Desa Gondosuli Penghasil Lele Terbesar

Desa Gondosuli Penghasil Lele Terbesar

 

SHNet, Jakarta – Kabupaten Tulungagung penghasil ikan lele terbesar di Jawa Timur (Jatim). Lele Tulungagung dipasarkan ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Malang, Blitar, Nganjuk, Lamongan, Solo, Yogyakarta, Bali, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Tahun 2009 produksi lele sebanyak 6.419 ton, dan meningkat menjadi 9.764,95 ton pada tahun 2014. Adapun nilai penjualan lele tahun 2009 sebesar Rp 109,130 miliar, dan meningkat menjadi Rp 121,270 miliar pada tahun 2014.

Budidaya lele di Tulungagung berbasis masyarakat. Artinya, masyarakat yang memiliki dan mengelola tambak lele. Selain itu ada juga masyarakat yang memiliki lahan bermitra dengan pemilik modal dengan sistem bagi hasil. Hal ini berbeda dengan daerah-daerah lain di mana mayoritas tambak lele dimiliki pemodal besar, sedangkan masyarakat setempat hanya sebagai pekerja.

Dalam lima tahun terakhir banyak warga Tulungagung yang semula bekerja sebagai buruh di kota kemudian pulang kampung, dan beralih profesi menjadi pembudidaya lele, karena berbudidaya lele memberikan penghasilan yang jauh lebih baik dibandingkan bekerja sebagai buruh di kota.

Ikan lele merupakan salah satu alternatif komoditas unggulan air tawar yang penting dalam rangka pemenuhan peningkatan gizi masyarakat. Dengan keunggulan mudah dibudidayakan dan harganya relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, menyebabkan prospek usaha beternak lele digemari masyarakat. Bisnis lele ini meliputi bisnis benih, pembesaran, dan bisnis pasca panen.

Pasar utama ikan lele warung lesehan dan pecel lele. Di samping itu lele segar maupun aneka olahan ikan lele banyak dijumpai di restoran dan super market.

Sentra lele tersebar hampir merata di Tulungagung, dan yang terbesar di Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang. Salah satu sentra produksi lele terbesar di Tulungagung adalah Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang. Gondosuli berpenduduk 2.415 jiwa, dan 140 orang di antaranya adalah pembudidaya ikan.

Saat ini lahan budidaya ikan di Gondosuli mencapai ± 20,86 ha dengan kepemilikan lahan rata-rata setiap pembudidaya sekitar 1.000 m2. Secara umum kegiatan budidaya lele di Gondosuli dikembangkan oleh masyarakat di lahan di sekitar pekarangan rumah.

Namun, akhir-akhir ini terjadi perubahan paradigma usaha yang dilakukan, yakni sudah mulai banyak masyarakat yang mengembangkan usaha budidaya di areal-areal persawahan. Hal ini dikarenakan dari segi ekonomi usaha budidaya lele lebih menguntungkan dengan sistem pengelolaan yang cukup sederhana dan waktu budidaya yang singkat.

Model budidaya yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Gondosuli adalah dengan teknologi budidaya ikan di kolam terpal. Keunggulan yang diperoleh dari sistem budidaya ini adalah mudah dalam pengelolaannya.

Persiapan lahan seperti pengeringan lahan tidak membutuhkan waktu yang lama, karena tinggal menata dan membersihkan terpal yang dipergunakan. Keunggulan lainnya adalah kolam tidak mudah terkontaminasi oleh lingkungan, karena tanah tidak berpengaruh langsung pada media air yang digunakan. Dengan teknologi budidaya ikan di kolam terpal ini ikan yang dihasilkan tidak bau tanah.

Dengan lokasi budidaya yang terpusat tersebut, Gondosuli mendapat kemudahan dalam pengembangan usaha, terutama terkait jaminan pemasaran baik yang dari pedagang lokal maupun pedagang antar provinsi. Jaminan pemasaran ini secara umum berupa kepastian terserapnya lele dari kegiatan budidaya dan kestabilan harga jual.

Bahkan secara umum harga lele tingkat pembudidaya di Gondosuli lebih tinggi Rp 200 – Rp 300 per kilogramnya dibanding harga lele di luar Gondosuli. (Maya)