta muda di dunia fashion yang bersama-sama dapat melanjutkan pekerjaan besar yang telah digelutinya selama 15 tahun. Bersama tim, Merdi kini tengah menyiapkan sejumlah aktivitas yang akan terus mendorong dan menyuarakan prinsip sustainable fashion di Indonesia dan dunia. 

“Sudah saatnya bagi siapapun dari lintas generasi untuk merumuskan dan menerapkan sistem kerja yang cerdas dan tepat untuk membenahi sistem fashion – istilahnya fixing fashion system – untuk meluruskan praktik-praktik yang salah dalam dunia fashion. Saya optimis kita akan mampu melakukannya bersama-sama,” kata pria bernama lengkap Midian Sefnat Sihombing Hutasoit yang pernah mencatat rekor MURI atas penemuan teknik tenun dengan pewarna alam ini.  (Nonnie Rering)