Kemenpar Dukung Pengembangan Ekowisata di Wilayah “Heart of Borneo”

Kemenpar Dukung Pengembangan Ekowisata di Wilayah “Heart of Borneo”

Pertunjukan kesenian Kalimantan Utara di jumpa pers Visit The Heart of Borneo, di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Selasa (19/3). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Deputi Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani mengatakan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung program Heart of Borneo (HoB) untuk implementasi pengembangan ekowisata.

Heart of Borneo merupakan inisiatif pemerintah tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. “Penguatan HoB sudah 10 tahun lebih tetapi sebatas tanda tangan. Implementasinya di Indonesia masih rendah. Sehingga kalau bicara soal Borneo, orang langsung berpikir wilayah Malaysia,” ujar Rizki dalam jumpa pers Kampanye Visit the Heart of Borneo, di Jakarta, Selasa (19/3).

Visit The Heart of Borneo. (SHNet/stevani elisabeth)

Menurutnya, mengembangkan ekowisata harus melibatkan semua elemen masyarakat. “Ekowisata salah satu cara untuk melibatkan masyarakat. Jangan sampai mengembangkan ekowisata tidak diiukuti dengan mengembangkan masyarakatnya,”tuturnya.

Dia mengatakan, Pulau Borneo sebagai pulau terbesar ketiga di dunia yang memiliki sekitar 6% keanekaragaman hayati dunia. Sekitar 2/3 wilayah Borneo ada di Indonesia

Di areal hutan tropisnya terdapat spesies flora dan fauna mencapai ribuan variasi termasuk bunga raflesia dan beberapa fauna endemik seperti orangutan, gajah borneo (gajah terkecil di dunia) dan kera probocis.

Salah satu fauna yang ada di Taman Nasional Kayan Mentarang. (SHNet/stevani elisabeth)

“Daya tarik wisata di kawasan jantung Kalimantan sebagian besar masih natural,” lanjut Rizki. Ia menambahkan, Kalimantan menjadi prioritas pengembangan wisata lintas batas (cross border).

Menurutnya, wisatawan lintas batas tidak kenal waktu. Kemenpar hampir setiap bulan mengadakan acara di wilayah perbatasan seperti festival musik dan budaya.

“Kami tiap bulan adakan acara di perbatasan. Bahkan, saat ini kami dorong ada pasar-pasar yang beroperasi tiap hari di wilayah perbatasan. Pasar-pasar tersebut menjual barang-barang yang disukai oleh wisatawan dari Sabah,” ungkap Rizki.

Ke depan, lanjut Rizki, Heart of Borneo dapat digunakan untuk branding internasional. Menurutnya, mengangkat Borneo tidaklah sulit karena branding-nya sudah ada. Tinggal menggunakan branding internasional, kemudian diturunkan ke masing-masing provinsi.

Sementara itu , Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie menjelaskan, HoB merupakan daerah konservasi seluas 22 juta hektare. Dari luas tersebut. 16 juta hektare ada di Kalimantan, Indonesia.dan 5,1 juta hektare ada di Kalimantan Utara.

Mengapa HoB Indonesia kalah dengan Malaysia? Irianto mengatakan, ada beberapa penyebabnya. Pertama, terbatasnya infrastruktur. Menurutnya, Kalimantan lama ditinggalkan. Baru 4 tahun belakangan ini masyarakat di daerah perbatasan menikmati jalan yang beraspal mulus.

Kedua, kemampuan mempromosikan obyek wisata. Ia memberikan contoh, di Sabah sudah ada penerbangan langsung ke China. Sehingga setiap akhir pekan, rata-rata 20.000 wisatawan dari China datang ke Kinabalu. Sedangkan di Indonesia, hanya ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani penerbangan langsung dari Jakarta ke Tarakan.

Dia mengatakan, ekowisata dan wisata minat khusus cocok dikembangkan di Kalimantan Utara. “Serawak kalah dengan Indonesia. Di Taman Nasional Kayan Mentarang ada gajah terkecil di dunia, banteng dan burung enggang bisa jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujarnya. (Stevani Elisabeth)