Mendikbud: SMK Harus Bangun Tradisi Wirausaha

Mendikbud: SMK Harus Bangun Tradisi Wirausaha

Mendikbud Muhadjir Effendy bersama siswa SMK pada seminar SMK Menyongsong Revolusi Industri 4.0 di Grha Utama Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Kamis (21/3) lalu. [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus membangun suasana atau tradisi wirausaha untuk anak-anak. Para kepala sekolah agar lebih jeli melihat potensi siswa serta lebih intensif menumbuhkan minat kewirausahaan melalui berbagai terobosan pembelajaran. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan hal ini dalam sambutannya pada seminar SMK Menyongsong Revolusi Industri 4.0 di Grha Utama Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Kamis (21/3).

“Sekolah SMK itu harus membangun suasana atau tradisi wirausaha untuk anak-anak,” imbau Mendikbud.

Menurutya, siswa SMK yang berwirausaha juga harus dididik untuk berani mengambil risiko, seperti memanfaatkan layanan dari beragam lembaga pembiayaan yang tersedia untuk pengembangan bisnisnya. Dengan catatan, utang boleh dilakukan setelah melalui analisis dan perencanaan bisnis yang matang.

“SMK wajib lho memberikan pemahaman literasi finansial ke anak-anak kita,” pesannya.

Muhadjir pun bercerita pengalaman masa kecilnya yang diwarnai kegiatan berwirausaha untuk membantu orang tuanya ataupun mendapatkan uang jajan tambahan dengan berjualan telur dan es lilin. Baginya, pengalaman masa kecil itulah yang membentuk karakternya hingga dewasa. Dan di saat mendapatkan kepercayaan memimpin perguruan tinggi, semangat kewirausahaan yang dituangkannya dalam strategi pembangunan institusi membawa Universitas Muhammadiyah Malang lebih maju dan berkembang.

“Yang paling berhasil mendidik seseorang menjadi wirausaha itu bukan sekolah, tetapi keluarga. Keluarga itu punya tradisi, dan itu membentuk mental karakter anak,” tutur Mendikbud Muhadjir Effendy.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini berpesan kepada para kepala sekolah agar lebih jeli melihat potensi siswa. Serta lebih intensif menumbuhkan minat kewirausahaan melalui berbagai terobosan pembelajaran.

“Makanya, SMK itu cari anak-anak yang berasal dari keluarga yang punya tradisi wirausaha,” katanya.

Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan sambutan pada seminar SMK Menyongsong Revolusi Industri 4.0 di Grha Utama Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Kamis (21/3) lalu. [SHNet/Ist]

Praktik Baik Pembelajaran Kewirausahaan di SMK
Fitry Anita Rahman, siswi SMK Negeri 1 Cikalongkulon Cianjur, menjadi salah satu penerima sertifikat SPW dengan omzet Rp23 juta dalam 3 bulan. Ia mengungkapkan serunya berwirausaha.

“Mama sama Papa aku ‘kan pebisnis. Jadi aku pengin ngerasain apa yang mereka rasakan. Coba-coba, ternyata bisa berkembang. Ya dilanjutin,” katanya.

Siswi program Agribisnis Ternak Unggas ini awalnya meminjam modal sebesar Rp10 juta kepada orang tuanya. Kemudian dia mengawali bisnisnya dengan berjualan kosmetik, baju, dan produk bantal karpet berkolaborasi dengan pamannya.

“Kemarin untungnya hampir 17 juta. Udah bersih. Uangnya ditabung. Nanti kalo stok barang udah habis ya diputer lagi,” katanya.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengaku beruntung dibesarkan oleh orang tua yang juga memiliki jiwa wirausaha.

“Keluarga aku memang ngajarin aku untuk bisnis. Jadi aku juga ingin bisnis. Mama aku mendukung, sekolah mendukung, jadi aku semakin greget aja gitu,” ungkapnya.

Sekolah Memberi Keleluasaan Bereksperimen
Fitry mengaku tidak kesulitan membagi waktu antara berwirausaha dengan belajar. Sekolah memberikannya keleluasaan untuk bereksperimen melalui kelas khusus wirausaha.

“Di sekolah aku, khusus sekolah pencetak wirausaha itu dikasih waktu bebas dua puluh jam dalam seminggu. Kita bebas pakai untuk kegiatan wirausaha. Jadi gak kesulitan (membagi waktu),” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Cikalongkulon Cianjur, Sumariyah, mengungkapkan bahwa sekolah berkomitmen mendorong minat dan bakat siswa dalam berwirausaha. Baginya, pembelajaran kewirausahaan siswa SMK sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, serta menumbuhkan karakter positif siswa seperti kreativitas, kemandirian, dan bekerja keras.

“Untuk SPW sudah berjalan. Kami ‘support’ secara khusus. Dan kami datangkan narasumber dari luar secara khusus. Jadi tidak hanya mengandalkan guru-guru karena mungkin belum sampai tingkatan keahliannya,” kata Kepsek Sumariyah.

“Tidak hanya di ekstrakurikuler. Seandainya itu memang sangat dibutuhkan karena bakat anak sangat tajam, kami masukkan dalam intrakurikuler, mengambil jam tertentu yang ada kaitannya,” tambahnya.

Sumariyah mendorong siswa yang belajar wirausaha dapat mengelola usahanya secara profesional.

“Kalau mau usaha sukses jangan pakai manajemen warung. Dan saya bilang ke anak-anak dan guru-guru pengembang produk kreatif dan kewirausahaan (PKK),

“Jangan takut rugi. Ini praktik, ini pembelajaran. Yang penting itu Anda tahu kenapa kok rugi’,” tutur Sumariyah.

Dalam rangka menciptakan suasana yang mendukung penumbuhan kewirausahaan siswa, Sumariyah menjelaskan beberapa pendekatan kepada siswa.

“Kami di sekolah mendirikan bank mini untuk memfasilitasi siswa yang berwirausaha. Di samping itu, saya juga tekankan, buat OSIS, harus juga memiliki usaha. Anak-anak mengelola sendiri, ambil tanggung jawab. Guru hanya mengarahkan,” kata Sumariyah.

Menurutnya, sekolahnya saat ini sangat menunggu payung hukum BLUD dari pemerintah daerah. Ia menyampaikan hal tersebut saat menjelaskan pengembangan organisasi yang baru setahun terakhir dipimpinnya. (whm/sp)