Cinta Para Penbuat Sagu di Balik Tradisi Barapen

Cinta Para Penbuat Sagu di Balik Tradisi Barapen

Ada cinta para pembuat sagu di balik tradisi barapen. (Dok. Humas Kemenpar)

SHNet, Tambrauw – Di Tambrauw, Papua Barat ada tradisi paling kuno, barapen yang menyimpan segudang kisah di baliknya.

Barapen, memasak dengan membakar secara besar-besaran, biasa dilakukan sebagai simbol dari rasa syukur dan persaudaraan. Mereka adalah para kaum pembuat sagu yang memiliki cinta dan kasih terbesar kepada sesamanya.

Menarik rasanya untuk terus mengulik bagaimana mereka bertahan hidup dalam balutan kesederhaan dan dekat dengan alam. Bagi beberapa orang, cara mereka hidup yang penuh kesahajaan dan menjaga keseimbangan hidup dengan alam, menjadi pengingat bahwa apa yang dilakukan manusia kepada alam, suatu saat akan dikembalikan alam lagi bagi manusia.

Cinta masyarakatnya kepada sanak saudara yang kembali pulang setelah lama merantau digariskan dalam tradisi barapen. Mereka adalah kaum pembuat sagu tradisional dan membakar makanan beramai-ramai dalam satu budaya bernama barapen yang kian kondang itu. Mereka terbiasa mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Bersama ikan kuah kuning, sagu menjelma menjadi makanan terenak di dunia.

Di Papua Barat, ada Distrik Werur yang menjadi tempat pembuatan sagu tradisional. Lokasinya dari Distrik Bikar dapat ditempuh dalam waktu 30 menit berjalan kaki. Area yang ditempuh ini sungguh menarik, siapa saja yang mau ke sana harus melewati permukaan tanah basah, rawa-rawa, dan sungai kecil.

Di sana, terlihat aktivitas warga yang sedang mengolah sagu dari bahan baku pembuatan sagu yakni pohon rumbia. Pertama, batang pohon rumbia dikuliti, bagian dalamnya ditempa menggunakan kapak kayu hingga hancur dan membentuk serabut. Selanjutnya, serabut rumbia yang diperoleh lantas dicampur dengan air dan diperas layaknya membuat santan.

Selanjutnya, akan ada seorang warga yang memeras bubuk bakal sagu tersebut di atas papan. Airnya mengalir melewati pipa kayu, lalu ditampung dalam wadah dan didiamkan beberapa hari. Nantinya, air tersebut akan menjadi sagu.

Untuk sagu yang sudah matang, sajian berupa bubuk sagu yang dimasukkan ke bilah-bilah bambu. Sagu itu dibalut dalam sayuran yang disebut sayur gedi yang rasanya seperti daun pepaya. Gedi dimasak dengan sagu tanpa bumbu apapun. Rasanya tawar, tapi tetap terasa segar. Umumnya gedi dan sagu disantap bersama singkong atau kasbi dan ayam hutan yang direbus dalam bilah kayu.

Masih seputar kuliner, masyarakat Papua memiliki sebuah tradisi bernama barapen yakni membakar beberapa jenis makanan untuk disantap bersama. Biasanya, bahan makanan yang digunakan yakni jagung, sayuran, dan beberapa jenis umbi.

Pertama, salah seorang penduduk akan menggali tanah, selanjutnya disebut sebagai kolam. Lalu dasar kolam ditata dengan beralaskan daun pisang, diatasnya ditata daging, sayuran dan umbi. Kemudian, bagian atasnya kembali ditutup dengan daun pisang.

Selanjutnya, warga mengambil batu yang dibakar hingga berwarna merah. Batu diturunkan di atas daun pisang sampai merata, hingga seluruh makanan yang dibungkus daun pisang itu matang.

Semua batu yang akan digunakan untuk memasak, dibakar dalam sebuah lubang yang dibuat di tanah. Teknis dalam memasak dengan Upacara Barapen biasanya dilihat dari panas yang sudah diterima oleh batu.

Ketika batu dirasa sudah panas, maka tumpukan batu akan dibuka sebagian. Lalu semua sayuran dimasukan ke tengah- tengah celah batu yang tadi dibuka dimana daging ditempatkan di tengah- tengah sayuran sebelum celah batu kembali ditutup.

Walaupun dimasak dengan cara yang berbeda dari makanan pada umumnya, makanan yang dimasak dengan cara barapen tetap terasa lezat. Menariknya, lemak daging yang dibakar bersama makanan lain itu pun hilang. Karena, lemaknya terserap ke dalam sayuran.

Tradisi Barapen adalah tradisi yang mengajarkan bagaimana cara menciptakan dan menguatkan kebersamaan antar sesama manusia di suatu daerah atau suku. Dalam pelaksanaan barapen, seluruh warga yang terlibat melaksanakan seluruh persiapan, proses, hingga upacara makan secara bersama.

Barapen biasanya juga dilakukan dalam rangka merayakan sanak saudara yang kembali pulang setelah lama merantau dan sebagai tradisi saat diadakannya upacara kematian. Inilah yang melatarbelakangi, makanan yang disantap dalam barapen biasanya berjumlah besar. (Stevani Elisabeth)