Di Gunung Kidul, SKM Masih Diminum Sebagai Susu

Di Gunung Kidul, SKM Masih Diminum Sebagai Susu

Gunung Kidul – Heboh larangan mengkonsumsi susu kental manis atau SKM sebagai minuman susu tidak hanya dialami masyarakat di kota-kota besar. Di Gunung Kidul, masyarakat sudah mengetahui bahwa SKM tidak boleh digunakan dalam bentuk minuman, terutama oleh anak-anak. Meskipun masih ada balita yang mengkonsumsi SKM, namun orang tua sudah mengetahui informasi tersebut.

Eka, kader posyandu di desa Ponjong, Gunung Kidul mengatakan sejak ramainya pemberitaan tentang susu kental manis setahun yang lalu, masyarakat sudah banyak yang mulai menghentikan penggunaan SKM. “Sekarang sudah tahu semua, meski masih ada beberapa yang mengkonsumsi. Tapi tidak banyak,” jelas Eka saat ditemui kemarin. Diceritakan Eka, balita yang masih mengkonsumsi SKM sebagai minuman susu karena sudah terbiasa. “Karena sudah terbiasa, jadi mau dihentikan susah,” ujar Eka.

Meski SKM sudah tak dikonsumsi oleh anak, namun sebagian orang dewasa masih meminum SKM. Salah satunya adalah Ayu, warga Ponjong. Menurut Ayu, suaminya hingga saat ini masih mengkonsumsi SKM sebagai susu. “Kemarin ramai di TV, jadi tau kalau lebih banyak gulanya. Tapi karena sudah biasa dan rasanya enak, jadi suami saya tetap minta,” jawab Ayu. Ayu sendiri saat ini memiliki bayi berusia 2 bulan dan masih asi ekslusif.

Salah seorang pemilik warung di desa Ponjong membenarkan susu kental manis salah satu yang paling banyak dibeli tetangganya. Selain harganya yang relatif murah, produk yang tersedia dalam kemasan sachet menjadi alasan pembeli. Ditanya mengenai gizi balita di desa Ponjong, Eka mengakui masih ada beberapa yang berada di bawah berat badan normal berdasarkan usianya. Penyebabnya adalah asupan gizi yang kurang seimbang karena kebiasaan anak yang hanya makan makanan yang disukai. “Namun untuk bayi, kami sudah mengedukasi ibu untuk memberikan ASI, minimal sampai enam bulan,” tegas Eka.

Tahun 2018 yang lalu, sejumlah daerah di Gunung Kidul masih manjadi perhatian akibat angka stunting yang cukup tinggi. Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat ada sekitar 6.200 balita stunting di Gunungkidul tiap tahunnya. (Kurnia)