Ekspedisi Tumbang Anoi 2019 Dibahas di Forum PBB di Bangkok

Ekspedisi Tumbang Anoi 2019 Dibahas di Forum PBB di Bangkok

Ist

SHNet, JAKARTA – Perwakilan Tetap Penduduk Pribumi Suku Dayak di  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Andrew Ambroses Atama Katama, bicara masalah masalah penting pembangunan ekonomi berkelanjutan di Bangkok, Thailand, Minggu, 24 Maret 2019.

Demikian Andrew Ambrose Atama Katama dari Bangkok, Sabtu pagi (23/3/2019), di sela-sela persiapan Forum Masyarakat Asia Pasifik untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Asia Pacific Peoples Forum For Sustainable Development (APPFSD).

Menurut Atama, APPFSD membawa Organisasi dan Platform Masyarakat Sipil untuk mengadakan konferensi masyarakat sebelum Pertemuan United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) dari Negara-negara Anggota tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Senin, 25 Maret  2019.

Atama Katama, mengatakan, Perwakilan Tetap Penduduk Pribumi Suku Dayak di PBB, untuk pertama kalinya tampil di Forum Masyarakat Asia Pasifik, bersama-sama menyelenggarakan Lokakarya Acara Samping yang berjudul “Krisis Iklim dan Keadilan: Tantangan berkelanjutan dalam memetakan pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat Asia dan Pasifik”.

Di Bangkok, Andrew Ambrose Atama Katama, memaparkan kondisi pembangunan berkelanjutan di Pulau Borneo, di wilayah Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. “Termasuk di antaranya kegiatan besar Penduduk Pribumi Suku Dayak di Pulau Borneo menggelar Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi Tahun 2019,” ujar Andrew Ambroses Atama Katama.

Diungkapkan Andrew Ambrose Atama Katama, usai pertemuan PBB di Bangkok, masalah Program Revitalisasi Kebudayaan Suku Dayak di Pulau Borneo, persiapan teknis dibahas di Sekretariat Penduduk Pribumi PBB di New York, Amerika Serikat, pada April 2019.

“Semua perwakilan penduduk pribumi di PBB, hanya bicara masalah kebudayaan. Tidak ada kaitan dengan politik praktis yang berlaku di negara masing-masing. Tapi khusus Kebudayaan Suku Dayak, melalui Program Revitalisasi Kebudayaan Suku Dayak lewat Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi Tahun 2019, baru pertama kali dibahas,” ujar Andrew Atama Katama.

Dijelaskan Andrew Ambrose Atama Katama, ide awal penyelenggaraan Ekspedisi Internasional Tumbang Anoi 2019, saat Bupati Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, berkunjung ke Cagar Budaya Rumah Betang Damang Batu di Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, Minggu, 14 Agustus 2018.

Inisiatif Bupati Bengkayang, Suryaman Gidot, disosialisasikan Borneo Dayak Forum Internasional di Sarawak dan Sabah, Federasi Malaysia, 31 Agustus – 3 September 2018. Presiden Borneo Dayak Forum International, Datuk Jefrrey G Kitingan, langsung menyatakan dukungannya, karena saat bersamaan dijadikan bahan pencetakan dan peluncuran Kalender Dayak Internasional Tahun 2020.

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot kemudian melaporkan rencana Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi kepada Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Cornelis di Pontianak, Minggu, 7 September 2018. Cornelis menyambut positif rencana tersebut.

Tim Kabupaten Bengkayang, kemudian diutuskan menemui Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran di sela-sela Tiwah Massal di Balai Kaharingan, Jalan Tambun Bungai, Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Sabtu, 7 Nopember 2018.

Selanjutnya, Wakil Bupati Sintang, Askiman, langsung menyatakan dukungannya saat digelar Temenggung International Conference di Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 28 – 30 Nopember 2018.

Untuk pertama kalinya, delegasi dari Provinsi Kalimantan Barat menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat Suku Dayak di Palangka Raya, Kamis malam, 31 Januari 2019, dengan sambutan positif sehubungan Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi 2019.

Ketua Panitia Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi 2019, Thoeseng T.T. Asang, mengatakan, kegiatan internasional Suku Dayak yang dipusatkan di Tumbang Anoi, murni kegiatan Budaya Suku Dayak.

Di Tumbang Anoi, Damang Batu, pada 22 Mei – 24 Juli 1894, bertindak sebagai tuan rumah pertemuan ribuan tokoh Suku Dayak di Pulau Borneo, dimana salah satu keputusan penting, menghentikan budaya perbudakan dan potong kepala manusia.

Dijelaskan Thoeseng, keluarga generasi Damang Batu, di antaranya Dr Yunikewaty Andel Emond, Dra Russaly Andel Emond dan Nande Andel Emond, bertindak pula sebagai tuan rumah pada Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi Tahun 2019.

“Kehadiran ratusan Suku Dayak dari luar negeri, kapasitasnya tidak lebih dari wisatawan berkunjung ke wilayah Indonesia. Puncak cara ekspedisi dikemas sedemikian rupa, untuk bisa menarik wisatawan berkunjung ke Tumbang Anoi,” ujar Thoeseng T.T. Asang.

Thoeseng T.T. Asang, mengatakan, kapasitasnya sebagai Ketua Ombudsman Provinsi Kalimantan Tengah, sangat memahami prosedur teknis penyelenggaraan kegiatan internasional, dimana dijamin di dalam Pasal 28 A dan E Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009,  tentang Hak Azasi Manusia.

Anggota Panitia Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi 2019, Tobias Ranggie, meminta semua pihak untuk melihat kegiatan Ekspedisi Internasional Tapak Tilas Tumbang Anoi 2019 secara positif, agar terhindar dari sikap abause of power pihak tertentu, karena tidak ada yang berhak melarang sebuah kegiatan masyarakat, selagi tidak bertujuan makar terhadap negara.

“Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi 2019, bukan kegiatan makar, tapi murni Kegiatan Budaya Dayak Internasional,” ujar Tobias Ranggie. (Aju)