Cerita Warga Desa Juwangi, Dulu Susah Mendapatkan Air dan Kini Air Berlimpah

Cerita Warga Desa Juwangi, Dulu Susah Mendapatkan Air dan Kini Air Berlimpah

SHNet, Boyolali – Desa Juwangi ini letaknya di sebelah utara Kabupaten Boyolali, yang berbetasan langsung dengan Kabupaten Grobogan. Untuk mencapai desa ini dibutuhkan wantu dua jam perjalanan daru pusat kota Boyolali. Dan di desa ini, pernah kekurangan air bersih bagi warganya.

Pak Sumarno (81), bertahun tahun hidupnya susah dengan yang namanya air bersih dan setiap malam begadang hanya untuk mendapatkan air bersih yamg diambilnya dari mata air. Dalam antrian panjang untuk mendapatkan air, Pak  Sumarno hanya mendapatkan satu ember saja dan itu dilakukan hampir setiap malam antri air.

“Itupun antrinya sejak jam 02.00 wib malam, dan itu hanya untuk lebutuhan masak saja. Terkadang untuk minum kita harus membelinya ke Desa tetangga. Untuk.kebutihan sehari-hari seperti mandi dan BAB, jangan tanya lagi dari mana kita dapatkan air,” ujar Sumarno.

Hidup di desa yang kanan kirinya masih hutan itulah, warga desa Juwangi, Kabupaten Boyolali ini harus berlari ke hutan untuk BAB.  Tidak itu saja, bila musik hujan atau kemarau, warga akan semakin sulit untuk mendapatkan air bersih. Sumur-sumur gali masyarakat banyak yang kering, dan lagi masyarakat harus mengantri air dari sumur umum di Jolotundo.

“Dulu memang susah mendapatkan air, namun sangat beda dengan jaman sekarang yang kami semua warga desa hanya tidak buka kran air bersih sudah ada,” katanya lagi.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Desa Juwangi, Agus sangat berterimakasih kepada Program PAMSIMAS Jolotundo dan mengelola sistem penyediaan air bersih untuk minum di Desa Juwangi. Dengan adanya air bersih ini, kini setiap rumah sudah memiliki MCK dan tidak harus antri setiap malamnya.

Namun demikian, ujar Agus lagi, persediaan air bersih ini tidak hanya didapati oleh warga desa Juwangi saja namun juga ke desa-desa tetangga lainnya.

” Namun kalau bisa, bantuan air bersih ini tidak berhenti sampai di desa Juwangi saja namun hingga ke desa tetangga kami juga. Bantuan air bersih ini sendiri tidak lepas dari bantuan dari Program Pamsimas,” kata Kepala.Desa Juwangi, Agus.

Ketua Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAMS) Jolotundo Desa Juwangi Karmidi menjelaskan pada awalnya pada tahun 2008 dapat bantuan untuk membangun sumur bor dan tower air yang dapat mengaliri ke 254 saluran rumah (SR).

Kemudian KPSPAMS Jolotundo mengembangkannya pada tahun 2014 dengan menambah sebanyak 190 SR sehingga jumlahnya jadi 440 SR di akhir 2014.

Setelah itu, dengan dibantu Water.org, KPSPAMS Jolotundo mengajukan pinjaman Rp50 juta ke bank Boyolali pada akhir 2017 untuk pengembangan fasilitas SPAMS.

“Dengan bantuan pinjaman ini kami berhasil meningkatkan jumlah pelanggan. Sekarang jumlah pelanggan ada 525 SR, jumlah sistem 1 sistem (sumur bor dan reservoir),” jelas Karmidi.

Dia mengatakan, peran water.org adalah membantu memfasilitasi warga dengan pihak perbankan. Sehingga warga bisa mengajukan pinjaman untuk pembangunan Pamsimas dengan syarat yang ringan dan tidak dibebani agunan. Hanya memerlukan naskah kesepahaman (MOU) water.org dengan BPR Bank Boyolali dan pengelola SPAMS.

Dana pinjaman kredit dari BPR Bank Boyolali digunakan untuk pengeboran sumur air baru sebesar Rp13 juta, pembangunan rumah panel Rp10 juta, pembelian alat berupa pompa dan sejumlah panel sebesar Rp17 juta, dan pembayaran biaya listrik sekitar Rp5 juta pada tahap awal pengoperasian.

“Adapun iuran yang didapat dari warga yang telah memanfaatkan fasilitas air bersih setiap bulannya antara Rp8 juta-Rp10 juta, tergantung pemakaian,” kata Karmidi.

Setelah meninjau KPSPAM S Jolotundo, selanjutnya rombongan mengunjungi KPSPAMS Tirto Mukti di Desa Sumberagung, Kecamatan Klego, Boyolali.

Ketua KPSPAMS Tirto Mukti Gunadi menjelaskan, Desa Sumberagung terbagi atas 14 dukuh dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Desa Sumberagung kini telah memanfaatkan air tanah dalam sebagai sumber utama air bersih. Pada tahun 2008, desa ini mendapat kan bantuan program Pamsimas dari pemerintah untuk pembangunan infrastruktur penyediaan air minum perdesaan.

KPSPAMS Tirto Mukti terbentuk sejak 2008 dan hingga Januari 2019 sudah melayani total 1015 SR. Jumlah sistem yang dimiliki adalah 15 sumur bor dan 9 reservoir air, tarif air Rp1.500 per M3, biaya administrasi Rp4.000 per SR per bulan.

Pinjaman sebesar Rp50 juta yang didapat dari Bank Boyolali, digunakan untuk membangun pompa air dan tower baru. Sehingga dapat menambah sambungan air ke 186 saluran rumah (SR) baru.

“Biaya yang kami keluarkan untuk operasional tiap bulannya, yakni bayar listrik berkisar Rp10 juta-Rp11 juta, bayar cicilan kredit ke BPR Bank Boyolali sebesar Rp1,12 juta dan biaya tenaga pengukur meteran air, Rp1.500 per SR. Sedangkan pemasukan dari warga yang jadi pelanggan Rp18 juta-Rp19 juta tergantung pemakaian air.

Jadi kurang lebih sisa yang masuk saldo kas bersihnya sekitar 5 juta. Pada akhir bulan kemarin kami punya saldo kas Rp17 juta tapi kemudian kami gunakan untuk pembuatan sambungan saluran air baru ke warga yang belum terakses air bersih. Sisa saldo sengaja tidak banyak demi terus perbanyak sambungan baru,” urai Gunadi. (Maya)

.